My Sunshine

My Sunshine
PEMBICARAAN AYAH dan ANAK



"Apakah boleh jika saya berterus terang pada Raka bahwa saya adalah ayahnya?" tanya Zidan pada Kartika.


Kartika melirik Zidan sekilas, lalu mengembuskan napas dalam-dalam. Sebenarnya ini bukan hak bagi Kartika untuk memberi keputusan. Ini adalah hak Nandita. Namun karena Zidan bertanya padanya, terpaksa Kartik menjawabnya.


"Kalau bagiku pribadi, aku tidak akan melarangmu untuk berterus-terang tentang apa yang sebenarnya terjadi, tetapi alangkah baiknya jika kamu bicarakan ini terlebih dahulu dengan Dita. Mau bagaimanapun dia lebih berhak dariku. Sebab dia adalah pemilik utuh bocah itu. Bukan kamu atau pun aku," jawab Kartika. Langsung pada intinya. Sebab ia juga enggan bertele-tele dalam masalah sensitif ini.


"Sekali lagi terima kasih, Tan dan maafkan saya karena selama ini tanpa disadari, saya telah merepotkan anda," ucap Zidan.


"Tidak masalah, kamu tidak perlu sungkan. Aku memberimu kesempatan bukan karena aku memaafkanmu seutuhnya, tetapi ini demi Raka. Aku mau bocah itu mendapatkan haknya untuk mendapatkan kasih sayang ayahnya. Kalau soal Nandita sendiri, aku belum bisa memaafkanmu! Buktikan dulu keseriusanmu menjaga mereka, buktikan dulu ketulusanmu memperbaiki diri, baru aku bisa memutuskan, apakah kamu berhak mendapat maafku atau tidak," ucap Kartika lagi.


Kali ini Zidan tak bisa menjawab. Ia hanya mendengarkan, memasukan semua untain kata itu di dalam otaknya. Lalu mencatatnya di dalam memori. Ini adalah hal yang sangat penting bagi kehidupannya ke depan. Zidan hanya mau memperbaiki diri dan bertanggungjawab jawab penuh atas kesalahannya. Mereka, Nandita, Kartika dan Raka tidak membawa masalah ini ke jalur hukum saja Zidan sudah bersyukur.


"Saya akan mencoba mendekati Nandita, Tan. Saya akan berusaha mendapatkan maafnya." Zidan menatap mata Kartika, berharap Kartika percaya pada keseriusannya.


"Aku tidak butuh janjimu, tapi aku butuh pembuktian. Menyembuhkan Nandita itu tidak mudah. Sebab saat kamu melakukan itu padanya, usianya masih sangat-sangat muda. Mentalnya belum siap menerima gempuran. Tiba-tiba, tanpa ada angin, tanpa ada hujan, dia terpaksa menerima sesuatu yang di luar kendalinya. Aku berharap kamu bisa lebih mengalah, jangan pakai egomu untuk memaksanya, kamu tahu kan hati Nandita rapuh!" tambah Kartika serius.


Zidan masih setia mendengarkan.


"Boleh aku aku tahu identisasmu?" tanya Kartika. Mungkin ini kurang sopan, tetapi Kartika harus mengantisipasi apapun untuk Nandita. Ia tak ingin kecolongan selama Nandita masih menjadi tanggung jawabnya.


"Tentu saja boleh, Tan. " Zidan mengeluarkan kartu identitasnya dan memberikanya pada Kartika.


Dibacanya kartu itu dengan teliti. Ada sedikit kewaspadaan di sana. Sebab, Kartika tahu jika Zidan bukan orang sembarangan. Pria ini memiliki kekuasaan di atas rata-rata. Kartika mengembalikan kartu itu dan mengajak Zidan kembali ke ruangan di mana Nandita.


Di dalam ruangan itu, terlihat Raka sedang menyuapi ibundanya. Dengan sabar dan penuh kasih sayang. Siapapun yang melihat pemandangan langka itu pasti senang. Anak seusia Raka begitu sayang dan perhatian terhadap ibunya. Tak ingin ibunya sakit. Tak ingin terjadi hal buruk pada wanita yang melahirkannya ini.


Tentu saja ini menghadirkan rasa bangga di hati Zidan. Sang putra memiliki kebaikan hati yang luar biasa. Bukan hanya cerdas dalam pemikiran namun juga tanggap dalam permasalahan.


"Sudah," ucap Nandita ketika melihat Zidan dan Kartika masuk ke dalam ruangan di mana dia berada. Mungkin Nandita malu karena disuapi oleh Raka atau masih takut melihat Zidan.


Raka tidak memaksa, ia pun meletakkan sarapan sang ibu dan menutupnya kembali. Tak lupa, bocah tampan ini juga mengambilkan air minum untuk sang bunda.


"Terima kasih," ucap Nandita sembari tersenyum pada Raka dan bocah tampan ini pun membalas senyuman sang ibunda.


Zidan hanya duduk dan memerhatikan adegan tersebut. Entah mengapa, Zidan merasa Nandita dan Raka adalah miliknya sekarang. Andai Nandita tak takut padanya pasti saat ini Zidan akan memilih mendekati dan bercanda gurau dengan mereka.


***


Hari berlalu dengan begitu cepat. Tak terasa sore telah datang. Sinar keemasan yang terlihat di balik jendela menghadirkan suasana syahdu di ruangan itu. Terlebih ketika Zidan tak mengaja menangkap seraut wajah cantik yang terlelap manis di ranjang pasien. Entahlah, Zidan hanya suka menatap wajah ayu itu.


