
Segenggam tanya menghantui Raka. Bagaimana tidak? Kecurigaannya terhadap Dion menjadi kenyataan. Keyakinan bahwa pria yang selalau dipanggilnya om itu, ternyata benar. Ia menyimpan rahasia yang ia duga.
Bocah ini termenung. Berusaha keras memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh, Dion sangat pandai mempermainkan emosinya. Awalnya ia hanya berpikir bahwa Dion menghianati sang ayah. Dan kini, bocah tampan ini semakin yakin jika Dion memang sengaja melakukan ini, agar Raka waspada pada keadaan. Namun entahlah, Raja harus mencari tahu kebenarannya dulu. Sebelum dia memutuskan sesuatu agar tak salah.
Raka tersentak dari lamunan, ketika Nandita masuk ke dalam kamar dan menyenggol lengannya.
"Raka! Kok melamun?" tanya Nandita lembut.
Raka menatap sang ibu. Kemudian tanpa kata ia pun menarik tangan sang ibu dan meminta wanita itu duduk di sampingnya. Raka tak ingin pusing sendiri dan menerka-nerka apa yang terjadi. Itu sebabnya ia mengajak sang membahas sesuatu yang penting ini. Jujur Raka takut salah dalam analisanya kali ini.
"Bunda duduk dulu deh, Raka pengen cerita sesuatu!" ajak Raka.
"Cerita sesuatu? Cerita apa itu?" tanya Nandita. Ekpresi wanita ini sama dengan ekpresi sang putra. Penasaran dan dirundung beberapa pertanyaan.
"Bunda masih inget kan? Dengan apa yang Raka ceritakan soal om Dion?" tanya Raka.
"Ya, tentu saja. Bunda masih inget, kan baru beberapa jam yang lalu. Kenapa emang? Apakah Raka masih mencurigainya?" tanya Nandita makin penasaran.
"Bukan masih, Bun. Tapi makin. Coba Bunda baca ini!" pinta Raka, kemudian bocah ini pun menyerahkan ponselnya pada sang ibunda.
Nandita menatap Raka sekilas, lalu mulai membaca pesan teks yang dikirim Dion untuk sang putra.
Beberapa saat kemudian. Setelah selesai membaca tulisan-tulisan itu, Nandita langsung membuka suaranya.
"Kamu benar, Dek. Kemungkinan besar om Dion menyembunyikan sesuatu dari ayahmu. Tapi menurut Bunda, om Dion bukan mau menghianati ayahmu tapi malah mau menyelamatkannya. Mengingat pria yang kini mengincar nyawa awahmu adalah orang yang sangat jahat. Satu lagi, om Dion kemungkinan besar kenal dan tahu siapa kakekmu," ucap Nandita yakin.
"Bunda bener, Raka rasa juga seperti itu." Raka diam sejenak. Terlihat berpikir dan kembali mengutarakan apa yang ia pikirkan kepada bundanya. "Mungkinkah om Dion kerja dengan kakek untuk melindungi ayah, Bun?"
Nandita menatap sang putra, tak ayal pikirannya pun membenarkan apa yang putranya katakan. "Bisa jadi, Dek. Tapi kenapa kakekmu nggak mau menemui ayahmu ya. Mungkinkah mereka sama-sama takut bertemu?" Nandita pun mulai ikutan Berasumsi.
"Bisa jadi, Bun." Raka membalas menatap sang bunda. Kemudian mereka saling menerka-nerka.
"Bun!" tampaknya Raka memiliki ide.
"Heemmm!" jawab Nandita.
"Gimana kalau Raka minta om Dion buat ngater Raka ke tempat kakek. Mungkin kakek mau terbuka sama Raka!" punya Raka pada sang ibunda.
"Boleh juga tu, Dek. Tapi jujur, Bunda sangsi. Mungkinkah kakekmu mau menerimamu?" Sekarang malah Nandita yang kurang percaya diri.
