My Sunshine

My Sunshine
SALING MEMBALAS



"Sabar, Mbak. Semua sedang berusaha," ucap Dion mencoba menenangkan Nandita.


"Iya Dion, Terima kasih kamu udah mau aku repotin," jawab Nandita, sesekali wanita ayu ini menghapus air matanya.


"Nggak apa-apa, Mbak. Ini udah tugasku, karena abang yang minta aku buat nglindungi mereka. Maaf jika aku lalai," balas Dion sedih.


"Nggak, Dion. Ini bukan salah kamu. Justru aku harus berterima kasih pada kalian. Karena kalian begitu peduli padaku. Tapi aku sedih, kenapa harus orang tuaku. Mereka nggak tahu apa-apa. Seharusnya mereka hidup tenang di kampung. Menghabiskan waktu tua bersama. Bukan terlibat masalah seperti ini," ucap Nandita, suaranya terdengar gemetar. Kesedihan yang Nandita rasakan memang bisa dibilang dalam. Wanita ini sedang tidak pura-pura. Hatinya sungguh terluka. Terluka menatap kenyataan yang kini ada di depan mata.


"Hatimu begitu baik, Mbak. Meskipun orang tuamu menyakitimu, tak sedikitnya Mbak dendam pada mereka. Mbak luar biasa! Andai abang bisa setulus Mbak," ucap Dion serius.


"Aku tidak marah dengan mereka, Dion, sungguh. Apapun yang mereka lakukan terhadapku, aku hanya menganggap itu adalah bentuk kekecewaan mereka terhadap anak gadisnya. Yang tak mampu menjaga kesuciannya.


Tak bisa menjaga martabat mereka," ucap Nandita pada lagi.


Tangis Nandita kembali pecah. Penyesalan begitu hebat memeluk wanita ini. Entah menyesal karena apa? Sebab ia juga tak menyangka bahwa masalah yang akan ia hadapi akan berbuntut panjang seperti ini.


"Iya, Mbak. Kami tahu. Mbak yang sabar, ya. Yang kuat! Apapun yang terjadi, semua sudah ada yang ngatur, Mbak." Dion menundukkan wajahnya. Terlihat jelas bahwa ia juga sedang dalam kesedihan yang mendalam. Dan itu memang nyata adanya. Bagaimana tidak? Zidan belum di ketahui keberadaannya. Di tambah Galih jatuh sakit. Belum lagi sekarang masalah kedua orang tua Nandita. Semua masalah sepertinya suka menghinggapi pria lajang ini.


"Zidan ke mana ya, kenapa dia nggak kasih kabar ke aku? Dia nggak tahu apa, putranya nanyain terus?" tanya Nandita lagi. Seakan mengingatkan Dion, bahwa masalahnya yang ini juga tak kalah membuatnya resah.


"Aku dan timku juga sedang mencari, Mbak. Tim Vano juga, biasanya abang nggak pernah seperti ini. Aku tahu dia marah padaku, pada papi. Tapi harusnya dia nggak kekanak-kanakan seperti ini. Raja aja bisa menerima dia dengan lapang dada. Lalu kenapa dia nggak bisa? Padahal harusnya dia dengerin alasan papi kenapa ninggalin keluarganya dulu." Mata Dion terlihat berkaca-kaca. Kesal saja dengan Zidan yang tak mau menerima penjelasannya tentang Galih waktu itu.


Jujur aku bingung dengan ini, Dion. Apakah kamu keberatan jika menceritakan sedikit tentang kalian?" tanya Nandita, sembari menghapus sisa-sisa air matanya.


"Tentu saja Mbak bingung. Abang sendiri pun pasti bingung. Aku tiba-tiba datang membawa ayah kandungnya. Belum lagi papi mengakuiku sebagai putranya. Abang pasti berpikir bahwa aku memang anak papi yang lahir dari perempuan lain. Padahal nggak, Mbak. Demi Tuhan!" jawab Dion jujur.


"Sebenarnya aku pun berpikir seperti itu, Dion. Maaf jika salah," ucap Nandita jujur.


"Pasti semua orang berpikir demikian, Mbak. Nggak cuma Mbak kok yang punya pikiran begitu. Ibu Kartika semalam juga bertanya, bagaimana sebenarnya hubunganku dengan abang," jawab Dion.


