My Sunshine

My Sunshine
TANTANGAN UNTUK DIRI SENDIRI



"Itu tadi pakde yang Raka ceritain?" tanya Zidan.


"Iya, Yah. Ya.... kita nggak jadi pergi. Pakdenya nggak bisa," ucap Raka cemberut.


"Nggak apa-apa. Lain kali kan bisa," jawab Zidan. Berusaha menenangkan sang putra.


"Tapi Raka udah siapin baju, Yah. Udah siapin semuanya." Raka menunduk sedih.


"Habis gimana? Bunda kan nggak kasih," jawab Zidan. Raka diam. Sebenarnya Zidan tak tega, namun tak mungkin baginya untuk bernegosiasi dengan Nandita. Zidan tahu bagaimana Nandita. Wanita dengan segala keunikannya itu tidak mudah disentuh, sebab ia rapuh.


"Di apartemen kan nggak ada orang selain kita berdua, bagaimana kalau bunda aja yang ikut. Biar bunda sendiri yang ngawasin kamu. Kan kita bisa main bareng, berenang bareng nanti," rayu Zidan. Seketika ide itu muncul.


"Boleh juga tu, Yah. Coba Raka tanya bunda," jawab Raka antusias. Tak ada salahnya dicoba, siapa tahu Nandita mau.


Raka beranjak dari tempat duduknya dan mendatangi Nandita yang masih asik dengan acara masaknya di dapur. Sedangkan Zidan mengikuti dari belakang, tanpa diminta ia pun langsung duduk di meja makan ruangan itu.


"Bun, pakde kan nggak bisa, tapi Raka ingin pergi. Gimana kalau Bunda aja yang ikut. Kata ayah di sana nggak ada orang kok, sekalian kita liburan. Kata ayah di sana juga sepi. Hanya ada ayah, Raka sama Bunda," rayu Raka.


Nandita menghentikan aktivitas memasaknya. Kemudian ia pun menatap Raka dan Zidan bergantian.


"Please, Bunda! Raka mohon, ya ya!" rayu Raka sembari bergelut manja di lengan sang bunda. Bukan hanya itu, bocah tampan ini juga memasang wajah memelas.


Melihat wajah Raka yang memelas membuat Nandita tak tega menolak permintaan itu. "Em, sebentar ya. Bunda lihat ada pesanan nggak!" jawab Nandita sembari menghela napas panjang. Sebenarnya ia malas, namun tak kuasa menolak keinginan sang putra. Liburan Raka gagal waktu itu.


"Oke, Raka ambilkan buku sama hape Bunda ya," ucap Raka menawarkan diri. Senyum merekah indah di bibir bocah tampan itu.


Di sisi lain ada hati yang berharap-harap cemas. Berharap tidak ada pesanan dan Nandita mau ikut dengannya. Sebenarnya itu jahat, tapi mau gimana. Boleh kan sekali-kali egois. Setidaknya sampai liburan sekolah Raka usai.


Tak lama kemudian, Raka pun datang membawa tas teteng yang berisi buku catatan pesanan milik Nandita. Tak lupa Raka juga membawakan ponsel sang ibunda.


"Ini, Bun bukunya," ucap Nandita.


"Oke, sebentar ya. Bunda siapin makan buat kalian dulu," ucap Nandita lembut. Sangat lembut, hingga membuat hati pria tampan ini berdesir indah.


"Oke, Bunda. Siap!" jawab Raka. Langsung duduk di samping sang ayah. Mereka berdua berbisik-bisik. Sama-sama berharap Nandita akan mengizinkan dan ikut bersama mereka.


Nandita telah selesai menyiapkan makan malam untuk mereka. Kemudian ia pun menyuruh Raka dan Zidan untuk makan.


"Bunda nggak makan?" tanya Raka.


Nandita tersenyum dan menggeleng.


"Kenapa?" tanya Zidan.


"Bunda kalau malam jarang makan, Yah," jawab Raka.


"Kenapa?" tanya Zidan.


"Sini Raka bisikin," pinta Raka. Zidan pun mendekatkan telinganya dan Raka mulai mengucapkan kata yang membuat mereka terkekeh. Sedangkan Nandita hanya diam dan memeriksa pekerjaannya.


"Masak sih?" tanya Zidan.


"Beneran Yah. Ayah tanya aja kalau nggak percaya," ucap Raka. Zidan hanya tersenyum. Mana berani dia bertanya. Dari datang sampai sekarang, Nandita belum mengajaknya bersua.


