
Zidan telah sampai di kediaman Kartika. Terlihat wanita itu sedang mondar-mandir di ruang tamu. Mungkin menunggunya. Dengan cepat pria tampan ini pun mendatangi wanita tersebut. Begitupun dengan Raka. Bocah tampan ini pun ikut berlari kecil di belakang sang ayah untuk mendekati wanita tersebut.
"Assalamu'alaikum!" sapa Zidan.
"Wa'alaikumussalam!" balas Kartika. Wanita paruh baya ini pun membalikkan tubuhnya.
"Astaga! Kalian lama sekali!" ucap Kartika lagi.
"Maaf, Bu. Jalanan macet!" jawab Zidan jujur.
"Oke, mari kita pergi. Jangan menunggu waktu lagi!" ajak Kartika. Kemudian ia pun meraih tas tangannya dan mengajak kedua pria beda generasi itu untuk keluar dari rumahnya.
Mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil milik Zidan. Tak banyak bicara, pria ini pun langsung menyalakan mobilnya dan segera melajukannya.
"Kita ke mana, Yah?" tanya Raka, yang saat ini berkerja sebagai asisten Zidan yang bertugas mencari jalan melalui Map.
"Langsung ke rumah kedua penculik itu saja!" saut Kartika.
Raka dan Zidan saling mentap. Sebab sebelum ini, mereka sudah membicarakan kemungkinan yang akan terjadi.
"Maaf, Ti. Kemungkinan bunda tidak dibawa ke sana," jawab Raka tanpa melihat neneknya.
"Lalu? Di bawa ke mana?" tanya Kartika.
"Jadi begini, Bu. Sebenarnya kedua orang tua Dita termakan hasutan oleh seorang wanita yang mengaku istri Zidan. Padahal demi Tuhan, dia bukan istri Zidan, Bu," jawab Zidan serius.
Kartika diam.
"Wanita itu mendatangi keluarga Nandita. Bukan hanya itu, Bu. Dia juga memgitnah kami tinggal satu rumah tanpa ikatan," tambah Zidan.
Kartika masih diam, berusaha memahami masalah yang sebenarnya membelit Zidan dan Nandita.
"Apa yang harus Zidan lakukan, Bu? Sepertinya berbicara dengan mereka tidak mudah. Mereka mudah sekali terbakar emosi. Mudah sekali dihasut." Terlihat Zidan menghela napas dalam-dalam. Sepertinya perasaanya kembali dikepung oleh rasa takut.
"Apakah mereka memiliki bukti dengan tuduhannya itu?" tanya Kartika.
"Zidan tidak tahu, Bu. Karena mereka tidak menunjukkan bukti dari ucapan mereka," jawab Zidan. Masih berkonsentrasi dengan jalanan yang ada di depannya. Sedangkan Raka hanya diam, sebab baginya ini adalah urusan orang dewasa. Meskipun begitu, bocah tampan ini berusaha memahami dan mencari solusi serta menimbang mana yang salah dan mana yang benar.
"Baiklah, jadi mereka datang dengan tangan kosong dan langsung menghakimi kalian?" tanya Kartika memperjelas apa yang terjadi.
Kartika diam sesaat, lalu ia pun kembali berucap. "Maaf, Zidan. Jika begitu masalahnya, Ibu tidak bisa membantu. Karena siapapun yang membaca kasusmu, pasti akan menilai jika bisa saja wanita yang mengaku istrimu itu adalah sebuah kebenaran atau bisa jadi dia berbohong. Jujur, Ibu sendiri jasi ragu. Sebab Ibu tak tahu kebenarannya. Jadi menurut Ibu, kamu harus berusaha sendiri, untuk membuktikan kebenaran yang kamu yakini. Kamu mengerti Zidan?" jawab Kartika tegas.
"Iya, Bu. Zidan mengerti. Saya akan buktikan jika saya tidak seperti yang mereka tuduhkan," jawab Zidan yakin.
Beberapa menit berlalu, suasana di mobil kembali hening. Zidan menurut pada Kartika untuk membawa mobil yang ia kendarai ke kediaman keluarga kandung Nandita. Namun, selang berapa menit ponsel Zidan berdering. Pertanda ada yang sedang mencarinya.
"Yah, om Dion!" ucap Raka memberitahu.
"Angkat aja, Dek. Semoga saja berita baik!" jawab Zidan dengan penuh harap.
Tak banyak bertanya, akhirnya Raka pun menyambut panggilan telepon dari Dion dan bertanya apa yang terjadi.
"Hallo Om. Ini Raka, Ayah sedang menyetir," ucap Raka memberitahu.
"Oke Raka, bilang sama ayahmu kalau On sudah menemukan di mana ibumu. Mereka membawanya ke daerah terpencil. Entah apa nama daerah itu. Tapi Om sudah share lokasi, dan ada beberapa teman Om yang menunggu kalian di sana. Bilang sama ayahmu juga, kalau Om dalam perjalanan ke sana!" ucap Dion menjelaskan detail hasil kerjanya sekaligus apa yang ia lakukan sekarang.
"Baik Om akan Raka sampaikan!" jawab Raka.
"Bagus! Ingat Raka, Natalia sangat licik. Bisa saja sebelum sampai di sana kalian akan dihadang oleh orang-orangnya. Tapi kalian jangan takut, di pertigaan sebelum masuk ke daerah tersebut Om sudah menyiapkan beberapa teman Om untuk mengawal kalian. Nomer kontak ketua gengnya juga Om share ni nomer pribadi kamu sekaligus nomer ayahmu. Hubungi mereka segera jika ada apa-apa, mengerti Raka!" ucap Dion lagi.
Raka tersenyum, sebab ia senang dengan apa yang dikatakan oleh Dion. Raka jadi banyak belajar dari pria itu, betapa ia selalu berusaha sempurna untuk segala hal. "Baik Om, Raka mengerti. Terima kasih ilmunya Om," jawab Raka dengan senyum merekah. Membuat Zidan heran.
"Baik Raka, pesawat Om udah mau take off. Om matiin dulu ponselnya. Oia jangan lupa berdoa, serta ingatkan ayahmu untuk selalu waspada," tambah Dion lagi.
Raka yang sudah paham dengan apa yang Dion sampaikan hanya menjawab 'Iya' dan berjanji akan mengingatkan sang ayah agar waspada. Serta mengikuti apa yang Dion katakan.
"Om Dion udah share lokasi di mana bunda berada, Yah. Tapi kata om Dion kemungkinan di sana juga ada penjahat yang mungkin akan menghalangi kita," ucap Raka, sesuai dengan apa yang Dion katakan padanya.
"Astaga, wanita itu!" ucap Zidan kesal. Ingin rasanya pria ini mengutuk wanita itu. Mengeluarkan sumpah serapahnya. Namun, tak mungkin baginya untuk mengeluarkannya sekarang. Sebab di sampingnya ada seorang bocah yang mengharuskan dirinya menjaga sikap, bahasa dan tutur kata. Kepleset sedikit bisa-bisa Nandita akan marah padanya.
Zidan bersyukur masih ada orang-orang yang peduli padanya. Meskipun pada akhirnya ia harus tetap bekerja keras untuk mengembalikan kepercayaan mereka padanya. Setidaknya orang-orang tersebut tidak langsung menghakiminya seperti kedua orang tua Nandita. Contohnya Raka dan Kartika sendiri.
Bersambung....
Jangan lupa like komen n Votenya ....