Tiba-tiba rasa ingin memiliki wanita ini hadir begitu saja. Entahlah, tiba-tiba saja Zidan menginginkan Nandita.


"Astaga, aku ini mikir apa sih," gumam Zidan sembari memukul pelan kepalanya. Berusaha melupakan keinginanannya yang tak mungkin. Zidan tak berani berharap, sebab ia tahu jika Nandita sangat takut padanya. Mana mungkin Nandita mau dengannya.


Raka terbangun dari tidurnya ketika merasakan ada tangan seseorang yang mengelus keningnya. Bukan hanya mengelus, Zidan juga memberikan kecupan penuh kasih sayang di kening bocah tampan ini. Raka tidak terkejut ataupun menolak. Bocah tampan ini malah tersenyum.


"Sore, Om. Maaf Raka ketiduran," ucap Raka dengan senyum tampannya.


"Nggak apa-apa. Om tahu jika Raka capek," jawab Zidan. Kemudian Raka bangun dan merapikan selimutnya.


"Bunda belum bangun ya, Om? Uti kemana Om? " tanya Raka.


"Oh, pasti ada yang meninggal. Ya udah Om nggak apa-apa. Makasih ya udah jagain bunda dan Raka," jawab Raka dengan senyum manisnya.


"Panggilan kerja? Orang meninggal? Apa hubungannya?" tanya Zidan heran. Raka tertawa. Baginya melihat ekpresi kebingungan Zidan adalah sesuatu yang lucu.


"Jadi kerjaan uti itu merias jenazah, Om. Kalau bunda jualan perlengkapan jenazah," jawab Raka, bocah tampan ini kembali terkekeh. Sebab ekpresi Zidan sungguh lucu, seperti terkejut, pasti hadir rasa ngeri dalam hati Zidan Meskipun sebenarnya ia sudah tahu.


"Kenapa Om? Ngeri ya?" ledek Raka.


"Sedikit sih, mereka memilih pekerjaan yang aneh!" jawab Zidan. Raka kembali tertawa. Sedangkan Zidan hanya tersenyum sembari melirik sayang pada sang putra.


Tak lama berselang, mereka berdua terdiam sejenak, tetapi tetap melempar senyum persahabatan.


"Boleh Om tanya sesuatu?" ucap Zidan. Raka menatap pria tampan ini, kemudian ia pun menjawab. "Tentu saja, Om. Tanya saja!"


"Apakah Raka tahu siapa ayah Raka?" tanya Zidan mulai membuka obrolan.


Raka menggeleng.


"Apakah Raka nggak ingin tahu siapa ayah Raka?" Zidan kembali melanjutkan pertanyaannya.


"Ingin Om, tapi bunda selalu bilang bahwa, ayah Raka ada di hati Raka. Dia tidak kemana-mana. Jadi tidak perlu dicari," jawab Raka sesuai apa yang Nandita ucapkan, jika Raka mulai menanyakan sang ayah.


"Benarkah? apakah bundanya Raka bilang begitu?" Zidan tersenyum. Sebab, ia bahagia ternyata Nandita tak pernah menjelek-jelekan dirinya di depan Raka. Padahal jika diingat, ia termasuk dalam barisan pria bejat yang pernah ada.


"Iya, Om. Bunda selalu bilang begitu." Raka menatap sang ibunda yang masih terlihat nyaman di alam mimpi.


"Apakah Raka akan marah jika Om kasih tahu yang sebenarnya?" tanya Zidan, pelan dan hati-hati. Tentu saja ia harus memilih bahasa yang tepat. Soal waktu, inilah waktu yang tepat untuk memberi tahu sang putra, siapa dirinya sebenarnya. Zidan tak ingin kehilangan momen langka ini.


"Kasih tahu apa, Om?" balas Raka.


"Om dan ibunya Raka, kami memiliki masa lalu yang ternyata telah menghadirkan Raka." Zidan diam sejenak. Menatap Raka dan mempelajari ekpresi anak tersebut. Sedangkan Raka juga membalas tatapan itu. Bocah tampan ini diam, menunggu untain kata yang akan Zidan sampaikan selanjutnya.


"Jadi?" tanya Raka menerka-nerka dalam hati.


"Iya, apa yang Raka pikirkan adalah benar. Om adalah ayah kandung Raka dan Om minta maaf karena Om tidak tahu bahwa Raka ada." Zidan kembali diam. Mengatur napasnya dan membangkitkan kembali keberaniannya untuk menghadapi amarah bocah ini.


"Memangnya, bunda nggak kasih tahu kalau ada Raka?" tanya Raka lugu.


Zidan menilai wajar jika Raka bertanya seperti itu. Namun, ia tetap harus menjawab pertanyaan itu.


"Bukan bunda nggak kasih tahu, tapi bunda mungkin nggak tahu di mana Om berada. Pun sebaliknya, Om juga nggak tahu di mana bunda berada. Om sama Bunda ketemu lagi ya pas hari itu!" jawab Zidan jujur. Raka hanya mengangguk-anggukan kepala. Bocah tampan ini tidak marah, sebab ia belum begitu paham arti dari semua kejadian ini.


"Apakah Raka mau memaafkan, Om?" tanya Zidan lagi.


"Insya Allah, Om!" jawab Raka pelan, tersenyum sedikit. Sepertinya, Raka juga belum bisa menerima kenyataan ini. Bocah tampan ini memilih meninggalkan Zidan dan mendekati sang bunda. Zidan tidak melarang, karena ia paham bahwa saat ini ada dilema di dalam hati sang putra.


Bersambung...