"Sebentar, Bunda alihkan dulu. Minta mereka langsung kirim ke toko tujuan. Jadi nggak usah mampir ke rumah. Soalnya beberapa yang sedia di tempat kita belum siap panen," jawab Nandita, masih sibuk membalas beberapa pesan pelanggannya.


"Oia, Bun. Raka lupa, tante Kinan besok minta dikirim melati loh, sama mawar merahnya satu paket satu paket. Lupa Raka, maaf ya Bun," ucap Raka sembari tersenyum.


"Iya ini pesannya udah masuk, udah Bunda balas juga. Makasih Raka udah bantu Bunda." Nandita tersenyum. Raka membalas ucapan terima kasih itu dengan acungan jempol.


Sungguh pemandangan ini membuat Zidan bangga. Bangga pada putranya yang bisa membantu sang bunda. Bangga pada Nandita yang berhasil mendidik Raka dengan kesederhanaan dan kepedulian yang tinggi.


Andai kedua orang tuanya dulu seperti ini, mungkin Zidan tidak akan menjadi pribadi yang pendendam. Tidak akan menjadi pribadi yang posesif. Tidak akan sendirian seperti saat ini. Sekali lagi, Zidan merasa beruntung. Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memiliki keluarga kandung. Yaitu Raka. Ya hanya Rakalah keluarga kandungnya saat ini. Tempatnya berkeluh kesah. Tempatnya untuk pulang. Tujuannya untuk kembali. Setelah lelah yang sering menghampiri harinya.


"Raka mau liburannya berapa hari?" tanya Nandita, masih sibuk menghitung dan memerapikan pekerjaannya. Agar ketika ia ikut Raka liburan tak ada lagi pesanan yang terlewatkan.


"Berapa hari, Yah?" tanya Raka pada ayahnya.


"Bunda ngizinin nya berapa hari?" balas Zidan.


"Ayah liburnya berapa hari?" tanya Nandita lembut. Menatap tepat mata Zidan. Pun sebaliknya.


Zidan tertegun. Diam. Berhenti mengunyah. Tak menyangka. Tentu saja, sebab ini adalah pertama kalinya Nandita memanggilnya "Ayah". Nandita memanggilnya dengan sebutan manis itu. Zidan tersenyum dalam hati. Rasanya indah saja.


"Loh, kok ditanya nggak jawab." Kali ini tatapan Nandita berubah. Bukan lagi tatapan persahabatan seperti tadi, tetapi telah berubah menjadi tatapan kesal.


Astaga, cepet amat marahnya, batin Zidan.


"Yah!" panggil Raka, mengagetkan.


"Hemm, apa?" tanya Zidan gugup.


"Tu ditanya, Bunda," ucap Raka.


"Iya, Bun. Eh, Mbak. Mau tanya apa?" tanya Zidan spontan.


Raka tertawa. Sedangkan Nandita hanya menatap sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aneh saja melihat seorang Zidan tidak fokus.


"Bunda tanya apa?" ucap Zidan.


"Kita liburannya mau berapa hari?" Nandita mengulang pertanyaanya.


"Bunda kasih izinnya berapa hari?" balas Zidan.


"Bunda rapiin kerjaannya sampai tiga hari ke depan. Hari ke empat kita pulang gimana?" Nandita mencoba bernegosiasi.


"Oke, nggak apa-apa. Tapi malam ini kita jalan ya, Bun. Biar nggak macet, nggak panas!" pinta Zidan.


"Ya udah boleh, Bunda siap-siap dulu ya. Kalian selesaikan makannya dulu. Sekalian Bunda telpon uti untuk pamit." Nandita beranjak dari duduknya dan merapikan semua pekerjaannya.


"Oke, Bun," jawab Raka. Sedangkan Zidan tersenyum bahagia. Hatinya berbunga. Entahlah, Zidan sangat antusias dengan ini. Sampai berani memberi tantangan untuk dirinya sendiri. Dalam waktu tiga hari ini setidaknya ia harus bisa membuka hati Nandita. Biarpun belum sepenuhnya membuat Nandita jatuh cinta padanya. Zidan berjanji akan meninggalkan kesan yang baik untuk Nandita dalam waktu tiga hari ini. Zidan ingin membuat Nandita merindu padanya. Sama seperti dirinya yang selalu merindu pada Nandita.


Bersambung...


Thanks buat like komen dan votenya. 😘😘😘