My Sunshine

My Sunshine
ANTISIPASI



Bias senja menghiasi tamaram sebuah kamar kecil di mana Nandita sedang menyembunyikan dirinya. Mengurung dirinya sendiri, sejak pertemuannya dengan Zidan beberapa hari yang lalu.


Nandita memang seperti ini. Dia akan berhibernasi ketika duka merundungnya. Membatasi interaksi dengan dunia luar. Termasuk dengan para pegawainya. Hanya dengan Rakalah ia mau berbicara atau dengan Kartika, wanita yang menemukannya waktu itu. Waktu pertama kali ia meloloskan diri dari cengkraman Zidan. Dan kini, bayangan masa kelam itu kembali menyerangnya, tanpa belas kasih. Membuat Nandita bersikap seperti dirinya sebelas tahun silam. Ketika pertama kali ia tahu bahwa dirinya sudah tak suci lagi.


Nandita kembali hilang kendali. Kehilangan kepercayaan dirinya lagi. Penyebabnya yang tak lain dan tak bukan adalah bertemunya kembali dirinya dengan pria itu. Pria yang menyakitinya tanpa alasan. Nandita sangat membenci Zidan.


Memori tentang bagaimana dia diculik, diikat dan juga dilecehkan menjadi penyebab traumanya kali ini.


Masa itu, Nandita ingat betul. Hari itu adalah hari pertama ia diterima kerja di sebuah rumah yang sangat mewah. Nandita yang awalnya bercita-cita menjadi guru, sangat bersemangat dengan pekerjaan itu. Niatnya hanya bekerja, mengumpulkan uang, lalu uang itu akan ia gunakan untuk kuliah. Namun, sayang.... di hari pertamanya bekerja, ia malah diculik oleh beberapa orang yang tak ia kenal. Membawanya ke sebuah rumah kosong. Mengikatnya di ranjang. Menutup mulutnya dengan lakban.


Tak lama berselang. Masuklah seorang laki-laki yang tak lain adalah pria itu. Pria yang sama yang ia temui di acara penyerahan hadiah untuk Raka. Pria itu melakukan hal yang tak pantas padanya. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Nandita menangis, meronta, memohon ampun. Namun, seakan pria itu tuli. Pria itu terus saja melakukan aksi bejatnya. Sampai Nandita tak berdaya.


Dua hari kemudian, pria itu melepaskan ikatan tangannya. Lalu memberinya makan. Meskipun kelaparan, Nandita tak sekalipun menyentuh makanan itu. Matanya menatap takut. Bukan hanya takut, Nandita juga menatap penuh kebencian. Kepada pria yang memberinya makan. Tak sabar dengan penolakan Nandita, akhirnya pria itu pun meninggalkan ruangan ini. Ruangan di mana ia mengurung Nandita. Sayangnya ia lupa menguncinya.


Kesempatan langka itu pun digunakan Nandita untuk melarikan diri. Sayangnya melarikan diri tak semudah bayangan. Di depan rumah kosong itu, ada beberapa bandit yang menculiknya. Berkat kecerdikannya, Nandita pun mampu mengelabuhi para pria-pria yang mengurungnya. Berlari sekencang mungkin sampai pada akhirnya ia bertemu dengan bersembunyi di bawah pohon yang rindang.


Nandita yang malang. Dengan keadaan yang cukup memperihatinkan. Bibir pucat dan tatapan mata penuh ketakutan. Belum lagi bajunya compang-camping seperti orang dengan gangguan mental. Duduk sendirian di bawah pohon yang rindang. Gemetar ketakutan. Hingga tak sengaja, seorang pengguna jalan melihatnya. Dia adalah Kartika, wanita yang ini menjadi orang tua angkatanya.


Kartika yang saat ini hanya sendirian, langsung mendatangi Nandita dan membujuknya untuk ikut bersama.


Awalnya Nandita menolak, karena ia tak percaya dengan siapapun. Lalu dengan kasih sayangnya, akhirnya Kartika pun berhasil membawanya pulang.


Sesampainya di rumah. Nandita kembali menangis di ujung ruangan. Tak mau di sentuh oleh siapapun. Sampai asisten rumah tangga di rumah sederhana milik Kartika takut padanya. Nandita selalu histerishisteris. Menolak siapapun yang dekat dengannya.


Kartika yang yakin jika telah terjadi sesuatu pada Nandita, akhirnya terus mendampingi gadis malang ini. Tak pernah membiarkannya sendirian. Bahkan tidurpun, Nandita ia jaga. Kartika menjaga Nandita seperti putrinya sendiri. Sampai akhirnya Nandita bisa menerima keadaannya seperti sekarang ini.


