My Teacher "I Love You"

My Teacher "I Love You"
Bunda Kecelakaan



Sesampainya di rumah sakit.


Jihan berlari di sepanjang lorong rumah sakit mencari ruang UGD tempat bundanya di tangani sekarang ini.


"Jay,," Panggil jihan ketika melihat adiknya yang tengah berdiri di depan sebuah ruangan.


"Kakak,,," Jay menoleh ke arah seseorang memanggil namanya


Jay langsung memeluk Kakak nya tersebut,meluapkan apa yang sedari tadi dia tahan.


"Kak,Jay gak bisa jaga bunda,Jay udah bikin bunda celaka kak. Maafin jay" Ucap Jay menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa bundanya


"Udah,,,lo gak usah nyalahin diri lo sendiri. Ini musibah bukan salah lo,lo jangan lemah gini,kasian bunda kalo liat kita seperti ini pasti bunda sedih" Jihan menenangkan Jay dengan memeluk nya


Jihan tidak menanyakan kronologis kecelakaan itu terjadi, karna sekarang yang di pikirannya adalah keadaan bundanya.


Beberapa saat kemudian,dokter keluar dari ruangan dimana bunda jihan di tangani.


"Dengan keluar pasien?" Tanya dokter


"Saya dok,gimana keadaan bunda saya dok,?" Jihan menghampiri dokter tersebut


"Pasien masih dalam keadaan kritis, terdapat pendarahan pada otaknya akibat benturan yang cukup keras,dan untuk tindakan selanjutnya kami akan melakukan operasi," ucap dokter menjelaskan


"Saya mohon dok selamatkan bunda saya" ucap jihan dengan airmata yang mengalir


"Saya akan melakukan yang terbaik untuk pasien, tapi sebelumnya saya harap nona melunasi dulu biaya administrasi nya,kalo bisa hari ini juga agar kami bisa secepatnya melakukan tindakan operasi" terang dokter itu lagi


Setelah kepergian dokter tadi jihan pergi menuju tempat administrasi,untuk menanyakan biaya operasi bundanya.


Betapa terkejut jihan saat mengetahui jumlah biaya tersebut,


"Dari mana gue bisa dapat uang 200 juta dalam waktu satu hari" ucap jihan yang tengah melamun sendirian di taman rumah sakit


Jiha mengambil motornya di parkiran berniat akan pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumahnya.


Tapi ketika jihan hendak keluar gerbang rumah sakit tersebut Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk


Jihan menekan tombol hijau setelah melihat nama yang tertera pada layar ponselnya


"....."


"Ya udah Kakak kesana sekarang," ucap Jihan mengakhiri panggilannya dan memarkir motornya kembali


Di depan Ruang operasi


Dari jauh jihan tampak melihat seorang wanita yang tak asing menurutnya sedang duduk di samping Jay bersama seorang pria paruh baya yang bisa di pastikan itu suaminya.


Karna melihat posisi mereka yang sekarang, dimana pria tersebut tengah memeluk wanita itu seperti sedang menenangkannya.


"Jay,," Panggil jihan pada adiknya


"Kakak,,, bunda masih menjalani operasi kak,kakak kenapa dari tadi susah di hubungi kak Ji kemana?" Ucap Jay


"Kakak lagi di taman,mungkin tadi kamu telpon pas Kakak lagi ngehubingin sahabat Kakak" terang jihan pada Jay


Jihan menoleh kearah dua orang yang duduk di samping adiknya tadi.


Setelah itu bergantian melihat jay dengan tatapan seolah mengisyaratkan sebuah pertanyaan


"Nanti jay jelasin,sekarang kita tunggu bunda dulu ya kak" kata jay mengerti maksud dari tatapan kakaknya


Jihan pun mengangguk mengerti dan mengikuti adiknya yang duduk di kursi ruang tunggu operasi tersebut.


Sekilas jihan mengingat wanita yang berada tak jauh darinya


"Bukannya itu ibu² yang tadi siang gue tolong di jalanan" batin jihan menatap wanita tersebut


"Kamu,,,Bukannya kamu yang tadi siang nolongin saya nak,kamu kok bisa di sini?" Tanya wanita tersebut yang sengaja melihat ke arah jihan waktu mau duduk


"Iya tante benar,saya yang tadi nolongin tante." Jawab jihan ramah


"Kamu kok ada di sini nak,kamu sedang apa,apa kamu kenal dengan mereka?" Tanya wanita itu lagi menatap jay


"Dia kakak saya tante,namanya kak jihan" kali ini bukan jihan yang menjawab tapi Jay


Wanita itu menoleh ke arah suaminya dan tersenyum yang di balas juga dengan senyuman oleh sang suami seolah mereka memikirkan sesuatu hal yang sama.