
Melihat Nandita hendak terjatuh, dengan cepat Zidan pun meraih wanita itu. Mendekapnya, supaya Nandita tidak tersungkur ke lantai.
Zidan langsung membopong wanita ini, membawanya masuk ke dalam rumah . Membaringkan Nandita ke sofa lalu mencoba menyadarkan.
Zidan menggosok-gosok kedua tangan Nandita yang mulai dingin. Menitupnya beberapa kali, agar tangan itu menghangat dan Nandita bisa segera sadar.
"Ya Tuhan, mbak. Maafkan aku, maaf ya!" ucap Zidan sembari terus menggosok tangan dan juga meniup bergantian tangan mungil itu.
Rasa bersalah tentu saja menyeruak di dalam hati pria ini. Mau bagaimanapun apa yang terjadi pada Nandita adalah bersumber dari kebodohannya. Kekhilafannya. Zidan menyadari ini tak mudah, tapi ia harus tetap berusaha. Berusaha mendapatkan maaf dari Nandita dan mendapatkan hak, setidaknya untuk bertanggungjawab atas Raka. Hanya itu, Zidan tidak akan meminta lebih.
Sepuluh menit kemudian Nandita membuka matanya. Melihat pria itu masih berada di sampingnya tentu saja wanita ini terkejut. Matanya terbelalak sempurna. Ketakutan langsung menguasai isi otak Nandita. Dorongan rasa takut itu kemudian memberinya bisikan agar bangun dan meloncat, menjauh dari Zidan, yang saat itu juga ikut terkejut.
"Pergi! Pergi! Manusia jahat!" teriak Nandita sembari melempari apapun yang ada di dekatnya.
Zidan tidak menghindar. Pria ini pasrah. Ia tak peduli terkena lembaran barang-barang itu. Yang penting baginya adalah Nandita mau mendengarkannya. Mendengarkan kata maaf yang ia bawa.
"Mbak dengerin aku dulu, aku ke sini nggak berniat jahat sama kamu. Aku ke sini mau minta maaf sama kamu, Mbak! Demi Tuhan, " ucap Zidan memohon.
Namun sayang, Nandita yang telah di kuasai emosi, terus melempari Zidan barang-barang yang dekat dengan jangkauannya. Membuat Nandita mengerti tak semudah bayangan. Zidan juga paham, jika Nandita tak mau begitu saja percaya padanya.
Wanita ini terus saja berlarian, berusaha menghindar. Meraih apapun yang bisa ia raih untuk mengusir Zidan dari hadapannya. Terakhir Nandita mendapatkan gelas dan bersiap melemparkan benda itu ke arah Zidan.
Zidan masih di posisi yang sama, tidak menghindar. Ia malah terkesan memasang badan. Pria ini terlihat rela dihajar oleh Nandita. Pasrah, asalkan Nandita mau bicara dengannya.
"Pukul aku, Mbak. Lakukan apapun yang mau kamu lakukan. Aku pasrah! Terserah aku ikhlas!" ucap Zidan. Menatap pasrah pada Nandita.
Sayangnya, kepasrahan Zidan malah membuat Nandita histeris. Wanita ini pun kembali berteriak, "Pergi kamu pria jahat! Pergi! Aku nggak mau melihatmu. Kamu jahat. Pergi!"
Kali ini Nandita tak melempar apapun ke arah Zidan. Namun dengan berani ia mendekati Zidan dan mendorong pria ini ke arah pintu. Meminta pria ini untuk pergi.
"Mbak, dengerin aku dulu. Aku ke sini ingin meminta maaf atas kesalahanku. Mbak tolong dengarkan aku dulu!" ucap Zidan kembali memohon.
Tetap saja, ucapan Zidan berlalu begitu saja. Telinga Nandita terlanjur tuli, khusus untuk suara pria ini. Nandita terlanjur benci. Nandita terlanjur sakit hati. Nandita terlanjur marah. Ia pun terus mendorong Zidan agar keluar dari rumahnya.
Sesampainya di pintu. Zidan tak sanggup menahan sabar yang ia miliki. Tak mau mengalah lagi. Ia pun langsung mendekap Nandita. Memeluk wanita ini. Tak peduli, meskipun Nandita terus meronta dan memukulnya. Berteriak histeris, bahkan menggigit lengannya. Zidan tetap kekeh pada pendiriannya. Tetap berusaha meminta pengertian Nandita akan maksud dan tujuannya datang ke sini.
"Maaf, Mbak. Maafkan aku!" pinta Zidan. Masih setia mendekap tubuh mungil Nandita.
"Nggak mau, pergi! Kamu pergi!" usir Nandita. Masih menangis dan meronta meminta Zidan melepaskannya.
Sayangnya Zidan memiliki pendirian yang tak mudah dikalahkan oleh Nandita. Ia tetap memeluk wanita ini. Berusaha menenangkan, berusaha membuat Nandita luluh dan kalah. Kemudian mendengarkan apa yang hendak ia sampaikan.
