My Sunshine

My Sunshine
SEBUAH JAWABAN



Apa yang diucapkan Kartika bukan isapan jempol belaka. Kini, di depan rumah mereka ada beberapa pria yang tidak mereka kenal. Sedang berdiri sangar di depan pagar. Seperti sedang mencari atau mungkin sedang menunggu sesuatu.


"Astaga! Sepertinya kita nggak bisa masuk rumah, Ta!" ucap Kartika.


"Benar, Bu. Sebaiknya kita putar balik!" ajak Nandita.


Tak banyak bicara, Kartika pun langsung tancap gas. Untuk meninggalkan tempat ini.


Rumah tersebut sudah tak aman untuk mereka. Terpaksa, Kartika dan Nandita balik arah. Agar terhindar dari beberapa orang yang sedang berjaga di depan rumah mereka.


***


Berbeda dengan Nandita dan Kartika yang saat ini sedang berlomba melindungi nyawa masing-masing. Kini ada Zidan, yang masih berjuang melawan maut. Akibat siksaan dan juga luka tembak yang mengenai lengannya waktu itu.


Dion dan Vano tak henti-hentinya berkomunikasi. Sebab, saat ini mereka memiliki tugas yang sangat penting.


Rudi dikabarkan masih kritis. Pun dengan Zidan. Mereka berdua sama-sama belum bisa membuat orang-orang di sekitarnya tenang.


Tak lama kemudian, Dion mendapatkan pesan teks dari Nandita yang mengabarkan bahwa saat ini ia dalam bahaya. Tentu saja kabar ini langsung membuat Dion kalang kabut.


"Kita udah nggak memiliki tim, Mbak. Bagaimana ini?" tanya Dion khawatir. Sedangkan Raka yang melihat ekpresi lain di wajah Dion, tentu saja menebak jika sang ibunda pasti dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dengan tegas, bocah tampan ini pun meminta ponsel tersebut. Agar dia segera tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Biar Raka bicara sama bunda, Om!" pintar Raka.


Dion tak mungkin melarang. Ia pun memberikan ponsel itu pada keponakannya.


"Bunda, ini Raka!" ucap Raka.


"Ya Tuhan, Raka, kamu ke mana aja?" tanya Nandita gugup.


"Raka baik, Bun. Bunda gimana?" balas bocah tampan ini.


"Bunda sedang tidak baik, Sayang. Di depan rumah ada beberapa pria menyeramkan!" jawab Nandita jujur.


"Bunda, dengerin Raka. Bunda ingat, di belakang sekolah ada rumah kosong?" tanya Raka.


"Iya, ingat!" jawab Nandita.


"Sementara, Bunda dan uti sembunyi di sana dulu. Nanti malam Raka dan Om Dion jemput. Sebab, tadi tak sengaja Raka dengar bahwa saat ini, mereka memasang bahan peledak atau gas beracun, di rumah kita, Bunda. Pokoknya, intinya mereka mau menghabisi kita semua. Tetapi, Raka masih belum yakin. Mungkin bisa saja, pendengaran Raka yang bermasalah. Karena Raka dengarnya cuma sekilas. Pokoknya Bunda sama uti, jangan masuk ke rumah kita. Buat jaga-jaga, Bun. Bunda mengerti!" ucap Raka.


"Astaga! Segitu kejamkah mereka?" tanya Nandita takut.


"Ya, Bunda. Sebenarnya mereka adalah tim kakak kandung kakek. Maaf Bunda, kalo Raka baru kasih tahu ini ke Bunda. Soalnya, Raka hanya mendengar ke selebat saja. Mereka memang berniat menghabisi anak cucu kakek, termasuk Raka dan ayah!" jawab Raka tegas. Kali ini bocah tampan ini tak ingin menutupi apapun dari siapapun. Sebab, ini sangat-sangat darurat.


"Baiklah, Bunda paham. Kamu hati-hati ya, Nak! Ayah sudah ketemu belum?" tanya Nandita.


"Raka akan selalu hati-hati, Bun. Pokoknya Bunda jangan sampai keluar dari sana. Mobil uti suruh masukin ke semak-semak di samping rumah. Agar mereka tak bisa mendeteksi mobil itu. Bunda ingat, kalo mereka pakek jaket warna hitam dengan logo pedang di lengan kanan, itu berarti komplotan mereka. Bunda cepat lari. Bunda paham kan!" ucap Raka lagi.


