
"Tumben lo datang kesini," ucap rendy saat melihat kedatangan sean
Sean hanya terdiam dengan pikiran yang kacau,dirinya juga tidak mengerti kenapa bisa bersikap seperti itu hanya Karna melihat rehan yang bernyanyi dan jihan yang melihatnya.
"Lo kenapa?" Rendy mengulangi perkataannya
"Lo berantem sama istri lo ya?" Selidik rendy lagi dengan keponya sedang Angga hanya terdiam menyaksikan keduanya,Angga cukup mengerti dengan sifat dan sikap sean makanya dia lebih memilih diam dan membiarkan rendy yang berbicara
"Menurut lo jihan masih mencintai rehan gak sih ren" Sean membuka pembicaraan
"Maksud lo gimana,kalo ngomong yang jelas jangan keliling" ucap rendy sambil menoleh menatap sean dengan serius begitu juga dengan angga
Sean menghela nafas kasar Lalu menceritakan dengan detail apa yang sedang terjadi
"Ya Ampun sean,,Gue akui lo pinter dalam segalanya,tapi lo bodoh kalo soal urusan hati" rendy menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mengusap wajahnya
"Sekarang jihan dimana?" Rendy menanyakan keberadaan jihan
"Di rumah" jawab sean singkat
"Dia tau lo kesini?" Tanya Rendy lagi dan mendapat gelengan kepala sebagai jawaban dari sean
"Ya Ampun sen,lo ya bener-bener gimana kalo jihan berpikir yang lain tentang lo,gue yakin dia pasti lagi mikirin sikap lo yang Tiba-tiba berubah" rendy tak habis pikir dengan sahabatnya itu
"Gue gak suka liat dia seperti tadi ren," kilah sean
"Yaa lo gak usah main pergi gitu juga kali sen,lo bisa ngomong baik-baik sama jihan,lo pulang sekarang sebelum terlambat,jihan bisa berpikiran jelek tentang lo nanti" ucap rendy mengingatkan
"Lo harus ingat,jika jihan berpikiran yang jelek tentang lo dan jika sampai jihan menangis apalagi kecewa sama lo,gue bisa pastikan rehan akan datang kembali untuk merebut jihan dari lo" lanjut rendy
"Jihan istri gue dan cuma milik gue,gue gak bakalan biarin siapapun merebut jihan dari gue" Ucap Sean dengan tegas
Sean langsung berdiri dan meninggalkan tempat tersebut tanpa pamit
"Dasar tuh anak,datang pergi seenaknya gak ngucap salam gak pamit pula" Kesal rendy
"Lo kayak gak kenal dia aja ren" kekeh Angga
"Lo dari tadi diam aja,sekarang baru ngomong" rendy melihat Angga dengan kesal
Di sisi lain
Hujan turun begitu derasnya,jihan tengah berada di dalam kamarnya dengan posisi yang memakai selimut menunggu kedatangan sean.
"Mas kamu kemana,kok aku telpon gak di angkat sih" ucap jihan sambil menatap layar ponselnya
Tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelar membuat jihan terlonjak kaget sambil meringkuk di bawah selimut
"Mas aku takut kamu dimana" jihan yang ketakutan mulai menangis,di rumah itu hanya di tempati jihan dan sean
Sedangkan sean tengah terjebak macet karna di depan terjadi kecelakaan yang mengakibatkan jalanan macet
Sean tidak menyadari panggilan jihan di ponselnya yang begitu banyak karna ponselnya di silent.
Ada rasa bersalah menyelimuti hati sean meninggalkan jihan sendirian di rumah dengan keadaan yang seperti ini.
Sedangkan jihan Kini sudah terpejam dengan membawa perasaan kecewanya jihan terlelap karna akibat dari kebanyakan menangis sampai melupakan rasa takutnya.
Hampir dua jam akhirnya sean bisa sampai di rumahnya
Sean membuka pintu kamar dengan sangat pelan,Pemandangan pertama yang Sean tangkap adalah jihan yang meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya
Sean mendekatinya dan mencium kening jihan.
"Kamu pasti ketakutan tadi,maafkan mas tadi tinggalin kamu sendirian" sean membelai rambut jihan dengan lembut,lalu mengganti pakaiannya dan ikut berbaring di samping jihan sambil memeluknya
Jihan membuka matanya dan merasakan pelukan dari suaminya.
Jihan melihat ke samping dimana sean tengah tertidur pulas.
Jihan kembali teringat dengan sikap sean semalam membuat nya kembali merasakan kecewa.
Jihan bangun dengan sangat pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan sean.
Setelah siap dengan semuanya jihan yang sudah rapi dengan pakaian sekolahnya pergi meninggalkan kamarnya dengan sean yang masih tertidur.