Tentu saja pertanyaan itu hadir di benak semua orang, apa lagi yang mengenal Zidan dan juga Dion. Mereka pasti bingung dengan keadaan ini.


"Menurutku tak salah jika kami berpikir begitu. Karena kalian memang penuh rahasia!" jawab Nandita. Dion tersenyum.


"Aku itu anak angkat papi, Mbak. Bukan anak kandung," jawab Dion jujur. Tersenyum, Nandita hanya melongo. Tak tahu harus menjawab apa.


Zidan benar-benar menghilang. Dion sama sekali tak bisa melacak keberadaan pria itu. Bukan hanya Dion, Vano pun kelihatan jejak pria itu. Beberapa upaya telah mereka lakukan. Sayangnya hasilnya nihil. Zidan tetap belum mereka temukan.


Beberapa menit berlalu, Vano pun datang ke lokasi. Memberi kabar yang cukup mengejutkan pada Dion. Dia melihat seseorang yang mirip dengan Regen di jalan.


"Kamu serius?" bisik Dion pada sahabatnya.


"Ya, kemungkinan besar Zidan tertangkap oleh mereka," balas Vano. Kali ini pria ini menarik tangan sang sahabat agar menjauh dari Nandita. Supaya wanita itu tak mendengarkan perbincangan mereka.


"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Aku yakin mereka bukan hanya mengincar Zidan. Tapi juga Raka, Kita sembunyikan saja bocah itu dan ibunya. Haaiiiissst, Aku penasaran seberapa banyak sih anak buah mereka. Cepat sekali bergerak hah!" Vano terlihat mulai emosi.


"Bagaimana kalau kita balas?" tanya Dion.


"Maksudnya?" tanya Vano.


Dion pun mendekatkan mulutnya ke telinga Vano dan membisikan rencana yang ia miliki. Dion yakin jika rencananya kali ini pasti sanggup membuat Regen keluar dari tempat persembunyiannya.


***


Di sudut ruang yang lain, ada Zidan sedang berusaha melepaskan diri dari cengkraman Regen. Namun, Zidan tak berdaya. Karena Regen begitu tega. Tak sekalipun pria itu memberi Zidan makan. Jangankan makan, minum pun tidak.


Regen terlihat begitu bahagia karena ia mampu melumpuhkan lawannya. Bukan hanya tempat usahanya yang mampu ia babat habis. Tapi juga orangnya sekali.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Regen pada anak buahnya.


"Dia sudah setengah sadar, Bos. Apa perlu kita habisi sekarang?" tanya pria bertubuh tinggi tegap itu.


"Biarkan saja, biarkan dia mati perlahan. Oiya, usahakan Natalia tak tahu jika pria bodoh itu kita tahan. Sebelum dia mentransfer seluruh uangnya pada kita. Mengerti!" ucap Regen tegas.


"Siap, Bos!" jawab pria itu.


Regen tak ingin terlalu lama di tempat ini. Ia takut Natalia akan mencurigainya. Mau bagaimanapun dia masih memiliki misi dan tujuan untuk mengeruk aset milik wanita incarannya itu.


Selepas melihat tawanannya, Regen pun bersiap pergi dari tempat ini. Namun, langkahnya terhenti ketika ponselnya berbunyi.


Dengan cepat pria ini pun menyambut panggilan itu. "Ya!" jawab Regen.


"Maaf, Bos. Ada kabar buruk?" ucap orang di seberang sana.


"Kabar buruk apa? Jangan bertele-tele, cepat katakan!" bentak Regen dengan suara tinggi.


"Nona Haya diculik, Bos. Sepertinya Dion dan kawan-kawannya tahu jika saat ini bos mereka ada di tangan kita," lapor pria itu, sam seperti apa yang ia ketahui.


"Apa? Haya! Adikku. Brengsek! Berani sekali mereka menyentuhnya," ucap Regen penuh amarah.


Tak ada yang lebih menyakitkan dibanding kabar ini. Bisa menyekap Zidan bukan lagi kebanggaan baginya. Haya adalah adik satu-satunya. Regen tak akan mengampuni siapapun yang berani menyentuh gadis itu. Apalagi mereka-mereka yang sangat ia benci.


Bersambung...


Maaf jika masih ada typo, saya akan coba lebih teliti lagi... 🥰🥰🥰