
Zidan menatap Nandita. Begitupun dengan wanita itu. Ia juga menatap Zidan dengan cintanya. Rasa gemas ingin segera memiliki pun timbul. Namun sekali lagi, mereka sudah dewasa. Harus bisa mengendalikan ***** yang mungkin akan menghancurkan mereka berdua.
"Sudah mandi sana! Nanti telat loh. Kasihan Raka juga udah nungguin di meja makan!" ucap Nandita.
"Temenin!" canda Zidan.
"Dih! Apaan!" jawab Nandita, wanita ayu ini pun ikut beranjak kemudian mendorong manja punggung Zidan. Sayangnya tak sedikitpun tubuh pria tampan itu bergerak. Dia malah senang menggoda sang kekasih. Senyum dan lirikan penuh cinta pun ia persembahkan untuk pemilik hati.
"Nggak usah dorong-dorong. Kalau mau ikut, boleh kok," tambah Zidan dengan candaan manjanya. Seperti biasa.
Seketika wajah ayu Nandita memerah malu. Sedangkan Zidan semakin senang mempermainkan wanita yang memberinya satu putra itu.
"Ngeres dah. Udah sana!" pinta Nandita malu-malu.
Sayangnya, Zidan tak mengindahkan permintaan Nandita yang ini. Ia malah membalikkan tubuhnya dan meraih pinggang wanita pemilik hatinya ini. Membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Sungguh aku nggak ingin balik ke Jakarta. Bagaimana ini?" tanya Zidan lagi. Manja lagi dan manja lagi. Zidan memang manja.
"Astaga! Kenapa Ayah jadi lebih manja dibanding putra kita, hemm? Kalau Raka tahu bapaknya begini, gimana pendapat dia ya?" tanya Nandita sambil mengelus lengan pria tampan yang sedang ingin dimanja ini.
"Biarin aja," jawab Zidan cuek. Baginya Nandita adalah wanitanya. Dia bebas mau melakukan apa. Yang penting masih dalam batas kewajaran. Benarkan?
Sedetik kemudian Zidan menilik jam yang ada di pergelangan tangannya. Masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi, sebelum keberangkatan. Dan ia ingin memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin. Mengobrol bersama Nandita. Bercerita tentang apapun dengan wanita ini. Bermanja-manja dan kalau boleh ingin lebih dekat dan dekat. Pokoknya hanya itu yang Zidan mau.
"Ayah serius, Bun. Rasanya beneran nggak ingin balik ke Jakarta. Gimana ini?" tanya Zidan kali ini dia serius.
"Kok gitu? Nanti gimana Dion? Kasihan dia pontang-panting sendiri. Gimana kalau dia bingung? Gimana kalau dia kewalahan?" tanya Nandita serius.
"Sebenarnya dia bisa sih tanpa Ayah. Dia asisten yang baik dan cerdas," jawab Zidan santai.
"Bunda tahu, tapi nggak boleh juga serahin semua pekerjaan sama asisten. Kita sendiri juga harus tahu bagaimana proses memulai dan mengakhiri. Itu baru namanya pemimpin yang baik," jawab Nandita lagi.
Zidan tersenyum. Hatinya serasa berbunga-bunga. Karena pada kenyataannya Nandita selalu mampu membuatnya bahagia. Bisa mengimbangi pemikirannya dengan pemikiran dewasa yang Nandita miliki.
"Aku ini pemimpin yang baik, Bun. Percayalah!" canda Zidan.
"Baiklah. Bunda percaya. Udah sana mandi. Nanti telat!" pinta Nandita lagi. Di elus nya pipi Zidan dengan cinta yang ia miliki. Membuat pria ini semakin enggan beranjak dari kamar ini. Terlebih kota ini.
Beberapa kali Nandita selalu mengingatkan agar Zidan bergegas. Sayangnya, sang pria tampan ini malah santai dan hanya tersenyum.
"Mandi, terus siap-siap. Sarapan dan berangkat. Oke! Nanti Bunda antar sampai bandara. Gimana?" tawar Nandita.
