My Sunshine

My Sunshine
ISTRIKU?



"Dion!" panggil Zidan ketika mereka sampai di pelataran GOR.


"Siap, Bos!" jawab Dion tegas.


"Cari info tentang Raka dan ibunya. Terutama ibunya!" pinta Zidan sembari memakai kaca mata hitamnya.


"Untuk apa, Bos?" tanya Dion bingung.


"Cari tahu saja, banyak nanya kamu!" gerutu Zidan.


"Bukan gitu, Bos. Masalahnya cari tahu tentang apa? Untuk apa? Dalam hal apa?" sanggah Dion. Menatap sang majikan, dengan tatapan heran tentunya.


Zidan jadi ikutan bingung bagaimana menjelaskan masalah pelik ini pada sang asisten. Pria ini memilih diam sejenak. Lalu masuk ke dalam mobil dan memerhatikan sekelilingnya.


Tanpa disangka, mobil yang ia tumpangi berhadap-hadapan dengan mobil Sonia yang membawa Nandita dan Raka.


"Yon, bukankah itu MC yang ngisi acara tadi?" tanya Zidan.


"Betul, Bos. Kenapa emang?" Dion malah balik bertanya.


"Kok Raka ikut bareng dia?" Mata Zidan tertuju pada Raka dan ibunya.


"Lah kan mereka satu kampung, Bos. Wanita yang ngem-C tadi guru Raka. Terus yang pakek kerudung itu guru bahasa Inggris Raka, kalau nggak salah," jawab Dion. Sesuai yang ia tahu.


"Oh!" balas Zidan singkat. Mata tampannya masih fokus pada wanita ber baju batik itu. Yang tak lain dan tak bukan adalah Nandita. Wanita yang ingin ia peluk dan mengungkapkan segala penyesalalannya.


"Apakah Raka tidak memiliki ayah? Mengapa aku tidak melihatnya? " tanya Zidan.


Dion mulai menjalankan mobilnya. "Kan kita udah bilang waktu itu, Bos. Kalau dia itu anak yatim," jawab Dion.


"Yatim palamu, dia itu masih punya ayah tahu. Ayahnya ganteng gagah gini!" ucap Zidan kesal.


"Loh, tadi nanya. Sekarang dijawab sendiri. Gimana sih, Bos?" Dion mengerutkan kening, melirik heran pada sang majikan.


"Kenapa kamu nglirik-nglirik. Berani sekarang?" tantang Zidan.


"Bukan gitu, Bos. Kan Bos nanya, Raka punya bapak enggak. Ya saya jawab enggak, kan di akte juga cuma ada nama ibunya kan!" jawab Dion menjelaskan.


"Maksudku bukan ayah kandung. Ayah sambung mungkin!" sanggah Zidan.


Dion bertambah bingung. Sebenarnya sang majikan maunya bagaimana. Mau ayah kandung, ayah sambung. Kan judulnya tetap ayah dan Raka tidak memiliki itu. Pria ini kembali meluruskan pandangannya. Merinding melihat tatapan kesal Zidan untuknya.


"Tidak, Bos maaf. Aku kan hanya menjawab apa yang saya tahu. Eh tunggu dulu!" Dion terlihat berpikir. Sedangkan Zidan masih asik mencari seseorang yang bisa membantunya membuktikan bahwa Raka adalah putranya.


"Bos!" Dion melirik Zidan sekilas.


"Heemmm!"


"Bos tadi bilang, Raka bukan anak yatim. Lalu, Bos juga bilang kalau ayah anak itu masih gagah dan tampan. Apakah?" Dion tak berani melanjutkan pertanyaannya. Sebab, lirikan maut Zidan membuat nyalinya menciut.


"Kamu pikir?" Zidan menaruh kembali ponselnya di saku jasnya. Kemudian menghela napas panjang. Menggaruk keningnya yang mungkin tidak gatal. Hanya saja, hatinya yang dilanda kegelisahan. Sedangkan Dion masih saja bingung. Pertanyaan yang ia ajukan hanya di jawab teka-teki oleh Zidan.


"Bos, sebaiknya jelaskan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi! Agar aku tidak menduga-duga dan salah!" pinta Dion tegas.


"Aku dan ibunya Raka, kami...." Zidan menghentikan ucapannya. Memegang kepala, seakan masih berusaha menahan kenyataan mengerikan itu.