Namun, namanya menghilangkan trauma tak semudah menghilangkan bekas luka di kulit. Nandita masih sering ketakutan jika berhadapan dengan laki-laki yang mirip-mirip dengan para penculik itu. Biasanya ia langsung menghindar atau menelepon Kartika untuk menjemputnya. Itu sebabnya Nandita jarang keluar rumah kalau tidak penting-penting amat. Dia lebih suka berada di kebun bunga milik Kartika dan menghabiskan waktunya untuk merawat bunga-bunga itu. Bahkan toko pun ia serahkan pada orang kepercayaan Kartika. Dia hanya mengelolanya dari rumah.


****


Lain Nandita lain pula Zidan. Pria tampan dengan kebaikan hatinya ini pun terus berusaha mencari informasi tentang Nandita dan Raka. Berkat Dion dan juga rekan-rekan kerjanya, akhirnya Zidan pun mendapatkan informasi sesuai yang dia inginkan.


"Ini adalah informasi yang Bos inginkan. Sialakan diperiksa," ucap Darwin sembari menyerahkan sebuah amplop coklat yang berisi informasi tentang Nandita dan juga Raka.


Zidan langsung menerima amplop itu dan membacanya dengan teliti.


"Menurut para tetangga, wanita jarang keluar rumah, Bos. Dia lebih sering terlihat di taman bunga yang ada di pekarangan rumahnya. Bahkan ia juga tak mengizinkan putranya untuk les private. Dia sangat takut sang putra kenapa-napa. Wanita ini hanya percaya pada beberapa orang saja, termasuk para pekerja yang sudah lama bekerja dengan ibu angkatnya," ucap Darwin menjelaskan bagaimana keseharian Nandita.


Sembari mendengarkan penjelasan itu, Zidan juga membaca serta melihat foto aktivitas keseharian Nandita di rumah itu.


"Tunggu, ibu angkat kamu bilang. Apakah dia tidak memiliki keluarga kandung?" tanya Zidan.


Zidan terdiam bingung. Kini pria ini merasa bahwa apa yang dia lakukan pada Nandita adalah sebuah kejahatan yang tak termaafkan. Ia telah menjadikan seorang wanita yang tak tahu apa-apa menderita karenanya.


"Di mana rumah orang tua kandungnya?" tanya Zidan.


"Kami sudah menulis alamatnya di belakang foto rumah orang tua nona, Bos. Silakan diteliti." Darwin menunjukkan sebuah foto rumah beserta alamat rumah tersebut kepada Zidan.


"Oke!" ucap Zidan.


"Ini foto siapa?" tanya Zidan.


"Ini adalah, nyonya Kartika. Dia adalah orang tua angkat nona. Sedangkan yang ini adalah orang tua kandung nona, Bos," jawab Darwin lagi.


"Oke, Terima kasih atas kerja kerasnya." Zidan terlihat masih penasaran dengan satu foto.


"Siapa pria ini?" tanya Zidan.


"Dia bernama Bumi, Bos. Pria yang mendekati nona saat ini. Dia sebenarnya adalah bos peti jenazah yang biasa menyuplai barang ke toko, nona," jawab Darwin lagi.


"Apakah mereka berpacaran?" tanya Zidan penasaran.


"Sepertinya tidak, Bos. Nona sangat tertutup dengan lawan jenis." Darwin kembali menunjukkan video rekaman tentang bagaimana reaksi Nandita ketika menghadapi lawan jenis.


"Apakah dia setakut itu dengan laki-laki?" Zidan menatap rekaman video itu.


"Sepertinya begitu, Bos." Darwin berdehem.


"Kenapa begitu?" tanya Zidan, pura-pura bodoh.


"Tidak tahu Bos. Mungkin dia punya masa lalu yang pelik atau sesuatu yang disembunyikan, mungkin!" jawab Darwin asal tebak. Padahal ia tahu, mengapa Nandita seperti itu. Hanya saja tak mungkin baginya untuk mengatakan bahwa 'Ini semua karenamu' . Darwin masih berusaha menjaga sikap.


"Oh, oke. Kamu jaga terus dia, jangan sampai anak buah Regen tahu tentang ini. Kamu paham kan!" pinta Zidan serius.


"Siap! Sebaiknya kita waspada, Bos. Sepertinya pria itu akan segera bebas. Dia mendapat dispensasi, karena kelakuan baiknya selama berada di tahanan," ucap Darwin memperingatkan.


Zidan menatap sekilas pada anak buahnya. Sedikit resah. Mengapa pria itu bebas di saat ia dikabarkan memiliki putra. Zidan hanya takut Regen akan membalas rasa sakit hatinya kepada Raka. Bukan kepadanya.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungannya, jan lupa like komen n share ya... 💋👯💋