"Oke, tapi selama Ayah mandi. Bunda di sini aja ya, jangan kemana-mana!" pinta Zidan ikutan menawar.
Belum sempat Nandita menjawab, terdengar ponsel Zidan berdering. Pria tampan itu pun langsung mengambil ponsel tersebut. Memeriksa siapa yang mencarinya by phone tersebut. Zidan terlihat serius. Karena ternyata yang mencarinya adalah Dion, sang asisten pribadi yang belum lama mereka bahas.
"Ya, Yon! Ada apa?" tanya Zidan, masih setia memeluk Nandita.
"Maaf, Bos. Sebaiknya anda jangan ke Jakarta dulu. Di sini sangat berbahaya buat anda. Anak buah Regen sangat bringas. Mereka sedang menyusun rencana untuk membabat habis orang-orang yang selama ini bersekutu denganmu. Sepertinya mbak Dita dan Raka juga jadi termasuk incaran Regen. Sebab kabar yang saya terima pagi ini, beberapa sekutu Regen sedang mengawasi kediaman mbak Dita!" jawab Dion yakin.
"Anak buah Regen? Apakah dia sudah tahu bahwa aku memiliki anak dan istri? " tanya Zidan dengan nada serius.
"Sepertinya tahu, Bos!" jawab Dion tak kalah serius.
"Baiklah, sebaiknya kamu hati-hati. Jangan lupa minta bantuan Vano. Pasti pihak berwajib tahu, karena mereka juga sedang mencari keberadaan pria itu. Nandita dan Raka ada di apartemen. Kamu nggak usah khawatir. Tolong kamu minta beberapa orang-orangmu untuk menjaga ibu Kartika. Kamu paham kan maksudku?" Zidan terlihat lebih serius. Sedangkan Nandita hanya menunggu dan berusaha memahami keadaan.
Setelah percakapan dengan Dion selesai. Zidan pun kembali mengajak Nandita duduk. Raut wajah pria itu terlihat tegang. Karena masalah yang ia hadapi tak bisa di anggap remeh.
"Ada apa, Yah?" tanya Nandita ikut khawatir.
"Pria yang pernah berbuat jahat pada keluargaku kabur dari penjara, Bun dan kini mengincar orang-orang yang dekat denganku. Termasuk kamu dan Raka!" jawab Zidan jujur.
Nandita menatap Zidan bingung. Sedangkan pikiran Zidan semakin semrawut. Karena Regen begitu licik. Pria ini memang tak bisa di anggap remeh.
"Jangan khawatirkan kami, Yah. Percayalah aku akan jaga diri dengan baik. Pun dengan Raka!" ucap Nandita. Mencoba membuat sang kekasih tenang. Meskipun ia tak tahu duduk permasalahan awal, namun ia tetap yakin bahwa dia pasti bisa menjaga dirinya.
"Yang ini berbeda, Bun. Pria itu psikopat. Dia tidak memiliki hati!" ucap Zidan jujur.
"Maksudnya?" tanya Nandita penasaran.
"Pria itu adalah penyebab adikku bunuh diri, Bun," ucap Zidan lirih. Bahkan hampir tak terdengar.
"Bunuh diri? Tunggu-tunggu? Maksud Ayah apa ini? " tanya Nandita pelan.
" Bunda ingat nggak, tempat keluarga di mana Bunda kerja dulu?" tanya Zidan serius.
"Keluarga terakhir Bunda bekerja? Sebentar? Apakah yang Bunda diculik terus Ayah ituin?" jawab Nandita sembari mengingat-ingat keluarga yang Zida maksud.
"Iya! Keluarga itu!" jawab Zidan.
"Iya, ingat. Terus masalahnya apa?" tanya Nandita penasaran.