Di sisi lain, Dion hanya melongo mengetahui dia kalah cepat dengan bocah cilik ini. Selama ia kenal Galih, ia tak sedikitpun mengetahui rahasia pria itu. Sedangkan Raka, hanya beberapa kali bertemu dan bercengkrama, sudah mengetahui segalanya. Bahkan tentang kakak kandung Galih.


"Dari mana kamu tahu itu semua, Raka?" desak Dion sedikit emosi. Sebab selama ini Raka tak mengajaknya berbicara sedikitpun perihal ini.


"Maaf, Om. Bukan maksud Raka menguping. Tetapi, Raka hanya tak sengaja mendengar pembicaraan opa dengan seseorang. Yang mengatakan bahwa, selama opa tak mengembalikan harta yang opa curi, maka seluruh keturunannya akan beliau bumi hanguskan. Termasuk Raka dan ayah," ucap Raka yakin.


"Kamu jangan ngaco, Raka. Ini tidak benar! Papa tidak punya saudara, bahkan aku saja tidak tahu perihal ini," jawab Dion sembari tersenyum sinis.


"Ini sebabnya Raka bungkam Om, karena kabar ini juga masih simpang siur. Tapi Raka yakin, Regen hanyalah anak buah mereka. Akar dari semua masalah ini adalah keluarga kita sendiri. Mengapa Regen begitu dendam pada ayah? Karena ayah terlalu mudah ditipu. Raka rasa Regen tidak terima, karena bukan hanya dirinya yang melakukan hal itu pada tante Zevana, lalu kenapa hanya dia yang dihukum. Itu adalah penyebab, kenapa pria itu begitu dendam kepada ayah!" jawab Raka yakin.


Dion shock dengan jawaban Raka. Sepertinya apa yang dikatakan bocah ini ada benarnya.


Pantas saja selama ini dia tak bisa menemukan otak dibalik setiap kejadian yang menimpa Zidan. Ternyata Galih sendiri yang menutupinya. Galih sendiri yang sengaja tidak mau terbuka.


Bertahun-tahun Dion bekerja melindungi Zidan dari orang-orang jahat itu. Ternyata apa? Dion hanya dipermainkan waktu. Dipermainkan keadaan. Pria ini hanya bisa terduduk lemas.


Bagaimana tidak? Seorang Raka, bocah yang belum genap berusia sebelas tahun, begitu tanggap dan teliti mengurai masalah yang orang tuanya alami. Sedangkan dirinya, selama ini hanya percaya pada apa yang dikatakan Galih. Padahal itu semua hanya untuk mengalihkan perhatiannya.


"Ya Tuhan!" ucap Dion melemah. Rasanya seluruh tubuh dan pikirannya lelah seketika. Semangatnya musnah sudah. Dion benar-benar baru menyadari kenapa dia begitu bodoh.


"Raka!" panggil Dion.


"Saya, Om!" jawab bocah tampan ini.


"Besok Om minta kamu ikut ke perusahaan. Siapa tahu orang yang kamu curigai ada di sana," ajak Dion.


Raka menatap Dion. Aneh, mengapa pria yang kini malah memberikan tanggung jawab kepadanya. Segitu butuhkan pria ini akan kecerdikannya.


Raka diam, belum berani menjawab iya atau tidak. Karena sejatinya ia pun masih ragu.


"Ku mohon Raka, ini demi ayahmu!" ucap Dion memohon.


"Baik, Om. Mari kita buktikan. Apakah yang Raka dengar adalah kenyataan. Atau Raka yang salah," jawab bocah tampan ini mantap. Mau tak mau Raka sudah berucap. Ia harus mempertanggung jawabkan perkataannya. Raka harus membuktikan bahwa apa yang ia ucapkan adalah benar.


"Terima kasih, Raka. Semoga kita bisa menangkap orang-orang yang berniat jahat terhadap ayahmu," ucap Dion geram.


"Asalkan Om tidak cerita apapun pada opa. Sebab ini menyangkut nama baiknya!" jawab Raka serius.


"Oke, Om janji!" jawab Dion.


Pria tampan ini terlanjur gemas dengan keluarga angkatnya yang penuh misteri ini. Harusnya semuanya terjawab dari dulu-dulu. Hanya saja, semua serasa tertutupi oleh sesuatu. Dan Dion mendapatkan jawabannya sekarang. Berkat Raka. Berkat bocah cerdas itu.


Bersambung...