My Sunshine

My Sunshine
MEMULAI PERGERAKAN



Di sisi lain, ada seorang pria yang terlihat nyaman, sedang terlelap di sebuah kamar mewah milik seorang wanita yang terlihat sangat seksi. Mereka berdua saling memeluk. Seperti kelelahan atau lebih tepatnya terlihat habis melewati malam panas.


Ternyata pria itu adalah Regen. Yang tak lain adalah musuh bebuyutan Zidan. Pria itu terlihat nyaman berada dalam dekapan seorang wanita yang tak lain adalah Natalia Wilson. Wanita yang selama ini dekat dengan Zidan.


Pada kenyataannya Natalia adalah wanita ambisius yang mau melakukan apa saja asalkan bisa membawa Zidan ke dalam pelukannya. Termasuk meminta bantuan pria jahat ini untuk menghabisi Nandita dan Raka. Yang ia anggap sebagai penghalang terbesar dalam tujuannya.


Natalia terbagun dari tidurnya. Ketika bunyi alarm dari ponselnya mengagetkan nya. Kepalanya terasa berat akibat minuman yang ia minum semalam. Setelah kabar keberhasilan anak buah mereka melenyapkan sang target, mereka langsung berpesta di apartemen Natalia. Padahal andai dia tahu, bahwa anak buah Regen salah sasaran. Yang mereka sakiti adalah kekasih sang model. Bukan orang yang menjadi penghalang tujuannya. Andai dia tahu itu, maka tak menutup kemungkinan bahwa peperangan hebat antara dirinya dan pria penipu ini pasti terjadi.


***


Di sisi lain, ada Zidan yang terlihat bersemangat. Sebab kali ini hidupnya kembali berwarna. Dia sedang bekerja di ruang tamu, di temani oleh Raka yang bermain video game. Sedangkan Nandita asik memasak di dapur apartemen mewah itu.


Zidan tidak membatasi keduanya untuk mengekspresikan apa yang mereka inginkan. Tadinya Zidan ingin memesan saja makanan untuk mereka. Namun Nandita melarang. Ia beralasan lebih baik masak sendiri. Lebih enak, puas dan pastinya sehat. Bukan hanya itu alasan wanita ini mengolah sendiri makanan untuk mereka. Nandita percaya bahwa sesuatu yang bisa dikerjakan sendiri, alangkah baiknya dikerjakan sendiri. Toh memasak bukan pekerjaan yang rumit.


Terlebih semua bahan yang ia inginkan juga telah tersedia kulkas dapur tersebut. Tak ada alasan lagi bagi Zidan untuk menolak. Ia malah bersyukur jika wanita itu tak keberatan.


Diam-diam sambil menikmati suasana ini. Zidan terus berkomunikasi dengan Dion dan beberapa anak buahnya yang telah ia sebar untuk mencari para preman itu beserta pimpinan mereka. Dari sana ia pasti bisa mengetahui siapa sebenarnya dalang dari penyerangan tak terduga itu.


Namun, keasikannya terganggu oleh keinginan sang putra. "Yah, Raka pengen bisa main rantai kayak Ayah dah," ucap Raka. Matanya masih fokus pada video game yang ia mainkan.


"Boleh, dulu ayah belajar dari opanya, Ayah," jawab Zidan. Pria ini juga terlihat masih fokus pada laptop yang menyala.


"Nanti kalau Ayah udah sembuh ajarin ya, Yah. Oia opanya Ayah masih ada nggak. Raka ingin belajar dari masternya Yah. Ciat ciat ciat, pasti seru Yah," tambah Raka sembari mempraktikkan gerakan sang ayah.


Zidan tersenyum, ternyata sang putra memang menggemaskan. Raka ternyata bisa menjadi hiburan tersendiri buat Zidan.


"Katanya mau belajar panah, kok sekarang lain," canda Zidan.


"Panah tetep, Yah. Panah nomer satu. Tapi yang itu, Raka juga mau," balas bocah tampan ini. Tersenyum penuh semangat.


"Oke, nanti kalau ayah libur Ayah ajarin. Tapi boleh nggak ama bunda? Nanti marah lagi," canda Zidan.


"Tenang Yah, nanti Raka rayu bundanya." Raka tersenyum memberi mengedipkan satu mata pada sang ayah. Seperti sebuah kode.


"Okelah kalau begitu. Tapi Ayah minta, Raka lebih waspada, soalnya orang-orang ini bukan orang sebarangan. Ayah udah meminta teman Ayah untuk menjaga kamu sama bunda. Ingat kalau ada apa-apa atau Raka mencurigai sesuatu langsung telpon kawan Ayah, nomernya usaha Ayah save di hape Raka ya," ucap Zidan sembari menunjukkan nomer itu pada Raka.