"Tuan muda keluarga itulah yang mengenggut mahkota adikku, Bun. Yang menyebabkan dia depresi lalu bunuh diri," jawab Zidan terbata-bata. Tak kuasa rasanya menahan air mata kesedihannya. Sebab sejak kejadian itu Zidan selalu dihantui rasa penyesalan. karena tak mampu melindungi Zevana. Zida merasa gagal sebagai kakak. Dan peristiwa itu juga yang menjadi salah satu alasan kenapa ia menghukum dirinya sendiri hingga saat ini.
Nandita jadi serba salah. Bingung harus berkata apa?
"Tuan muda keluarga itu," guman Nandita. Berusaha menebak alur kejadian yang menimpanya.
"Maaf, Yah. Boleh Bunda tanya sesuatu?" tanya Nandita antusias.
Sedangkan Zidan hanya menatap wanita ayu itu. Lalu mengusap air mata yang masih mengalir dari pelupuk matanya.
"Tanyakan saja, Bun. Kamu memang harus tahu masalah ini. Sebab kejadian pahit itulah yang juga menyeretmu ke dalam jurang kesengsaraan, akibat ulahku," jawab Zidan jujur. Kali ini Zidan tak ingin menutupi apapun dari Nandita. Zidan percaya, jika ini bukanlah aib. Melainkan musibah, kelalaian dirinya. Tapi entahlah, sampai sekarang Zidan sendiri belum mampu mengartikan apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarganya.
"Apakah penculik yang menculikku waktu itu salah sasaran?" tanya Nandita berusaha menguraikan benang kusut yang menjerat alur cerita mereka.
"Ya!" jawab Zidan spontan.
"Jadi yang harusnya mereka tangkap siapa?" tanya Nandita.
"Harusnya ya nona di keluarga itu. Kan aku dendamnya ama mereka. Mana aku tahu jika yang mereka bawa asisten rumah tangga mereka," jawab Zidan jujur.
"Astaga! Berarti ini kesalahan preman-preman bodoh itu. Lihat saja nanti kalau sampai ketemu. Bunda suruh ketapel Raka biar tahu rasa!" jawab Nandita geram.
Zidan melirik terkejut. Seketika peia ini bengong. Tak menyangka reaksi Nandita akan selugu itu.
"Bener kan, Yah? Harusnya preman-preman bodoh itu yang dihajar. Bodoh sekali mereka. Masak pembantu dikira nona-nona. Dasar rabun!" Kembali Nandita mengumpat kesal. Sedangkan Zidan hanya tersenyum. Sebab ia pikir Nandita akan marah padanya bukan marah pada preman-preman itu.
"Terus Yah? Setelah itu gimana?" Nandita terlihat bersemangat ingin mengetahui kelanjutan kisah yang tanpa sengaja melibatkannya itu.
"Zevana depresi setelah kejadian itu.
Lalu dia nggak sanggup menahan apa yang terjadi padanya. Gadis bodoh itu memilih mengakhiri hidupnya. Tentu saja, sebagai seorang kakak aku marah. Kemudian timbullah rasa dendam pada pria jahat itu. Aku pun berusaha membalas perlakuan pria itu. Demi melancarkan niatku aku pun meminta teman-teman menculik adiknya. Eh, malah salah orang. Nasib-nasib, maaf ya Bun. Aku nggak sengaja," jawab Zidan. Suaranya terdengar melemah di akhir. Sebab seseorang yang tidak tahu menahu tentang masalah ini malah menjadi korban dan orang itu sekarang berada tepat di depan matanya.
"Kisah kita rumit juga ya, Yah. Semoga semua akan baik-baik saja. Dion dan teman-temannya bisa mengatasi masalah ini. Dan Bunda do'ain semoga Ayah selalu sehat dan selalu berada di jalan yang benar," ucap Nandita.
Zidan tersenyum dan mengamini harapan Nandita tersebut.
Suasana hening sejenak. Zidan masih dengan perasaan menyesalnya. Sedangkan Nandita bergelut dengan segudang rasa penasaran yang mengerogoti pikirannya.
Bersambung...
Dion berhasil nggak ya menggagalkan rencana Regen🤔🤔🤔.