"Kalian pernah pacaran, Bos?" tanya Dion spontan. Tentu saja, Dion berpikir seperti itu dan itu wajar.


"Tidak, dia istriku!" jawab Zidan bohong.


"Istri, Bos!" pekik Dion. Terkejut! Dion sangat-sangat terkejut. Bagaimana tidak? Jawaban yang ia dengar sama sekali tidak ia duga. Lalu, pertanyaan pun menyeruak di otak pria ini. Anak? Istri? Nikahnya kapan? batin Dion.


Dion diam. Masih berusaha menata pikirannya. Menjawab sendiri pertanyaan yang masih mengganjal di relung hatinya.


Jawaban yang Zidan berikan, nyatanya mampu mengalihkan perhatian Dion. Pria ini hampir kehilangan keseimbangan. Mobil yang ia kendarai sedikit oleng, sampai hampir menabrak mobil yang ada di depannya.


"Hati-hati, kamu mau bikin aku mati!" hardik Zidan kesal.


"Sorry, Bos sorry. Aku hanya kaget, Bos," jawab Dion gugup. Mengelus dadanya sendiri. Merasakan detak jantungnya yang memacu dengan cepat. Terang saja dia gugup. Setahu Dion, Zidan hanya terlibat dan berhubungan dengan satu wanita yaitu Nathalia. Seorang model ternama yang sangat tergila pada Zidan. Lalu? Kabar mengejutkan ini datang.


"Kenapa kaget?" selidik Zidan.


"Tidak, Bos, maaf. Aku hanya memutar balik ingatan ini. Pantesan Raka mirip sekali dengan anda, ternyata!" ucap Dion. Tertawa, menertawakan kejeliannya.


"Sejak kapan Bos tahu jika Raka ada?" pancing Dion.


"Kepo!" jawab Zidan singkat. Seketika Dion pun tertawa. Rasanya lucu sekali melihat Zidan dalam kondisi seperti ini. Baginya, sang Majikan memang unik, mau senang mau sedih, ekpresinya selalu datar-datar saja. Tak pernah menunjukkan ekpresi berlebihan. Sehingga, sulit untuk orang lain mengerti tentang suasana hatinya.


"Apa kita mesti jemput Raka dan ibunya?" tanya Dion.


"Kamu selidiki dulu, apakah selama ini wanita itu memiliki seorang pria atau masih setia padaku?" pinta Zidan singkat.


"Oke, siap laksanakan, Bos!" jawab Dion semangat. Kini Dion mengerti, mengapa Zidan memintanya menyelidiki wanita itu. Ternyata itu alasannya.


Dion terlihat terus mengembangkan senyum tampannya. Entahlah, rasanya Dion suka saja, jika nanti nyonya di rumah itu adalah Nandita. Wanita lemah lembut dengan segala kesederhanaannya. Bukan wanita seksi dengan segala perintahnya yang kadang tak masuk akal itu. Huufff, menjengkelkan sekali! batin Dion kesal.


Di lain hati, ada Zidan yang terpaksa berbohong pada Dion. Sebab ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Tentang malam itu. Tentang kejahatannya. Tentang kegelisahanonya selama ini dan tentang kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Tentu saja juga tentang, tangungjawab barunya yaitu melindungi Raka dan Nandita dari para musuh-musuhnya.


Terlebih, musuh bebuyutan Zidan sebentar lagi akan bebas dari penjara. Tak menutup kemungkinan jika pria yang telah menyebabkan adik kandungnya meninggal akan kembali membuat ulah. Baiknya Zidan harus waspada dari sekarang.


***


Di mobil Sonia...


Nandita masih belum bisa menguasai dirinya. Wanita ini hanya diam. Memendam sendiri perasaan takut yang menyerangnya. Ia sangat takut jika nantinya Zidan tahu bahwa Raka adalah putranya. Lalu, merampas buah hatinya ini darinya. Baik secara fisik maupun hukum. Mengingat, Zidan adalah orang berada yang bisa melakukan apapun demi mencapai tujuannya.


Nandita tahu diri. Tak mungkin baginya menang melawan Zidan. Namun, ia berjanji akan mempertahankan Raka apapun yang terjadi. Meskipun nyawa adalah taruhannya. Nandita berjanji tak akan menyerah begitu saja pada pria itu.


Aku tak akan menyerah melawanmu pria jahat, batin Nandita kesal.


Bersambung...


Terima kasih buat kalian yang selalu setia mendukung karya-karya saya😘😘😘