" Siap Yah, Raka akan selalu waspada," jawab bocah tampan ini. Kemudian tak ada perbincangan lagi. Mereka fokus pada pekerjaan masing masing. Sebentar, suasana pun hening. Sampai suara lembut Nandita mengalihkan fokus mereka.


"Raka!" panggil Nandita.


"Hadir, Bunda," saut bocah tampan ini. Tak menunggu waktu, bocah tampan ini pun langsung menyetop gamenya dan berdiri menghadap sang bunda.


Zidan hanya melihat lucu. Biasanya anak seusia Raka memang menjawab jika dipanggil, tetapi tidak langsung berlari mendatangi sang pemanggil. Berbeda dengan bocah tampan ini. Dia memang unik sangat-sangat unik. Mendengar namanya dipanggil ia langsung menurut dan meletakkan aktivitasnya. Mementingkan seseorang yang memanggilnya. Sungguh luar biasa bukan?


Terlihat ibu dan anak itu berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan. Raka hanya melonggo dan mendengarkan. Tanpa menjawab sepatah kata pun. Lalu, setelah Nandita selesai bicara, Raka langsung berlari kecil mengambil ponsel Nandita yang berada telan di meja depan Zidan.


"Bunda minta apa?" tanya Zidan.


"Bunda melupakan sesuatu, Yah. Ini lagi Raka pesenin," jawab Raka.


"Lupa sesuatu apa?" Zidan penasaran.


"Ada Yah, ini rahasia wanita dewasa. Jangan dibahas, Yah. Nanti bunda marah sama Raka," jawab bocah ini sambil berbisik.


"Hemm, Ayah pun nggak boleh tahu ya. Oke sekarang main rahasia-rahasiaan," ucap Zidan. Belum sempat Raka menjawab Nandita kembali memanggilnya.


"Raka!" terdengar suara lembut Nandita memanggil bocah tampan itu.


"Iya, Bun. Sebentar. Ayah minta bantuan," jawab Raka sembari nyengir sebab ia berbohong.


"Tu kan Yah, udah dulu ya. Nanti malam Raka kasih tahu," jawab Raka berjanji. Zidan hanya tersenyum sembari mengigit bolpoin yang ada di tangannya. Mereka berdua terlihat kompak berucap janji. Ayah dan anak yang kompak.


"Iya, Bun." Raka mendekati Nandita.


"Hist, jangan bilang ayahmu. Nanti bunda malu," ucap Nandita. Raka tersenyum dan menjawab, "Nggak Bun, Raka tahu ini rahasia." Bocah tampan ini kembali tersenyum tanpa dosa. Kemudian ia pun mulai mencatat apapun yang sang bunda inginkan.


***


Di lain pihak ada Dion yang mulai mencium gelagat tidak baik dari wanita yang ia curigai. Yang tak lain adalah Natalia. Dion yakin, wanita itu terlihat dalam penyerangan yang terjadi pada big bos dan keluarga kecilnya. Terbukti dari seringnya wanita ini marah padanya dan mengancam akan melenyapkan siapapun yang menjadi penghalang kebahagiaannya.


Namun, Dion belum punya banyak bukti untuk menyeret wanita itu ke dalam kasus ini. Sebelum ia mendapatkan bukti nyata tentang kejahatan terselubung ini.


Dion bukan pria yang bertindak tanpa bukti. Pria dengan segala kecerdasannya ini pun mulai meminta beberapa anak buahnya untuk mengawasi wanita tersebut. Mengumpulkan bukti jika wanita itu memang biang dari masalah yang membelit sang big bos.


"Kalian tahu kan wanita ini?" tanya Dion pada pria berbadan tinggi tegap itu. Seperti seorang ajudan pada umumnya.


"Natalia Wilson, bukankah dia model majalah dewasa, Bos," jawab pria itu langsung menduga.


"Benar, kalian awasi dia. Sepertinya dia terlibat dalam masalah ini. Entah mengapa aku sangat yakin," ucap Dion mengutarakan pemikirannya.


"Siap, Bos. Kami akan segera bergerak," jawab pria itu tegas. Tak lama kemudian rapat pun berakhir. Dion mengizinkan anak buahnya berkerja, sedangkan dia kembali melanjutkan tugas yang dipercayakan Zidan untuknya.


Bersambung...


Terima kasih atas like komen n votenya😘😘