
Ke esokan harinya di sekolah
"Ji,lo udah ngerjain tugas kemaren gak,gue belum nih nyontek dong,plisss" Ucap dinda dengan wajah memelas
"Lo ya din,kebiasaan banget dasar pemalas" Timpal sofi
"Tuh ada di tas gue lo cari aja sendiri" Jawab jihan beranjak dari tempat duduknya
"Lo mau kemana ji,bentar lagi jam pelajaran mau di mulai" sofi memperingatkan
"Gue toilet bentar kebelet" jawab jihan meninggalkan kelasnya
"Ahh,,,leganya" ucap jihan pada dirinya sendiri keluar dari kamar mandi
Di tengah perjalanan menuju kelasnya jihan tak henti-hentinya mendengar gosip dari para siswa siswi tentang guru barunya itu.
"Emang seganteng apa sih sampek segitunya,kalo masih gantengan jungkook mah gak ngaruh buat gue" lirih nya bicara sendirian
jihan berjalan tanpa memperdulikan keadaan dan dengan sesekali bersenandung,membuat murid yang tersenyum melihat kelakuan aneh jihan.
Dari arah berlawanan seseorang tengah memperhatikan jihan dan tersenyum sinis melihatnya
bugh
"Awwh,,, Ya Ampun sakit banget pantat gue" lirih jihan berusaha berdiri
"Makanya kalo jalan tuh pakek mata" ucap seorang siswi yang berdiri tegak sambil berkacak pinggang di hadapan jihan
"Heh ondel² dewi sambi,dimana mana jalan tuh pakek kaki bukan mata" bantah jihan yang sudah berdiri tegak di tempat nya
"Gini nih kalo ngomong sama orang miskin,gak bakal ngerti" hardik gadis yang bernama dewi
"Gue miskin tapi bisa hidup mandiri,dari pada lo beban keluarga" Jawab jihan
"Beasiswa aja belagu" hina dewi
"Itu tandanya gue pintar, gak kayak lo main sosok,paling test lo aja hasil suap ya" ejek jihan
sedangkan dewi tampak menahan emosi dengan omongan jihan
Jihan pun berlalu pergi meninggalkan dewi dan kedua temannya, tp ketika jihan melewati nya dengan sengaja dewi menyiram minuman nya ke baju jihan.
"Lo,,, dasar dewi sambi sialan" jihan pergi menuju kelasnya dengan menahan emosi, buat jihan tak penting meladeni orang semacam dewi,yang ada malah makin panjang nanti urusannya.
Jihan berjalan menuju kelasnya sambil membersihkan bajunya yang terkena minuman dewi tadi,dan untungnya keadaan sekolah mulai sepi karena jam pelajaran sudah di mulai
"Tak ada toleransi bagi murid yang se enaknya keluar masuk,apalagi jam pelajaran saya." Teganya
"Lo,," tunjuk jihan pada guru barunya itu
"Kamu telat 3 menit jam saya,Sekarang kamu keluar dan tidak boleh mengikuti mata pelajaran saya" tegas nya tanpa ingin di bantah
"Ya Ampun pak,, tiga menit doang pelit amat" ucap jihan
"Tiga menit itu juga berharga buat saya,Saya tidak mau tau keluar sekarang" Sean menunjuk arah pintu
"Dasar manusia sombong,Bisa bisanya dia jadi guru gue" gumam jihan
"Ji,,, tunggu" ucap ubay berdiri menghampiri jihan
"Nih pakai jaket gue,ganti baju lo di Basecamp, di sana ada baju gue ganti gue" ucap ubay memakaikan jaketnya lalu memberikan sebuah kunci pada jihan
Jihan yang belum mengerti maksud ubay menoleh dan terkejut mendapati bajunya yang basah dan tembus pandang menampakkan dalemannya.
"Uhh,,,so sweet amat ayang gue,ya udah gue ke luar dulu ya byee,, jagain juga dua dayang gue takut jadi mangsa singa" Ucapnya sedikit keras melirik ke arah Sean berada
"Heh,,kamu buruan kembali ke tempat duduk,atau kamu mau saya hukum juga"
"Enggak dulu pak,,lagi puasa. Mungkin kalo udah gak puasa kita semua bakal minta di hukum bareng-bareng" jawab ubay
Yang di iringi tawa teman sekelasnya
Sean hanya menggelengkan kepalanya
Sedangkan Di sisi lain jihan tengah di taman melihat Arman Dan Razi bermain basket.
Arman Dan Razi juga mendapat hukuman karna terlambat, itu sudah kebiasaan mereka sebelum ke sekolah pasti mereka akan nongkrong terlebih dahulu,itu sebabnya mereka sering terlambat.
"Ji,,tangkap" teriak Razi sambil melempar basket ke arah jihan
"Huh,,lo ya zi,untung gue siap kalo enggak bisa penyok kepala gue" ucap jihan yang berhasil menangkap Bola tersebut
"Kita main yuk,udah lama kita gak main bareng" lanjut jihan yang di angguki oleh Arman Dan Razi
Tak terasa setengah jam mereka bermain basket tanpa mereka sadari lapangan yang tadi hanya ada mereka bertiga kini di kelilingi oleh para murid.
"Hah,, sejak kapan kita jadi tontonan" Ucap jihan memasang wajah bodohnya