My Sunshine

My Sunshine
KESEPAKATAN



Raka telah selesai membersihkan dirinya. Zidan langsung beranjak dari tempat duduknya dan membantu sang putra mengeringkan rambut. Menyisir rambut Raka dengan kasih sayangnya. Kemudian memberi skincare pada wajah Raka agar tidak kering. Karena mungkin mereka akan lebih lama di ruangan ini. Zidan tak ingin wajah sang putra kering karena terlalu lama berdiam diri di AC.


"Pakai ini, Nak. Biar muka Raka nggak kering," ucap Zidan. Raka terlihat ragu. Namun juga tak enak jika menolak. Ia pun mengambil krim itu dan mengoleskannya ke wajah.


"Ini Ayah taruh di tas Raka ya. Raka pakai kalau habis mandi. Biar kulitnya tetap lembab," ucap Zidan perhatian. Raka mengangguk.


"Mau maem sekarang apa nanti?" tanya Zidan.


"Nanti aja Om bareng Bunda," jawab Raka pelan. Kemudian bocah tampan ini pun kembali dekati Nandita, naik ke ranjang wanita ayu ini dan berbaring di pangkuan wanita yang melahirkannya. Dari situ, Nandita dan Zidan paham jika putranya ini tidak nyaman dengan keadaan ini.


Zidan menatap Nandita, berharap Nandita mau membantunya menjelaskan kerumitan ini pada sang putra.


Nandita paham dengan permohonan pria ini, yang memintanya membantu untuk meluruskan kerumitan yang telah hadir di tengah-tengah mereka. Nandita memang benci pada Zidan. Namun, untuk kebahagiaan Raka, apa salahnya jika mengalah sedikit.


"Bunda tahu jika Raka kecewa dengan Om. Bunda juga nggak maksa Raka untuk terima beliau sebagai ayah, sekarang. Tetapi, mau bagaimanapun Om adalah ayah, Raka. Iya kan. Ayo Raka nggak boleh gitu. Raka anak yang baik, ayah udah jauh-jauh datang ke sini buat ketemu Raka. Masak Raka begitu," ucap Nandita.


Zidan yang ada di samping mereka berdua tak kuasa menahan haru. Zidan tahu jika ini tak mudah untuk Nandita. Terlihat jelas bahwa hati Nandita tak rela mengucap semua kalimat ini. Itu semua tergambar jelas dari bibir Nandita yang bergetar. Mata Nandita menatap nanar pada Zidan. Seperti ia memang menahan amarah. Seperti menahan kebencian tetapi harus berpura-pura suka.


Zidan tahu bahwa saat ini hati Nandita mengucap sumpah serapah untuknya. Sebab tatapan nanar Nandita bak anak panah yang melesat dan menembus jantung hati Zidan. Di sini bukan hanya Nandita dan Raka yang merasakan sakit. Namun juga Zidan. Pria ini merasakan betapa apa yang dilakukan Nandita memang baik, namun tidak ikhlas. Entahlah! Zidan hanya ingin Nandita ikhlas melakukan ini. Tetapi Nandita belum mampu. Mau dipaksa seperti apapun Nandita belum bisa.


Nandita dan Zidan memiliki keinginan yang berbeda. Meskipun tujuan mereka sama, yaitu kebahagiaan Raka. Hanya kebahagiaan Raka.


Mulut mereka memang diam. Belum sama-sama terbuka, namun perasaan mereka begitu peka. Zidan paham jika ini sangat menyakitkan untuk Nandita. Pun dengan dirinya.


"Maaf," ucap Zidan lirih. Ingin rasanya Zidan menghapus air mata yang mulai menetes di kedua pipi Nandita. Entahlah, tanpa mereka sadari ternyata mereka sama-sama saling menyakiti. Namun, juga ingin tak saling menyakiti. Zidan ingin membuat Nandita bahagia. Sedangkan Nandita ingin tidak membenci Zidan. Ingin ikhlas tapi dari dalam hatinya ada sisi yang memintanya untuk tetap membenci pria ini.


Zidan bisa merasakan apapun yang Nandita rasakan . Begitupun dengan Nandita. Melihat mata Zidan berkaca-kaca, sebenarnya ia juga tahu bahwa sebenarnya pria ini juga menahan nyeri di hati akibat perlakuannya.


Nandita dan Zidan masih saling menatap. Gejolak jiwa yang mereka rasakan ternyata mampu menahan mulut mereka untuk tidak saling berucap. Sebab mereka sama-sama menahan diri untuk tidak saling menyakiti.


Zidan menundukkan kepalanya.


Menyembunyikan air mata yang mulai tak bisa ia tahan. Sedangkan Nandita pun sama. Wanita ini juga tak kuasa menahan tangis, apa lagi melihat sang putra terkekan seperti ini.


Zidan beranjak dari duduknya, kemudian mengambilkan minum dan juga tisu untuk Nandita. Kali ini wanita ini tidak menolak, ia menerima dengan senang hati air dan tisu tersebut. Zidan sudah cukup senang, meskipun tak ada kata Terima kasih yang keluar dari mulut wanita cantik ini.


