My Sunshine

My Sunshine
NYAMAN



Hampir satu jam Nandita menunggu di luar ruangan. Khawatir. Hanya itulah yang Nandita rasakan untuk saat ini.


Tak lama kemudian Nandita diperbolehkan masuk ke dalam ruangan di mana Zidan di rawat eleh seorang suster yang diberi tanggung jawab untuk merawat pria tersebut.


"Silakan masuk, Bu. Suami anda sudah sadar," ucap seorang perawat.


Nandita pun tersenyum bahagia. Sangking bahagianya wanita ini meneteskan air matanya.


Tak sabar, Nandita pun masuk ke dalam ruang rawat tersebut. Dengan perasaan yang sulit ia artikan. Nandita masuk, melangkahan kakinya mendekati Zidan. Yang saat itu juga terlihat tersenyum padanya.


Melihat Nandita mendekat, Zidan berusaha bangun. Namun dengan cepat wanita ayu ini melarang pria tampan ini untuk tidak banyak bergerak.


"Nggak usah bangun, jangan banyak bergerak dulu. Aku khawatir pada jahitanmu, Hemmm!" larang Nandita lembut. Zidan pun menurut.


Suasana hening, mereka sama-sama tidak tahu harus berbuat apa. Harus bertanya apa dan harus membahas apa. Canggung, mungkin begitulah devinisi terbaik atas apa yang terjadi pada dua insan ini.


"Pakailah jaketku, kamu terlihat kedinginan," ucap Zidan perhatian. Akhirnya pria tampan ini pun berhasil mengumpulkan keberanian untuk membuka obrolan.


"Terima kasih, aku nggak pa-pa kok," jawab Nandita sedikit rikuh. Mencuri pandang malu-malu.


"Pakailah, aku nggak mau kamu kenapa-napa. Nanti aku harus jawab apa pasa putra kita kalau kamu sampai kenapa-napa," bujuk Zidan tak kalah lembut.


"Kamu sudah membuatku khawatir dan hampir mati Zidan. Jangan mengelak lagi. Kamu sangat jahat," jawab Nandita sedikit geram. Zidan tersenyum dan menjawab, "Maaf bundanya Raka. I am so sorry, ya," Zidan melirik sembari mengembangkan senyum tampannya. Sedangkan Nandita tertunduk malu.


"Makasih sudah menghawatirkanku," ucap Zidan lembut. Binar kebahagiaan tampak jelas terpancar dari netra pria tampan ini.


"Jangan Ge-er Zidan. Aku menghawatirkan ayah putraku, bukan hawatir padamu," balas Nandita manja. Wanita ini memanyunkan bibirnya. Membuat Zidan gemas dan ingin menciun bibir itu. Jika diizinkan.


"Baiklah, aku mengerti," balas Zidan mengalah.


"Mengerti apa?" Nandita kembali salah paham.


"Nggak pa-pa. Cepat pakai jaketnya, Ta. Jangan terlalu lama kedinginan!" pinta Zidan.


Kali ini Nandita tak menolak. Ia tak ingin berdebat, yang akhinya akan membuat Zidan kecewa. Seperti yang Zidan inginkan ia pun memakai jaket berwarna coklat itu. Zidan tersenyum sebab jaket itu terlihat kebesaran di tubuh manggil Nandita.


"Aku meminta tolong pada perawat untuk memesankan makan untukmu dan juga orang-orang yang menolong kita," ucap Zidan, sambil meringis menahan sakit.


"Makasih, kamu baik sekali. Apakah ponselmu bisa diisi daya?" tanya Nandita.


"Kembali kasih bundanya Raka. Soal ponsel, aku nggak tahu, lagi pinjam charge sama perawat." Zidan meringis.


"Tidak usah, lagian ini udah malam. Kasihan mereka. Mereka juga butuh istirahat." Zidan kembali meringis.


"Oke, baiklah. Tapi... kamu terlihat kesakitan Zidan. Apakah kepalamu sakit lagi?" tanya wanita ayu ini, kembali ia merasakan kekhawatiran untuk Zidan.


"Kepalaku serasa mau pecah, Ta. Sakit sekali rasanya," jawab Zidan jujur.


Tentu saja Nandita tak tega melihat Zidan kesakitan begitu. Tanpa meminta izin, wanita ini pun langsung memijat pelan kening pria tampan ini. Memijatnya pelan berharap agar bisa mengurangi rasa sakit yang Zidan rasakan.


"Enak sekali rasanya, Ta. Aku jadi ngantuk," ucap Zidan sembari tersenyum. Pria ini juga memejamkan matanya, pertanda ia tidak berbohong dan kembali menikmati pijatan itu.


"Tidurlah jika kamu lelah. Jangan ditahan, nanti malah tambah sakit kepalanya. Kamu terlalu lelah, Zidan," ucap Nandita. Zidan kembali membuka mata.


"Pejamkan matamu dan tidurlah!" pinta Nandita masih terus memberikan pijatan pada kening Zidan.


"Serius Ta, ini aku ngantuk beneran. Rasanya enak banget," ucap Zidan sembari tersenyum senang. Pun dengan Nandita. Wanita ini juga senang bisa membantu Zidan.


"Aku serius ayahnya Raka. Tidurlah biar kamu cepet sembuh. Kasihan Raka, kalau kamu kelamaan sakitnya. Kasiahan kita tinggal-tinggal. Pasti saat ini dia khawatir," jawab Nandita serius.


"Kamu benar, Ta. Kasihan putra kita. Saat ini dia pasti kesepian. Tapi aku udah minta Eman dan beberapa teman untuk menjaga dan menemaninya. Semoga dia tak apa-apa ya, Ta," balas Zidan.


"Terima kasih kamu telah menjaga Rakaku dengan baik Zidan. Maafkan aku karena kemarin udah curiga sama kamu," Nandita menghentikan aktivitas memijatnya.


"Iya, Tan. Aku ngerti kok. Nggak pa-pa. Nanti kalau habis makan kamu juga istirahat ya. Aku tidur bentar." Zidan kembali memejamkan mata.


"Iya, tapi aku takut mereka menyusul kita ke sini," ucap Nandita khawatir.


"Jangan takut, Ta. Insya Allah aman." Zidan tak membuka matanya lagi. Pria ini benar-benar tak kuat menahan kantuk nya. Sedangkan Nandita pun tak bertanya lagi. Ia terus saja memijat kepala Zidan sampai pria ini terlelap.


Zidan tak menolak. Sebab kenyamanan yang diberikan oleh Nandita nyatanya sanggup membuat merasa nyaman. Sampai kantuk yang biasa tak mau datang padanya, kini tiba-tiba menyerangnya. Dan jika boleh jujur ini adalah pertama kalinya ia merasakan kantuk yang luar biasa. Rasanya sampai tak sanggup ia tahan.


"Ta, aku ngantuk beneran ini. Pijatanku ngalahin obat tidur Ta," canda Zidan masih berusaha terjaga. Nandita hanya tersenyum mendengar lelucon itu. Namun ia juga senang sebab Zidan merasa nyaman berasa dekat dengannya.


"Sudah, tidurlah. Jangan siksa ragamu Zidan. Izinkan mereka melepaskan penat. Pejamkan matamu dan nikmati mimpimu. Besok kita ngobrol lagi," ucap Nandita sembari terus memijat lembut kening Zidan. Sesekali ia juga memijat alis Zidan agar saraf mata pria ini rileks.


Zidan menuruti permintaan Nandita. Tak berapa lama pria tampan ini kembali terlelap.


Bersambung....