My Sunshine

My Sunshine
Kejutan



Pertarungan sengit itu pun akhirnya berakhir. Zidan dan juga Dion bahagia, meskipun sedikit kecewa.


Keinginan mereka untuk mematahkan sendiri tulang-tulang orang yang telah berani membunuh orang tua mereka tidak kesampaian. Tetapi mereka tetap senang. Karena masalah yang mereka hadapi telah mencapai titik terang.


***


Sebulan kemudian...


Zidan tidak mengizinkan Raka kembali ke Surabaya. Pria tampan ini diam-diam memindahkan sang putra ke sekolah Internasional. Meskipun sebelum mengambil keputusan itu, Zidan sudah berkoordinasi dan meminta persetujuan dari putra kesayangannya. Namun tidak kepada ibundanya, karena Zidan sengaja memberikan wanita itu pilihan.


Jika mau tetap bersama Raka, maka mau tak mau dia juga harus mau ikut dengannya, tinggal di Jakarta dan harus mau ia nikahi. Zidan kesal, karena beberapa kali ia mengajak wanita itu menikah. Namun selalu ditolak. Dengan alasan takut memulai sebuah pernikahan. Nandita takut tidak bisa membuat seorang Zidan bahagia.


Bukankah itu alasan yang menyebalkan.


Siang yang indah, sesuai dengan kesepakatannya dengan sang putra, Zidan pun meminta Raka untuk membujuk kekasihnya itu atau lebih tempatnya memaksa wanita itu ke datang rumahnya. Ya, Zidan berniat menjebak wanita itu untuk agar mau menjadi istrinya. Karena Nandita tidak seperti yang ia kenal. Sekarang lebih protektif terhadap dirinya sendiri. Entahlah ... Zidan bingung dibuatnya.


"Kenapa ayahmu sekarang pemaksa sekali, Raka?" tanya Nandita di sela-sela panggilan telpon antara dirinya dan sang putra.


"Entahlah, Bun. Ayah sekarang tukang marah. Suka marah. Dikit-dikit marah. Raka saja dimarahin terus, Bun. Salah terus pokoknya," jawab Raka, sambil memberikan kode pada sang ayah bahwa dia telah menjalankan apa yang sang ayah perintahkan kepadanya.


"Apa? kenapa bisa begitu? Raka... pokoknya kalo ayahmu marah-marah terus, kamu pulang saja ke Surabaya," ucap Nandita kesal.


"Mana boleh, Bun. Di rumah ayah pengawalnya berbadan besar-besar. Mana mungkin Raka bisa kabur. Bunda ke sini lah. Tolongin Raka!" ucap bocah ini lagi. Berpura-pura. Sedangkan Zidan berkali-kali memberikan dua jempol atas akting sang putra.


"Kenapa ayahmu begitu, Raka? Di mana dia sekarang? Sini, biar Bunda bicara!" pinta Nandita.


"Maaf, Bun. Ini Raka sedang di kamar. Ayah sudah berangkat kerja. Ayah sekarang jarang mau ngobrol sama Raka. Raka minta ayah buat beliin Bunda tiket ya. Ayolah Bunda, jangan bertengkar sama ayah terus. Jangan marahan sama ayah terus. Bunda nggak kasihan sama Raka. Raka, Bun yang dimusuhin ayah," bujuk Raka lagi.


"Kenapa pria itu sekarang menyebalkan begitu? Memangnya siapa dia?" gerutu Nandita kesal. Sedangkan di seberang sana, Raka dan juga Zidan malah tertawa lirih.


"Raka!"


"Ya, Bun!"


"Apakah ayahmu memberimu makan? Menyekolahkan mu? Emmm... mengizinkanmu main ketapel?" tanya Nandita.


"Tidak, Bun. Mana mungkin, ayah akan Membebaskanku seperti apa yang Bunda lakukan. Ayah itu tidak seperti itu, Bun. Ternyata ayah banyak aturan dan Raka tidak suka dengan itu. Ayolah, Bun... jemput Raka," jawab Raka berbohong. Tentu saja, jawaban Raka membuat seorang Nandita geram dan kesal terhadap pria yang telah memberinya satu putra tersebut.


"Oke, ayahmu memang keterlaluan Raka! Lihat saja, Bunda bakalan bikin perhitungan dengannya. Berani sekali dia mengekang kesayangan Bunda. Sabar ya, Nak. Besok Bunda dateng. Biar Bunda marahin tu pria dingin nggak tahu malu," ucap Nandita berjanji.


"Ya, percayalah!" jawab Nandita.


***


Keesokan harinya...


Zidan, Raka, Pak Rudi dan Ibu Kartika ternyata sudah menyiapkan sebuah pesta pernikahan untuk memberikan kejutan bagi seorang Nandita. Lebih tepatnya menjebak wanita itu agar mau menikah dengannya.


"Ayah siap?" tanya Raka di sela-sela persiapan sang ayah memakai baju jas yang telah disiapkan oleh Dion, sang asisten sekaligus sang adik angkat.


"Apa Raka percaya? Ayah merasa seperti mau disidang. Bahkan rasanya lebih parah," jawab Zidan jujur.


Raka hanya tertawa ketika mendengar keluguan sang ayah.


"Apakah ayah tahu? Medan perang ayah bukan hanya hari ini, tapi nanti.... nanti setelah Akad nikah ini, Yah. Ayah pasti akan merasakan hidup seperti Raka. Makan harus teratur, tidak boleh tidur telat, belajar harus rajin dan yang paling pokok, dilarang telat sholat. Beeehhhhh... taring Bunda bisa keluar tanpa permisi kalo sampai ayah telat sholat. Lihat aja nanti," jawab Raka, antusias.


"Benarkah? Apakah Raka serius kalo wanita itu seperfect itu?" Zidan mengkidik ngeri.


"Yes! Raka nggak boong, Yah! Coba aja kalo Ayah nggak percaya, Ayah bakalan tersiksa dengan peraturan-peraturan Bunda yang super ribet itu," ucap Raka, sengaja menakut-nakuti sang ayah.


"Ahhh, tidak masalah, ada kamu di pihak, Ayah. Ayah yakin pasti bisa melawan wanita cengeng itu. Iya kan?" jawab Zidan.


"Asalkan Ayah tidak menduakan Bunda, Raka bakalan tetap di pihak ayah, oke!" jawab Raka. Lalu mereka berdua pun terkekeh senang.


***


Di lain pihak, Nandita diam terpaku, ketika memasuki ruang tamu rumah yang milik pria yang memacari nya itu


Antara terpesona dan bingung. Sebab dekorasi ini seperti untuk acara pernikahan.


Lalu siapa yang hendak menikah? batin Nandita heran..


Bersambung....


Sambil nunggu update, yuk kepoin karya bestie aku🥰🥰🥰Semoga sukak😘😘😘