
Keesokan harinya....
Malu tapi mau, itulah kata yang pas untuk menggambarkan suasana hati kedua insan yang seharian ini hanya saling melempar senyum tanpa mau berbicara satu sama lain. Membuat bocah yang kini berada di tengah-tengah mereka jadi bingung.
"Perasaan ayah sama bunda dari tadi diem-dieman! Kenapa Yah? Kenapa Bun? Kalian berantem lagi? " tanya Raka kritis.
"Nggak! Kita lagi nggak ada apa-apa! Nggak marahan juga, " jawab Nandita.
Sedangkan Zidan hanya tersenyum.
Raka kembali menatap ibu dan ayahnya. Masih dengan tatapan curiga tentunya.
"Kenapa?" tanya Zidan.
"Entahlah, Ayah sama Bunda aneh." Raka mulai memfokuskan kembali pandangannya pada laptop yang ada di depannya.
"Aneh kenapa to? Dari tadi Bunda diam-diam saja," jawab Nandita.
"Justru kalau Bunda diam, itu artinya lagi ada masalah! Kenapa, Bun? Ayah bikin Bunda kesal lagi?" cecar Raka. Seperti seorang ayah pada anaknya.
"Nggak! Ayah nggak nakal. Ayah jadi anak baik hari ini. Iya kan Bun?" balas Zidan, tak lupa pria ini juga meminta pembelaan Nandita.
"Dih, minta dibela. Mana Bunda tahu!" jawab Nandita menghindar. Karena pada kenyataannya, ia jadi rikuh begini karena keisengan Zidan.
"Ih, Bunda gimana sih?" timpal Zidan sembari mencubit manja lengan Nandita.
"Ih, sakit, Yah. Apaan sih!" balas Nandita, spontan wanita ayu ini pun membalas cubitan itu dengan pukulan manja juga di paha Zidan. Senyum tiba-tiba mengembang diantara keduanya. Membuat bocah tampan ini hanya bisa geleng-geleng kepala karena menurutnya kedua orang tuanya sangat aneh.
"Baiklah jika tak ada masalah diantara ayah sama bunda. Raka ke kamar dulu ya Yah. Soalnya Raka mesti belajar. Besok Raka ada ujian online," jawab bocah tampan ini, sembari membawa laptop miliknya.
Zidan sebagai ayah yang baik tak mungkin melarang. Pria ini pun dengan suka rela mengizinkan sang putra kembali ke kamar terlebih dahulu.
Zidan bersikap biasa saja, tapi berbeda dengan Nandita yang terlihat rikuh dan kurang nyaman. Wanita ini terus saja salah tingkah dari tadi. Seperti tak nyaman berdekatan dengan Zidan. Iya, dia memang malu.
"Dimakan, Bun. Kan Bunda yang pengen tadi, belinya jauh loh! Kasihan Eman, capek-capek nyariin," ucap Zidan basa-basi. Sedangkan Nandita hanya menjawab iya sembari menyembunyikan senyumannya.
"Kenapa Bunda senyum? Ada yang lucu, Bun?" tanya Zidan sembari menatap lucu ke arah Nandita.
"Apa sih! Jangan lihatin mulu ah, malu!" jawab Nandita sembari mendorong dada Zidan. Agar tak terlalu dekat dengannya.
"Dari tadi aku kan di sini, perasaan nggak masalah. Kenapa sekarang malu?" tanya Zidan sembari memainkan anak rambut yang ada di kening sang kekasih.
"Pokoknya malu, udah sana!" jawab Nandita, namun tidak menolak ketika tangan Zidan memainkan anak-anak rambutnya.
"Besok aku pulang ke rumah dulu ya. Ibu mau pergi semingguan ke Jakarta. Rumah nggak ada yang jaga!" ucap Nandita meminta izin.
"Oke! Nggak masalah!" jawab Zidan.
"Jangan kangen! Anda masih dilarang keluar dari tempat ini!" ucap Nandita lagi.
"Ya, kan anda nggak boleh keluar apartemen sebelum dapat kabar dari Dion," jawab Nandita.
"Astaga, bocah aneh itu lagi! Napa sih? Nggak Bunda nggak Raka, nurut banget sama itu bocah!" gerutu Zidan kesal. Nandita hanya tersenyum. Sebab ia tahu Zidan tidak sungguh-sungguh dalam ucapannya.