"Kita nggak punya pilihan lain, Bun. Kita harus membuka rahasia ini. Jika tidak ayah akan selalu dalam kebingungan. Ayah akan selalu dalam ketakutan. Bunda tahu kan ayah jarang tidur. Sep rti sakit apa tu, Bun?" Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal. Seperti sedang mengingat sesuatu.
"Iya itu, Bun. Bunda tahu kan? a terkadang ayah gelisah. Raka rasa ayah sedang memikirkan orang tuanya, Bun," tambah bocah tampan ini. Kembali Nandita membenarkan kecurigaan Raka. Sebab tak menutup kemungkinan bahwa masalah itulah yang sebenarnya menyeranh Zidan selama ini.
"Bunda tahu itu. Cuma ini masalah yang sangat sensitif, Dek. Ayahmu dan kakekmu memiliki hubungan yang kurang baik. Bunda hanya takut, beliau tak menerimamu," ucap Nandita. Lalu ia pun diam sesaat. Memikirkan apa yang sebaiknya mereka lakukan.
"Apa bunda perlu meminta penjelasan terlebih dahulu pada om Dion, perihal masala ini?" tanya Nndita pada sang putra.
"Kayaknya perlu deh, Bun. Menurut Raka kalau Bunda yang tanya, pasti om Dion mau jelasin, Bun. Kalau ama Raka cuma diputer-puter doang, Bun. Raka disuruh mikir sendiri," balas bocah tampan ini.
"Iya deh, coba nanti Bunda tanya," jawab Nandita. Lalu sepasang ibu dan anak itu pun tersenyum. Meskipun pada kenyataannya mereka dibuat gundah oleh pernyataan Dion dan apa yang mereka curigai.
"Ini, Bun ponselnya. Raka tinggal dulu ya!" pinta bocah tampan ini.
"Loh kok ponselnya dikasih ke Bunda. Kan Bunda punya sendiri!" ucap Nandita.
"Kan Bunda nanti yang mau tanya-tanya sama om Dion. Raka tugasnya jaga ayah kan, jangan sampai kemana-mana. Emang di ponsel Bunda ada nomer om Dion?" tanya Raka.
"Oiya ya, baiklah." Nandita tersenyum. Pun dengan bocah tampan pemilik lesung pipit itu. Begitu tampan jika tersenyum. Sama persis dengan sang ayah.
"Ya udah sana, jagain ayahmu. Jangan lupa di suruh makan. Dari tadi asik depan laptop aja. Kayaknya makan juga susah. Apa sih maunya pria itu?" gerutu Nandita sedikit kesal. Sedangkan Raka hanya tertawa, ternyata sang ibunda misa juga bersikap konyol. Petentang-petenteng tak jelas.
"Eeh, malah ketawa disuruh jaga ayahnya," ucap Nandita.
"Iya, Bunda. Ini Raka mau jalan. Raka janji akan selalu ada di samping ayah kalau gitu. Nanti Raka rayu suruh makan, oke?" balas Raka dengan senyum manisnya, dengan sedikit candaan yang menyejukan hati sang ibu.
"Oke, sana. Biar Bunda nyusun kata-kata buat ngobrol sama Om mu. Astaga, semoga Bunda bisa!" ucap Nandita lagi. Kembali mengeluarkan kesan konyolnya seperti tadi. Sedangkan Raka hanya terkekeh.
"Sudah, Raka diam ah. Udah tahu bundanya susah mengobrol dengan pria. Ini malah diketawain!" Nandita tampak kesal.
"Maaf, Bun maaf. Habis Bunda lucu. Baiklah, Raka pergi. Ayah ada di mana ya, Bun?" balas Raka, agar wanita ayu yang melahirkannya ini tidak melanjutkan marahnya.
"Ada di ruang kerja, nggak tahu lagi ngapain!" jawab Nandita sedikit kesal.
"Uluh, Bunda. Gitu aja marah. Baiklah, Raka pergi," balas bocah tampan ini. Tak banyak berucap Raka pun segera beranjak dan melangkah meninggalkan sang bunda.
Kini tinggallah Nandita, diam namun berusaha menyusun kata untuk ia sampaikan kepada Dion. Agar tidak kamu dan mendapat jawaban sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Bersambung...