My Sunshine

My Sunshine
TERTEMBAK



Dion lari sekuat tenaga sambil menggendong Zidan. Sedangkan Raka menangis membututi langkah pria yang membawa sang ayah. Bocah tampan ini juga sigap melindungi mereka dengan kecekatannya dan juga ketapel miliknya.


Bukan hanya itu, terkadang Raka juga menyalip ke depan untuk mencari jalan, atau memastikan keadaan aman untuk mereka.


"Lanjut, Om. Aman!" ucap Raka mengarahkan. Dion pun kembali berlari. Pria ini tak menyerah, meskipun pada kenyataannya badan sang kakak sangatlah berat.


"Sebentar Om, Raka lihat lagi!" ucap Raka, bocah tampan ini pun mulai mengendap-endap lagi. Untuk memastikan keadaan tentunya.


Terlihat beberapa anak buah Regen telah berhasil Vano tumbangkan. Begitupun dengan Regen sendiri. Pria ini terlihat tak berdaya. Beberapa kali Vano menendangnya. Namun tetap, pria itu tak bergerak.


"Aman, ayo Om!" ucap Raka lagi. Dengan cepat Dion pun berlari mengikuti arahan Raka.


Raka yang melihat Vano sedang tak melakukan apapun, bocah tampan ini pun langsung memanggil pria itu dan meminta bantuan.


"Om Vano, Bantu Raka siapkan mobil!" teriak Raka gemetar.


Vano yang mendengar suara seseorang meminta bantuannya, tentu saja langsung mencari arah suara dan segera berlari membantunya.


"Astaga!" pekik Vano. Tanpa banyak bicara, segera ia berlari dan membatu Dion memasukkan tubuh Zidan ke dalam mobil. Sedangkan Raka tetap waspada. Tetap menjaga kedua pria yang kini sedang berusaha menyelamatkan sang ayah.


Namun sayang, Raka sedikit lengah sehingga ia tidak menyadari jika Regen bangun dan mengarahkan pistolnya ke arah mereka. Dengan cepat peluru itu pun melesat. Dan tanpa mereka duga, peluru tersebut tepat mengenai lengan Zidan. Terang saja, pria yang sedari tadi tertidur langsung terkejut dan berteriak. "Aaa!"


Spontan Raka pun tercengang. Tak ingin mereka bertiga kena tembakan lagi. Raka pun menoleh dan mengarahkan ketapelnya tepat ke arah pria yang mengarahkan senjata api itu kepada mereka. Beruntung Raka berhasil menjatuhkan pistol tersebut dari tangan Regen. Dengan cepat Vano langsung berlari mendatangi pria tersebut sangat kembali menghajarnya.


Pertarungan satu lawan satu, antara Vano dan Regen pun terjadi. Sedangkan Dion dan Raka tak bisa membantu. Karena mereka harus segera membawa Zidan ke rumah sakit.


***


Di sisi lain, Natalia sedang marah besar karena ternyata Regen telah membohonginya. Pria itu telah mentransfer seluruh uangnya ke rekening pribadi milik pria tersebut.


Tentu saja keadaan ini membuat wanita ini tersadar, bahwa selama ini ia hanya di manfaatkan. Natalia juga baru mendapat kabar, bahwa Regen telah menculik dan menganiaya Zidan, pria yang ia cintai.


"Brengsek!" teriak Natalia kesal, setelah tahu bahwa nominal saldonya nol besar alias habis.


"Awas saja, jika dia berani macam-macam. Akan aku lenyapkan dia!" ancam Natalia kesal. Kali ini wanita ini benar-benar tak ingin di bohongi lagi oleh Regen. Ia pun mencari seseorang yang bisa membantunya melenyapkan pria itu dan merebut kembali apa yang ia miliki.


Sepertinya Natalia juga tidak tahu, bahwa Regen saat ini juga menculik dan menganiaya pria yang ia sukai. Bagaimana jadinya jika dia sampai tahu? Akankah Natalia murka? Kita lihat saja nanti.


***


Di sudut ruang yang lain, ada seorang ibu dengan segala kecemasannya menunggu sang putra pulang. Wanita ini terus saja menangis khawatir.


Bagaimana tidak? Seseorang yang tidak ia kenal mengiriminya kabar, bahwa saat ini Raka sedang berada di rumah sakit. Bocah tampan itu dikabarkan jatuh dari gedung dan sekarang dalam keadaan kritis.


Nandita berteriak histeris dan meminta wanita yang ditugaskan Vano untuk menjaganya segera membawanya ke rumah sakit tersebut. Namun, wanita itu seolah tak dengar. Sebab ia harus memastikan terlebih dahulu. Kabar tersebut benar ataukah hanya sebuah pancingan. Agar Nandita keluar dari rumah mungkin, agar mereka dengan mudah menghabisinya.


"Tenangkan diri Ibu dulu, jika kabar ini benar yang mengabari bukan nomer tak dikenal begini, Bu. Pasti langsung dari pihak rumah sakit atau orang-orang kita!" ucap gadis berpakaian serba hitam itu.


"Jadi menurutmu, kabar ini bohong?" tanya Nandita sembari menghapus air matanya.


"Ya, bisa jadi seperti itu!" jawab gadis itu lagi.


"Tentu saja untuk memancing Ibu, agar anda mau keluar rumah. Dengan begitu, mereka akan merasa lebih mudah menghabisi kita," jawab wanita itu tegas.


"Lalu bagaimana dengan putraku, Ha? Pokoknya kalo dia nggak kembali dengan selamat awas saja kamu!" ancam Nandita pada wanita yang setia menjaganya ini.


Wanita ini hanya diam. Namun, diamnya itu mengandung sejuta makna. Sebab diam-diam dia langsung menyuruh seseorang untuk melacak nomer ponsel tersebut agar ia tahu siapa sebenarnya yang menyebarkan berita bohong tersebut.


Bersambung....