My Sunshine

My Sunshine
SEDIKIT PETUNJUK



Zidan pura-pura tidak melihat bocah tampan itu. Ia berusaha memusatkan pehatiannya pada laptop yang masih menyala.


"Yah, Raka udah mandi," ucap bocah tampan ini seraya berlari kecil. Kemudian tanpa di minta ia pun memeluk manja sang ayah.


"Oh ya, pantesan harum. Pakek sabun bunda ya," balas Zidan.


"Kok Ayah tahu." Raka memainkan dagu sang ayah. Sepertinya bocah tampan ini menyukai dagu sang ayah, serta kumis tipis yang menghiasi wajah pria tampan ini.


"Tahulah, kan Raka sendiri yang bilang kalau bunda suka bau lavender, kan." Zidan merapikan rambut Raka yang masih basah karena habis mandi.


"Eh, iya. Raka lupa, Yah." Bocah tampan ini terkekeh. Sedangkan Zidan hanya tersenyum dan bersikap memanja Raka seperti biasa. Sedangkan Raka langsung merangkul kan kedua tangannya di leher sang ayah.


"Yah, boleh nggak Raka tanya sesuatu?" Raka menatap Zidan.


"Tanya aja, Sayang. Raka mau tanya apa?" Zidan mencolek hidung Raka.


"Kita duduk sana aja, Yah!" Raka menunjuk sofa dan mengajak sang duduk di sana.


"Oke!" jawab Zidan. Pelan dan hati-hati akhirnya Zidan pun beranjak dari kursi duduknya dan menuruti sang putra untuk mengobrol di sofa kamar mereka.


Karena telah diizinkan bertanya, maka Raka pun bertanya. "Ayah kenal nggak sama preman yang menyerang kita semalam?" Bocah tampan ini menatap sang ayah.


"Ayah nggak tahu pastinya, Dek. Karena Ayah belum dapat informasi lengkapnya. Kenapa? Apakah Raka mencurigai sesuatu?" selidik Zidan. Pria tampan ini membalas tatapan mata sang putra yang berbinar. Seperti mengetahui sesuatu.


"Kalau pastinya sih Raka nggak tahu juga, Yah. Tetapi pria yang menusuk Ayah, Raka sering lihat di dekat sekolah." Raka menatap Zidan.


"Masak sih?" Zidan mengerutkan kening tak percaya.


"Serius, Yah. Tadi Raka bahas ini sama bunda. Kata bunda Raka suruh kasih tahu ayah," tambah bocah tampan ini.


Zidan menatap Raka sekilas. Lalu ia pun berpikir. Mungkinkah?


"Kalau Raka tidak percaya, yuk ke tempat bunda. Kita lihat foto-foto di handphone milik bunda!" ajak Raka, sembari menarik pelan tangan sang ayah.


"Oke, sebentar. Ayah sedikit kesusahan ini bangunnya," jawab Zidan seraya berusaha bangkit dari sofa. Kemudian tanpa banyak bicara mereka pun keluar kamar dan berjalan menuju kamar Nandita.


Sebenarnya Zidan kurang nyaman masuk ke kamar Nandita. Takut pikiran mesumnya kambuh. Takut pikiran ingin memeluk wanita itu kambuh. Terlebih jika mencium aroma khas Nandita. Rasanya jiwa kelelakian Zidan langsung bangkit. Andai Nandita sudah bisa diajak berbicara baik-baik, serta sudah bersikap manis padanya. Ingin rasanya Zidan mengajaknya menikah. Hidup bersama dalam satu atap.


Ah, entah kapan itu bisa terjadi, batin Zidan sembari melirik manja sang putra.


"Bun!" panggil Raka, seraya mengetuk pintu kamar wanita cantik itu.


"Ya, sebentar!" Terdengar suara lembut dari balik pintu. Kemudian tak lama pintu pun terbuka.


Mata Zidan berbinar. Sebab ia di


suguhi pemandangan yang bikin hati Zidan adem. Nandita berpakaian santai. Hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih dan kulot panjang bermotif bunga. Terlihat sangat manis, meskipun baju dan celananya kedodoran. Apalagi, rambut yang basah yang tergerai bebas. Tentu saja memberikan kesan manis pada wanita tersebut. Wajah polos tanpa make up, namun terlihat mulus tanpa jerawat. Bibir merah cerry alami tanpa lipstik. Belum lagi bau lavender yang keluar dari tubuh wanita itu. Tentu saja sukses mengaduk-aduk jiwa kelelakian pria tampan ini. Jujur Zidan gemas sendiri. Ingin rasanya ia memeluk wanita itu dan menumpahkan segala ingin yang sedang ia tahan. Entahlah, Zidan sangat tersiksa dengan ini. Ternyata Nandita telah sukses membuat jiwa lelakinya meronta dengan hebatnya.


Please Zidan, jangan sekarang. Kamu bisa dicakar anakmu. Kamu lihat sendiri kan kehebatan putramu, sarung tinjunya ngeri Zidan, guman Zidan dalam hati. Lalu ia tersenyum geli, membayangkan Raka akan menyerangnya jika ia berani mencium sang bunda.


"Bun, Raka sudah kasih tahu ayah. Ayah pengen lihat fotonya, boleh?" tanya Raka ketika pintu kamar wanita cantik itu terbuka untuk mereka.


"Boleh, tunggu sebentar. Bunda ambilkan handphone-nya dulu," jawab Nandita seraya melangkah pergi meninggalkan dua pria tampan yang setia menunggunya di depan pintu.


Dasar Zidan, ia pikir Nandita akan mengizinkannya masuk ke dalam kamar tersebut. Namun sayang, Nandita sangat menjaga privasinya. Membuat Zidan malu pada dirinya sendiri.