"Ini demi keselamatanmu calon imamku. Kumohon menurutlah! Tolong percaya pada Dion, dia pasti sudah memikirkan baik buruknya masalah ini untukmu," ucap Nandita, kali ini wanita ini serius. Zidan sendiri pun paham sebenarnya. Namun tak dipungkiri bahwa di dalam hatinya terbesit rasa curiga untuk asistennya itu. Mana ada seorang asisten begitu protektif. Malah mengatur sang atasan, agar begini dan begitu. Tidak boleh ini dan tidak boleh itu.
"Astaga! Dion lagi Dion lagi. Dion terus. Sama, Raka juga, yang disebut selalu om Dion. Ini sama Bunda, Dion lagi, Dion lagi. Kalian ngefans amat sama tu asisten. Nggak ada yang lain gitu Bun?" Zidan cemberut. Nandita tertawa
lucu. Sebab Zidan mirip sekali dengan Raka jika cemberut begitu.
"Kenapa Bunda tertawa, apanya yang lucu?" tanya Zidan sembari melirik kesal ke arah Nandita .
"Kamu menggemaskan, mirip sekali dengan Raka," jawab Nandita jujur.
"Benarkah?" Zidan menggeser posisi duduknya, agar bisa lebih dekat dengan Nandita.
"He um!" Nandita masih belum curiga, jika pria yang ada di sampingnya ini memiliki niat terselubung.
"Bener Ayah mirip Raka?" tanya pria ini lagi. Menggeser tubuhnya lebih dekat lagi dengan Nandita. Kali ini Nandita baru menyadari jika pria di sampingnya ini mulai nakal. Ia pun ikutan menggeaer tubuhnya. Namun terlambat, Zidan sudah mencekal pinggangnya. Tentu saja, Nandita tak bisa menghindar.
Zidan adalah pria dewasa yang memiliki hasrat. Terlebih pada wanita yang kini memiliki hatinya. Dengan penuh kelembutan, pria ini pun mengelus pipi sang wanita. Sedangkan Nandita tak tahu harus berbuat apa. Sebab, jujur, saat ini jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Nandita gugup, badannya panas dingin.
"Zidan jangan seperti ini!" pinta Nandita lembut. Suaranya terdengar gemetar.
Zidan tahu, dari suara tersebut, Nandita pasti dilema. Antara ingin dan tidak. Tetapi, Zidan tak peduli, ia terlanjur ingin. Ingin mencium bibir wanita yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga ini. Pelan namun pasti, Zidan pun hendak mendekatkan bibirnya pada bibir wanita cantik ini.
Namun sayang, baru sedetik bibir itu menempel, terdengar suara bel berbunyi. Tak ayal mereka berdua pun salah tingkah. Saling menutup mata, sebab kecewa. Kecewa karena tak bisa menyalurkan sesuatu yang mereka inginkan.
Aduh, siapa sih yang gangguin! gerutu Zidan dalam hati. Nandita yang tahu jika Zidan kesal hanya tersenyum.
"Siapa sih?" tanya Zidan sembari beranjak dari duduknya. Sedangkan Nandita hanya tersenyum. Ternyata Zidan bisa juga kesal. Manusia tanpa ekpresi menurut Nandita. Bukan hanya Nandita, bahkan orang-orang yang mengenal Zidan juga sering berkata bahwa selama ini pria itu pendiam, tanpa ekpresi.
Sedetik kemudian bel kembali berbunyi. Membuat Zidan kembali kesal. "Iya, sebentar, astaga!" ucap Zidan sembari melangkah mendekati pintu. Sedangkan Nandita pun mengikuti langkah Zidan mendekati pintu itu.
Zidan dan Nandita lupa melihat monitor yang biasanya menangkap wajah tamu yang datang. Tanpa menunggu lagi, mereka pun langsung membuka pintu tersebut.
"Ya cari siapa?" tanya Zidan pada kedua tamu yang berada tepat di depannya saat ini.
Kedua orang tersebut malah menatap Zidan dengan tatapan penuh permusuhan. Membuat Zidan bingung.
"Siapa Yah?" tanya Nandita. Kemudian Nandita pun melonggokan kepalanya melihat siapa yang datang.
Betapa terkejutnya wanita ayu ini. Sebab yang datang adalah kedua orang tuanya. Kedua orang tua yang sangat dirindukannya. Namun, pertemuan mereka kali ini serasa mencekam. Sebab tatapan mereka berdua pada Nandita, seperti bukan tatapan kerinduan. Melainkan tatapan kebencian.
Bersambung.....