Nandita tak mau berlama-lama larut dalam bisikan kebimbangan. Ia pun kembali membujuk sang putra, untuk bisa menerima kehadiran Zidan.


"Raka ingat nggak waktu Raka ulang tahun ke lima. Raka bilang, pengen banget ketemu ayah. Pengen peluk ayah. Ini ayah Raka sudah datang. Kok Raka jadi sedih, harusnya kan Raka seneng," ucap Nandita sembari mengelus rambut sang putra.


Raka masih belum mau berbicara. Masih diam dan memainkan selimut yang menutupi kaki Nandita. Bocah tampan ini kembali menutup mata. Seperti tidak ingin mendengarkan apapun yang orang katanya. Benar apa yang Nandita pikirkan, bahwa sebenarnya Raka butuh waktu sendiri.


"Pinjam handphone," bisik Nandita pada Zidan.


"Apa?" tanya Zidan sembari berbisik pula.


"Pinjam handphone," kali ini Nandita berucap lebih keras. Zidan yang mendengar langsung memberikan ponselnya pada Nandita.


"Raka butuh waktu sendiri, maukah kamu meninggalkan kami sebentar!" tulis Nandita di dalam ponsel milik Zidan.


Zidan menatap Nandita. Seperti tak ingin meninggalkan mereka. Namun Nandita melipat kedua tangannya memohon.


"Baiklah," ucap Zidan. Pria tampan ini pun mengalah. Zidan pun bersiap meninggalkan ruangan itu. Namun baru mau melangkah tanpa sengaja tangan Nandita meraih tangan Zidan. Terang saja Zidan kaget dan tidak menyangka jika Nandita mau menyentuhnya.


"Apa?" bisik Zidan pelan.


"Pamit dulu," balas Nandita berbisik pula.


"Oh, oke!" balas Zidan.


Zidan menatap tangan Nandita yang menggenggam tangannya tanpa sengaja. Sedangkan Nandita yang baru menyadari hal itu langsung melepaskan tangan pria tampan ini. Mereka saling menatap sekilas, lalu salah tingkah.


Pria tampan ini tak ambil pusing dengan kejadian ini. Meskipun tidak dipungkiri bahwa ia menyukai ini. Zidan tersenyum sambil melirik Nandita. Beruntung Nandita tidak menyadari senyuman itu.


Tak menunggu waktu lagi, Zidan pun berpamitan dengan Raka.


"Dek, Ayah pergi sebentar ya. Jagain Bunda ya. Kalau ada apa-apa telpon Ayah. Oke!" ucap Zidan berpamitan.


Raka tidak mengangkat wajahnya. Namun ia menganguk mengiyakan. Setelah itu Zidan pun melangkah meninggalkan dua orang yang sangat ia cintai.


Beberapa saat kemudian Nandita mengirimkannya sebuah pesan teks yang mengatakan bahwa Zidan tidak perlu pergi terlalu lama. Satu jam saja sudah cukup untuk Raka menenangkan diri. Zidan pun membalas pesan itu dengan senang hati. Sikap Nandita menghadirkan sedikit rasa bahagia di sudut hati Zidan. Terlebih ketika Zidan bertanya, "Apakah kamu masih keberatan kalau aku berusaha mendekati Raka, Mbak?"


Dengan cepat Nandita menjawab, "Tidak."


Lalu, Zidan pun bertanya lagi, "Apakah aku boleh menemui putraku setiap saat?"


Nandita juga menjawab, "Boleh, asalkan jangan membawanya."


Zidan sepertinya keasikan mengobrol via online dengan Nandita. Ternyata wanita yang melahirkan putranya adalah wanita baik hati dan lemah lembut. Kembali hati Zidan teriris perih, menyesal karena telah menyakiti wanita cantik itu.


"Jika Raka ingin liburan dan aku pas ada waktu, boleh kan kalau kita pergi bareng. Aku, kamu dan Raka. Main bareng?" tulis Zidan lagi.


"Maaf saya tidak suka keramaian," balas Nandita. Sayangnya jawaban Nandita kali ini menghadirkan prasangka lain dalm diri Zidan. Pria ini berpikir, Nandita bukan tidak suka keramaian, tetapi takut keramaian. Dan lagi-lagi itu semua karenanya.


"Baiklah, tapi jika Raka ingin, boleh kan Mbak aku mengajaknya jalan-jalan?" tanya Zidan lagi.


Nandita tidak membalasnya. Namun Zidan tidak memaksa. Ia tahu pasti Nandita juga membutuhkan waktu untuk mengerti dirinya sendiri. Untuk memahami situasi. Untuk mempercayainya terlebih dahulu. Namun, di akhir obrolan, mereka sepakat untuk memikirkan dan membahagiakan Raka bersama. Sebab, mau bagaimanapun Raka adalah darah daging mereka berdua.


Zidan percaya, kesungguhan hatinya pasti akan memberikannya jalan terbaik untuk mendapatkan kasih sayang Raka dan maaf Nandita. Tinggal bagaimana ia membuktikan kesungguhannya.


Bersambung...


Like like n Komen jangan lupa😘😘😘