Tak lama Nandita pun mendekati mereka dan memberikan ponselnya pada pria itu.


"Sebaiknya Ayah duduk, nanti sakit jahitannya," ucap Raka memperingatkan.


"Oke, boleh deh," jawab Zidan Menurut. Dengan tertatih Zidan pun berjalan mendekati sofa dan duduk berdua di sana. Sedangkan Nandita mengikuti dari belakang.


Mereka pun duduk di sofa masing-masing. Raka di satu bangku dengan sang ayah. Sedangkan Nandita di sofa sebelahnya.


"Eh, maaf Bun. Ayah lancang," ucap Zidan ketika langsung membuka aplikasi milik Nandita tanpa izin.


"Nggak apa-apa, buka aja," jawab Nandita mempersilakan.


"Oke, di mana disimpan?" tanya Zidan.


"Di pesan chat ada, di kontak bu Sonia," jawab Nandita seraya bangkit dan duduk di samping Zidan.


"Ini, tu. Sama kan ama pria semalam. Bajunya aja sama, kaos kuning di pasukan dengan jaket," ucap Nandita menjelaskan. Tanpa berpikir macam-macam. Sayangnya tidak dengan pria yang diapit ibu dan anak ini. Jantungnya serasa meledak, sebab ia tak fokus pada permasalahan yang mereka hadapi. Fokusnya malah beralih untuk wanita beraroma lavender ini.


"Yah!" tegur Raka mengagetkan.


"Eh, iya kenapa?" tanya Zidan terkejut.


"Kok Ayah bengong, itu bunda kasih tahu," ucap Raka seraya menatap aneh ke arah sang ayah.


"Eh, iya maaf-maaf. Mana Bun fotonya?" tanya Zidan, berusaha menepis sesuatu yang menghalangi fokusnya.


"Ini loh, tu .... coba di-zoom," pinta Nandita sembari menunjukkan foto itu. Sedangkan Zidan serius mengingat dan mempelajari foto itu.


"Iya, bener Bun. Itu pria yang menyerang kita tadi malam. Siapa ini yang fotoin?" Zidan mengerutkan kening.


"Ini bu Sonia yang fotoin, Yah. Beliau sangat suka mengambil gambar kami ketika sedang bermain atau sedang kegiatan. Lalu tanpa sengaja preman ini ketangkep kamera. Dia memang sering nongkrong di depan sekolah Raka. Kan Ayah tahu di depan sekolah Raka suasananya seperti itu. Sepertinya kita sedang di awasi kan, Yah? " jawab Raka sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Langsung jiwa detektig anak ini bangkit.


"Sepertinya begitu, Dek. Nggak mungkin seseorang menyerang kalau tidak punya alasan, iya kan? Coba Ayah konsultasikan ini sama teman Ayah. Barang kali dia paham," balas Zidan mencoba menutupi kecurigaannya. Bersikap polos, agar Nandita tak curiga bahwa sebenarnya segerombolan preman itu adalah musuhnya.


"Sepertinya begitu, Yah. Soalnya dia juga pernah pura-pura jadi pembeli perlengkapan jenazah di toko bunda. Mungkinkah ini juga bagian dari misinya, Yah?" Raka semakin memperjelas maksudnya.


"Astaga, sejak kapan itu? Benarkah itu, Bun? " tanya Zidan.


"Iya, kayaknya Bunda pernah lihat pria ini di toko," jawab Nandita seraya meminta kembali ponselnya.


Zidan hanya mengerutkan kening. Bagaimana Nandita tahu? Dia kan tidak pernah pergi ke toko.


"Ni, Yah. Dia bukan?" tanya Nandita seraya menunjukkan rekaman CCTV toko.


Oh, dia lihat dari rekaman CCTV, kirain, batin Zidan. Lagi-lagi pria tampan ini tertipu dengan prasangkanya sendiri.


"Iya, Bun. Bener ini dia," ucap Zidan. Kembali sikap sok polosnya ia keluarkan.


"Bun, boleh nggak foto dan rekaman video itu, Ayah minta. Biar kawan Ayah cari tahu siapa mereka!" pinta Zidan lembut.


"Tentu, Bunda kirim ke mana ni?" tanya Nandita.


"Ke nomer Ayah langsung aja, Bun," jawab Raka spontan.


Nandita menatap Zidan. Sebab selama ini Nandita tidak mau berhubungan dengan Zidan. Apa lagi lewat dunia maya. Jika tidak, mana mungkin ia membelikan Raka ponsel sendiri. Nandita sangat menjaga jarak dengannya.


"Kalau nggak Bunda kirim ke nomer Raka aja, Bun. Biar Raka nanti yang kirim ke Ayah," ucap Zidan memberi jalan.


"Udah nggak pa-pa. Mana nomernya!" balas Nandita mau menerima.


Andai saat ini Zidan bisa bersorak, maka ia akan bersorak tanpa malu. Hanya saja ia harus menjaga wibawanya di depan sang putra. Jangan sampai kesenangannya menjatuhkan harga dirinya. Meskipun tak dipungkiri bahwa ia sangat menyukai ini. Akhirnya ia memiliki nomer pribadi Nandita, tanpa meminta apa lagi memaksa.


Tanpa menunggu waktu lagi, Zidan pun membacakan nomer ponselnya. Dengan cekatan Nandita pun mencatat. Kemudian ia pun menyimpan nomer itu, sebelum ia mengirim semua file yang Zidan inginkan.


Zidan bersyukur ternyata Tuhan memang benar-benar baik padanya. Tanpa sengaja, Tuhan telah memberikan sedikit petunjuk baginya. Untuk mengetahui siapa sebenarnya dalang dari kejadian penyerangan itu.


Bersambung...


Terima kasih atas like komen dan votenya temn-teman. Sayang kalian๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