My Sunshine

My Sunshine
Diam-diam Tahu



Raka terduduk lemas di kursi ruang tunggu. Kabar yang ia terima dari Dion seakan membuktikan kinerjanya belum sempurna. Nyatanya ia kecolongan.


Tanpa ia sadari, kakeknya telah menjadi korban kebejatan keluarganya sendiri. Sungguh Raka tak tahu, bagaimana caranya ia menyampaikan kabar ini ke pada sang ayah. Mengingat pria itu baru sadar dari koma.


"Ada yang kamu risaukan, Putraku? Bagaimana urusan kantor? Apakah sudah aman?" tanya Nandita, ketika menemukan sang putra terdiam di kursi ruang tunggu.


"Raka bingung, Bun. Bagaimana menyampaikan kabar ini pada ayah. Mengingat beliau baru sadar dari koma. Tapi tak mungkin juga kalo Raka nggak kasih tahu ayah. Mau bagaimanapun opa Galih adalah ayahnya," jawab Raka jujur.


"Opa Galih? Ada apa dengan beliau? Apakah berulah lagi?" tanya Nandita.


Air mata Raka terjatuh. Tak dipungkiri bahwa saat ini hatinya serasa sangat sedih. Sakit. Menyesal. Sebab dia terlambat. Terlambat menyadarkan pria itu. Terlambat membuat pria itu untuk meminta maaf pada ayahnya.


"Beliau dibunuh, Bun," jawab Raka, langsung pada inti pembahasan mereka saat ini.


Nandita menatap sang putra. Tentu saja dengan tatapan tak percaya. Nandita shock. Tak tahu harus berucap apa.


Pantas saja Raka sedih. Pantas saja Raka merasa sangat menyesal.


"Apa yang harus kita lakukan, Ka?" tanya Nandita gugup.


"Tak ada pilihan lain, Bun. Kita harus kasih tahu ayah. Saat ini om Dion sedang ada di rumah sakit. Mengikuti proses otopsi opa. Raka tidak tahu bagaimana hancurnya perasaan om Dion. Mengetahui keburukan sekaligus tidak mampu membawa papa angkatnya ke jalan yang seharusnya. Raka yakin, om Dion jauh lebih terpukul dibanding kita," ucap Raka.


"Kamu benar, Ka. Ya Tuhan! Kenapa ujiannya nggak kelar-kelar."


Nandita dan Raka saling memeluk. Hati kedua anak manusia itu serasa teremas. Hancur tak karuan. Karena mereka berdua bingung memilih kata sebagai sarana untuk menyampaikan kabar buruk ini pada pria yang saat ini masih dalam perawatan intensif itu.


***


Dion berjanji akan membalas dendam atas kematian itu.


"Siapkan pasukan, aku sendiri yang akan menembak kepala pria itu!" ucap Dion pada anak buahnya.


"Sabar Bos! Sabar! Pihak berwajib sedang bergerak. Alangkah baiknya anda jangan mengotori tangan anda," jawab pria berjaket hitam itu.


"Aku tidak percaya mereka!" jawab Dion tegas.


"Tidak, Bos! Pak Zidan tidak akan setuju dengan ini. Anda tahu kan, beliau pasti sangat shock kehilangan ayahnya. Jangan biarkan beliau juga kehilangan anda," jawab pria itu lagi, mengingatkan.


"Tunggu... kamu ini preman atau ustadz.. dari mana kamu dapatkan pemikiran naik itu ha? Apa jiwa setan dalam dirimu sudah mati?" tanya Dion, marah.


"Jangan salah sangka, Bos! Tanganku pun gatal pengen meledakkan kepala seseorang. Tapi, sisi kemanusiaanku mengatakan, anda adalah pria baik. Maka jangan biarkan hawa nafsu mengusai anda!" jawab pria itu.


"Brengsek! nasehat macam apa itu.. Aahhhhhgggg... pokoknya aku mau, seret pria jahanam itu ke hadapanku. Aku mau dia membayar apa yang telah dia lakukan. Nyawa harus dibayar dengan nyawa," ancam Dion geram.


"Izinkan yang berwenang yang mengambil langkah, Bos. Kita tunggu saja. Jika hasilnya tidak memuaskan, mari kita bertindak!" jawab Pria itu, mencoba membentengi Dion agar tidak gegabah.


Karena tanpa mereka tahu, Zidan lah yang meminta pria itu untuk tetap menjaga kesucian tangan adik angkatnya itu.


Ya, diam-diam Zidan sudah tahu semua tentang kematian dang ayah. Karena ketika ia disekap, dia sudah mendengarkan semua rencana mereka. Termasuk rencana pembunuhan ini. Sayangnya, Zidan tidak bisa berbuat apa-apa, koma sudah terlebih dahulu menghampiri raganya. Sehingga dia tak bisa menyelamatkan sang ayah dari jerat para mafia bajingan itu.


Bersambung...