My Sunshine

My Sunshine
NIAT SESEORANG



Sejak komitmen itu mereka ikrarkan. Nandita dan Zidan sering mencuri pandang. Membuat Raka, sang putra merasa aneh.


"Bunda sama ayah kenapa sih? Kok dari tadi lirik-lirikan. Kalian masih musuhan?" tanya Raka sambil menatap bergantian ibu bapaknya.


"Enggak, kami baik-baik saja," jawab Zidan salah tingkah. Bukan hanya Zidan, Nandita sendiri pun salah tingkah. Ternyata sang putra sungguh jeli dan teliti dengan apa yang di sekitarnya.


"Nggak mungkin ah, Raka tahu. Pasti ada yang salah dengan ayah dan bunda," desak Raka sembari mengubah apel yang dikupas oleh sang bunda.


"Ah, itu hanya perasaanmu saja, Raka. Ayah dan bunda nggak ada masalah kok. Ya kan Bun?" sanggah Zidan penuh alibi. Padahal sebenarnya dalam hati pria tampan ini mengakui kejelian sang putra.


Nandita hanya tersenyum untuk mendukung apa yang Zidan ucapkan.


"Baiklah jika ayah dan bunda baik-baik saja." Raka pasrah tetapi tidak menyerah Ia pasti akan tetap mencari jawaban atas apa yang ia curigai.


"Yah, om Dion bilang hari ini ayah ada rapat di kota ya. Raka boleh ikut nggak?" tanya Raka serius.


"Boleh, marilah Raka siap-siap. Ini om Dion udah di jalan," jawab Zidan sembari menilik jam tangannya.


"Oke Yah siap. Raka ganti baju dulu ya," jawab bocah tampan ini antusias. Kemudian ia pun berpamitan untuk mengganti baju.


Kini di ruang tamu ada Nandita dan Zidan yang terlihat canggung. Sebab tanpa mereka sadari, mereka telah membangkitkan kecurigaan Raka. Sehingga memunculkan sikap polos bocah itu dan membuat mereka sama-sama tersipu malu.


"Bunda lirik-lirik ayah sih, Raka jadi curiga kan?" canda Zidan dengan senyum tampannya.


"Dih, bukan Bunda ya," balas Nandita malu. Untuk menutupi rasa itu, wanita ini pun berniat meninggalkan Zidan dengan segala kekonyolannya.


"Kalau pergi berarti Bunda kalah, berarti Bunda yang curi-curi pandang ke Ayah!" ancam Zidan konyol.


Terpaksa Nandita mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat ini. Sebab ia tak mau Zidan berpikir benar akan tuduhannya.


"Gitu dong. Temenin pacarnya. Kan enak begitu," ledek Zidan lagi, tertawa lirih. Namun terlihat sangat happy.


Nandita melirik kesal. Wanita ini pun menciutkan matanya. Kemudian memberikan sepotong apel yang telah ia kupas. Agar Zidan berhenti menghalu.


"Kembali kasih calon imamku," balas Nandita tak kalah konyol. Namun balasan itu nyatanya diamini dalam oleh Zidan. Pria ini berharap keinginan mereka segera terwujud tanpa kendala.


Zidan menatap sang calon makmun sedangkan Nandita tetap fokus pada apel yang ia kupas. Sayangnya perbuatan konyol Zidan kembali tertangkap oleh Raka. Dengan cepat bocah ini pun menegur sang ayah. "Ayah kenapa ngliatin bunda sampek nggak kedip. Ayah suka sama bundanya Raka?" tanya bocah tampan ini tanpa basa basi.


Tentu saja pertanyaan itu sanggup membuat Zidan salah tingkah. Sedangkan Nandita hanya tersenyum melihat kegugupan Zidan.


"Ah, itu cuma perasaan Raka saja. Mari jalan!" jawab Zidan berusaha mengalihkan perhatian bocah cerdas ini. Pria tampan ini pun beranjak dari duduknya. Dan sebelum pergi ia pun memberi pesan pada Nandita.


"Apelnya nggak enak, Bun. Besok jangan beli lagi. Beli pir aja, ya," ucap Zidan asal Sepertinya pria ini sudah kehabisan ide untuk menghadapi situasi.


"Oke!" jawab Nandita singkat. Kembali wanita ini ingin tertawa. Sebab apa yang Zidan ucapkan tidak masuk akal. Bagaimana bisa dia bilang apel ini tidak enak. Jika pada kenyataannya semua apel yang Nandita kupas dan potong telah habis ia lahap.


"Udah yuk jalan," ajak Zidan. Tak lupa pria tampan ini juga berpamitan dengan wanita yang hendak mereka tinggal bekerja. "Ayah sama Raka jalan dulu ya, Bun. Hati-hati di rumah," ucap Zidan. Kemudian pria ini merangkul Raka dan bersiap melangkah menuju pintu.


"Ayah melupakan sesuatu!" seru Nandita. Zidan pun menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya.


"Apa tu?" tanya Zidan.


"Ponsel, kunci mobil dan tas kerja," jawab Nandita lengkap. Nandita tahu ketiga barang tersebut karena sedari tadi ketiga barang itu sudah Zidan taruh di atas meja makan.


"Oiya lupa, Ayah. Makasih Bun udah diingatkan," jawab Zidan. Lalu tanpa di minta Raka pun menawarkan diri untuk mengambilkan ketiga barang tersebut. Sedangkan Zidan mendekati Nandita dan mencuri kecupan di kening wanita ayu ini.


"Makasih!" ucap Zidan. Nandita memukul manja lengan Zidan dan mereka tertawa lirih bersama. Zidan memang nakal, kadang-kadang juga iseng. Tetapi Nandita bahagia, sebab Zidan apa adanya. Sifatnya sangat natural dan tidak dibuat-buat. Entahlah, Nandita hanya nyaman saja.


Beberapa detik kemudian, wanita ayu ini pun mengantarkan kedua pria kesayangannya itu ke depan pintu apartemen. Dan mereka berdua tersenyum sebelum akhirnya masuk ke dalam lift dan melambaikan tangan pada wanita yang mereka cintai pula.


Sayangnya kebahagiaan ketiga insan ini menumbuhkan rasa cemburu seseorang. Sehingga menimbulkan rasa ingin memisahkan mereka. Terlebih ketika ia tahu rencananya gagal total. Kaki tangannya kini berada dalam genggaman Dion. Sang asisten pria incarannya. Tentu saja membuat wanita ini memutar otak untuk mencari cara yang lebih mujarab untuk kembali menjerat Zidan agar kembali masuk ke dalam pelukannya.


Bersambung....


Terima kasih atas like komen n votenya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