
Mareka berkumpul di ruang tamu rumah sean,hari ini mereka habiskan bersama.
Rumah yang biasanya hanya ada sean dan jihan kini terasa nyaman dengan kehadiran sahabat sean dan jihan.
"Armannn,," Teriak dinda dari arah sambil berlari menuju dimana arman berada.
Mereka menatap dinda dengan aneh,tampak sofi yang ikut berlari di belakang dinda,jihan yang sudah menebak apa yang terjadi di antara dinda dan sofi hanya bisa menggelengkan kepalanya,melihat tingkah kekanakan dua sahabatnya.
"Kalian berdua sekali-kali bisa kalem dikit gak sih?" Ucap ubay
"Diem lo" Ucap dinda yang kini berada di belakang arman,menggunakan badan arman untuk berlindung dari sofi.
"Sini gak lo" Sofi berdiri di hadapan arman sambil terus berusaha menjangkau dinda yang berada di belakang sofa
"Enggak mau,lo pasti mau lempar gue dengan itu kan" ucap dinda sambil menunjuk telur yang di pegang sofi menggunakan wajahnya
"Kalian ini memalukan sekali" Timpal razi
"gaya lo kayak gak malu-maluin aja zi" Sofi memukul bahu razi Dengan cukup keras
Jika sudah seperti itu mereka lebih memilih untuk diam,dari pada menjadi sasaran selanjutnya diantara mereka berdua.
"Assalamualaikum,,,"
"Wa'alaikum salam,," Jawab isi rumah dengan kompak
"Bundaa" Ubay langsung berlari kecil kearah bunda Ais yang baru saja datang bersama dengan mommy sarah dan daddy Sakha
Mereka bergantian menyalami tangan ketiga orang tersebut.
Saat Dinda hendak berbalik menuju arah dapur,tampak senyum devil sofi yang di liat oleh razi dan jihan juga yang lainnya.
"Lo mau apa sof" Tanya razi
Tanpa Aba-aba sofi langsung melempar telur yang tadi di pegangnya pada dinda,
"Kenak lo yaa" Ucap sofi kencang
"Lo,,apa-apaan lo lempar gue pakek telur" Terdengar suara laki-laki yang cukup menggelegar di pintu masuk dapur ruang makan.
Mendengar itu sofi dan lainnya langsung menoleh,Betapa terkejutnya mereka saat melihat siapa yang mendapat lemparan itu.
Sofi yang terkejut hanya bisa melebarkan matanya dengan mulut yang seolah terkunci.
Sedangkan yang lain tampak terlihat tegang namun berbeda dengan sean,Angga dan rendy.
Sedangkan ketiga orang tua yan baru saja mendudukkan tubuhnya di sofa tampak terlihat bingung dengan apa yang sedang terjadi di depannya.
Andi yang merasa geram menatap sofi dengan tajam,andi berjalan ke arah sofi yang berdiri di samping sofa
"Mampus gue" gumam sofi sambil menggigit bibirnya menatap andi yang menatap tajam padanya
"Ma,,maaf om saya gak sengaja" Sofi memberanikan diri menatap andi yang kini semakin tajam menatapnya
"Dasar bocah nakal"
"Ampun om,,ampun aku gak sengaja tadi mau lempar dia,,iya dia itu orangnya" ucap sofi sambil menunjuk dinda yang ternyata sedang mengintip dari balik pintu.
andi dan lainnya mengikuti arah tunjuk sofi dimana dinda berada dengan posisi memeluk tembok dan kepala yang menyembul keluar.
Karna merasa tertangkap basah dinda akhirnya keluar dengan langkah yang pelan
"Dia yang salah om,ayo jewer juga dia om masak aku doang" Sofi menyuruh andi menjewer dinda juga
"Kamu yang melempar saya kenapa harus teman kamu yang harus saya jewer" Ucap andi semakin mengeratkan tangannya di telinga sofi
"Aduuhh om sakit tau,kalo telinga saya putus gimana,,mau
"Mau sekaya apapun lo kalo telinga gue putus gak bakal bisa menyambungnya" Ucap jihan dan sahabatnya bersamaan
"Nahh,,bener om apa yang di katakan sahabat aku itu,ayo om lepasin" Sofi memegang tangan andi yang berada di telinganya
"Satu lagi,jangan panggil gue om,gue gak perna nikah sama tante lo apalagi dengan yang lain" Terang andi
"Aku kira udah om om punya istri dan anak,ternyata bujang lapuk" tanpa sadar sofi mengucapkan itu
Yang lain hanya bisa menahan tawa mendengar apa yang dikatakan oleh sofi
"lo bilang gue apa," Geram andi
"Maaf om,aku pikir tadi aku ngomong di dalam hati,,maaf yaa pliiss" Mohon sofi
"Panggil yang bener" Kata andi
Sofi tampak berpikir dengan apa dia harus memanggil andi
"Iya pak"
"Gue bukan bapak lo" Sanggah andi
"Oke,,okee,,maafin ya bang,,"
"Gue bukan abang abang,abang abang itu panggilan buat orang yang biasanya jualan sayur jualan bakso,gue gak suka" Timpal andi lagi
mendengar itu sofi hanya bisa menghela nafas
"baiklah,,,kakak,ya kakak aja biar sama kayak kak rendy dan Angga,meski masih baikan mereka" Ucap sofi lagi
"Gue nyuruh lo manggil gue yang bener bukan nyuruh lo bandingkan gue dengan mereka" Ucap andi yang makin geram
"Iya iyaa,,Kakak dokter yang baik hati,maaf yaa" Dengan malas sofi mengucapkan itu
"Anak pintar" Andi melepaskan tangannya di telinga sofi
"Aduuhhh,,leganya hampir aja lepas telinga gue" sofi mengusap telinganya yang terasa panas