"Nggak! Nggak mau. Kamu pergi!" suara Nandita terdengar melemah. Sepertinya tenaganya telah habis terkuras. Menangis dan meronta membuatnya lelah. Tiba-tiba ia lemas kembali. Napasnya tersegal, lalu pingsan. Seketika Zidan pun panik.
"Ya Tuhan, Mbak, Mbak!" Zidan menepuk-nepuk pipi Nandita. Berusaha membuatnya tersadar. Sayangnya Nandita tetap tak mendengar. Matanya setia terpejam. Akhirnya Zidan membopongnya dan membaringkannya ke sofa. Kemudian ia kembali melakukan hal yang sama. Hal yang sama seperti yang pertama ia lakukan ketika Nandita pingsan.
Beberapa saat kemudian Nandita membuka matanya. Kali ini Nandita tidak histeris seperti tadi. Mungkin ia sudah tak cukup punya tenaga untuk melawan. Namun, reaksi Nandita kali ini malah lebih menakutkan. Wanita ini hanya diam, tak berucap. Sedangkan air mata terus mengucur deras dari pelupuk mata.
"Maafkan aku ya, Mbak. Maaf!" pinta Zidan pelan.
Kali ini Nandita mau mendegarkan permintaan itu. Wanita ini berusaha bangun, namun selalu gagal. Dengan sabar Zidan pun membantu Nandita bangun.
Sayangnya Nandita menolak. "Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Nandita. Kemudian ia menekuk kakinya dan memeluknya. Menyembunyikan rasa takutnya dengan mendekap dirinya sendiri.
"Aku ke sini tidak berniat menyakitimu, Mbak. Aku ke sini...." Zidan tak melanjutkan ucapannya. Ia menatap Nandita bingung.
Wanita ini diam namun ia mengigil. Seperti kedinginan tapi bukan kedinginan. Seperti orang ketakutan, sangat-sangat takut.
Zidan melepaskan jaketnya dan menyelimuti tubuh Nandita dengan jaket itu. Nandita tak menolak. Ia mengambil jaket itu, untuk berlindung. Berlindung dari rasa takutnya yang menyerangnya. Berlindung dari Zidan. Pria yang membuat Nandita kembali dalam masuk dalam lembah trauma.
"Maafkan aku, Mbak. Ampuni aku!" pinta Zidan sembari bersujud di depan Nandita, yang saat ini masih belum bisa mengusai jiwanya.
"Pergilah aku mohon. Aku takut sama kamu. Aku mohon pergilah!" ucap Nandita lirih.
Zidan mengangkat wajahnya, menatap Nandita yang terlihat semakin pucat. Mengigil ketakutan. Pria ini tak tahu harus berbuat apa. Pasti ini sangat berat bagi Nandita.
Zidan menangis dalam penyesalan. Terkejut dengan reaksi Nandita yang terlihat sangat menyayat hati. Reaksi yang sama yang ia saksikan sebelas tahun silam. Ketika pertama kali ia menemukan Zevana, sang adik dalam sebuah gudang kosong. Sang adik terlihat menggigil ketakutan. Tak bisa berucap. Hanya mendekap dirinya sendiri seakan berusaha melindungi dirinya dari seseorang. Saat itu juga Zidan tersadar bahwa telah terjadi sesuatu pada sang adik.
Zidan yang marah tentu saja langsung mengintrogsi Zevana, memaksa gadis ini untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan gadis itu menyebut satu nama yang berhasil membuat darah Zidan mendidih. Adik satu-satunya telah dirusak seseorang. Dan kenyataan inilah yang mendorong Zidan untuk balas dendam. Sayangnya ia salah sasaran.
Zidan tak sanggup melihat reaksi Nandita. Reaksi wanita ini sungguh membuatnya ingin menembak kepalanya sendiri. Yang hadir dalam otak Zidan saat ini bukan hanya penyesalan namun juga rasa benci pada dirinya sendiri. Ternyata dirinya sama-sama bejat. Seperti pria bangsat yang merenggut kesucian sang adik hingga mendorong gadis itu untuk mengakhiri hidupnya.
Zidan memundurkan langkahnya. Menatap nanar pada Nandita yang terlihat kebingungan. Ingin sebenarnya menemani Nandita menghadapi masa sulitnya. Namun, Zidan sadar bahwa kehadiran malah menambah beban wanita cantik ini. Kehadirannya malah menyakiti Nandita.
Sungguh ini adalah pilihan yang sulit untuk Zidan. Tetapi pergi adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Membiarkan Nandita menguasai dirinya. Membiarkan Nandita sembuh dari traumanya. Meskipun itu sangat sulit. Namun, Zidan berharap Nandita kuat, jangan menyerah dan kalah. Setelah itu, Zidan akan menyerahkan dirinya untuk Nandita. Terserah Nandita akan apakan raganya. Zidan pasrah.
Bersambung...
Jangan lupa like komen n vote ya... lope u. Visual Mas Zidan dalam bayangan Emak ya gaes. Semoga sukak🥰🥰🥰🥰