My Sunshine

My Sunshine
INFORMAN ZIDAN



Meski gemetar, Nandita tetap membantu Raka memapah Zidan. Sedangkan Zidan sedikit menghindar. Rasanya malas saja dengan Nandita. Sebab wanita ini berani menjatuhkan air matanya untuk pria lain. Selain dirinya dan kejadian itu terjadi tepat di depan matanya.


Kini mereka telah berada di apartemen mewah milik Zidan. Baju mereka memang tidak sebasah tadi. Namun tetap saja lembab sehingga menciptakan rasa dingin. Zidan yang paham dengan keadaan anak dan juga ibu dari putranya segera meminta mereka untuk masuk ke kamar masing-masing dan mengganti pakaian.


"Raka ini kamar kita dan yang itu kamar bunda," ucap Zidan menunjukkan.


"Oke, Yah." Raka terlihat antusias. Bocah tampan ini tak menunggu ayah dan ibunya mengobrol. Ia langsung masuk ke dalam kamar tersebut.


"Astaga anak itu," ucap Nandita ketika melihat Raka masuk ke dalam kamar sang ayah.


"Biarin aja, Mbak. Ini kan juga rumah dia," ucap Zidan membela.


"Aku tahu, tapi kalau boleh aku meminta. Tolong jangan manjain dia terlalu. Biarkan dia tetap dengan kesederhanaannya. Agar kerendahan hatinya tetap terjaga," pinta Nandita pada Zidan.


"Iya, Mbak. Aku ngerti. Hanya saja aku ingin membuatnya bahagia dan merasa bahwa dia punya seorang ayah," ucap Zidan membela diri.


"Iya aku ngerti, masuklah. Cepat ganti baju. Jangan sampai suhu tubuhmu menurun," ucap Nandita. Masih setia menjaga tubuh Zidan.


"Siap, Mbak." Zidan tersenyum.


Nandita pun tersenyum.


"Mau aku anter masuk ke kamar nggak?" tanya Nandita. Sebelum ia melepaskan tangannya dari pinggang Zidan.


"Nggak usah, Mbak. Aku bisa sendiri," tolak Zidan halus. Sebenarnya dia ingin hanya saja Zidan tak mau dinilai mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Baiklah, berarti aku antarnya sampai sini aja?" tanya Nandita memperjelas keinginan Zidan.


"Iya di sini saja nggak pa-pa. Mbak mandi aja. Lalu istirahat. Mau makan nggak?" Zidan menatap wajah wanita yang berada tepat di depan matanya.


Nandita menggeleng.


"Ya udah masuk gi, mandi. Nanti masuk angin loh," ucap Zidan perhatian.


"Kamu juga ya, dijaga jahitannya. Jangan sampai terlepas," ucap Nandita memperingatkan.


"Siap!" jawab Zidan dengan senyum tampannya. Nandita membalas senyuman itu dengan senyuman cantiknya pula.


"Oia, nanti kalau laper atau mau bikin minum cari sendiri ya." Sepertinya Zidan terlalu nyaman berbincang dengan Nandita. Sampai tak rela berpisah dengan wanita cantik itu.


"Iya nanti aku cari sendiri kalau pengen. Tapi sepertinya nggak deh, aku lelah," balas Nandita.


"Oke deh kalau begitu, silakan Mbak masuk duluan!" pinta Zidan. Nandita tersenyum mengiyakan. Ia tak mau menolak takut menyinggung perasaan Zidan sebagai laki-laki.


Mereka saling melempar senyum sebelum benar-benar berpisah. Masuk ke dalam kamar masing-masing.


***


Di dalam kamar ada Nandita yang terpesona dengan keindahan kamar yang telah Zidan siapkan untuknya. Bernuansa putih dan ungu sesuai warna kesukaannya.


Karet bulu dan juga gorden yang terpasang juga bernuansa putih ungu. Ranjang minimalis dengan kelambu bernuansa warna senada. Sepertinya Zidan sangat paham dengan apa yang Nandita suka dan tidak.


Namun, Nandita tak ingin terbawa perasaan. Mungkin saja ini hanya kebetulan. Kalau pun tidak, pasti Raka yang memberi informasi pada pria itu.


"Mereka memang kompak," gumam Nandita bahagia. Kerasa diwanitakan. Oleh kedua pria berbeda generasi tersebut.


Tak menunggu waktu lagi, Nandita pun langsung membersihkan diri. Agar tidak masuk angin. Mencuci baju dalam yang ia pakai. Sedangkan bajunya yang basah itu hanya ia jemur di tempat yang telah tersedia.


Sayangnya Tuhan berkehendak lain. Nandita pulang ke kampung dalam keadaan yang tidak diinginkan oleh smua orang.


Sebenarnya sekarang Nandita tidak menyesal dengan apa yang terjadi padanya. Terlebih apapun yang ia lalui telah mendapatkan hadiah yang luar biasa. Yaitu keluarga baru yang menyayanginya. Kartika dengan cinta dan kasih sayangnya menerimanya dengan sepenuh hati. Lalu ada Raka yang menjadi penerang dan semangatnya untuk menjalani hidup. Dan kini tanpa ia sadari ada Zidan yang siap melindunginya.


Namun bagaimanapun, Nandita tetap tak bisa menutup kerinduannya pada keluarga kandungnya. Mau bagaimanapun Nandita tercipta karena adanya keluarga tersebut. Nandita tidak melupakan keluarga itu. Hanya saja ia belum siap kembali ke kampung halaman. Nandita takut kembali ditolak oleh mereka.


***


Di kamar yang lain ada Zidan yang tak bisa memejamkan mata. Kegalauan akan kenyataan yang ia hadapi, nyatanya sanggup membuat pria ini tetap terjaga. Sampai alarm dari ponsel Raka berbunyi. Pria tampan ini masih saja terhanyut dalam lamunannya.


Raka terbangun dari mimpi indahnya. Lalu ia menatap bingung pada sang ayah.


"Eh, Ayah udah bangun," ucap Raka dengan senyum manisnya.


"Ayah nggak bisa tidur, Dek," ucap Zidan jujur.


"Kenapa Yah? Jahitan Ayah sakit ya?" tanya Raka.


"Sedikit sih, tapi bukan masalah itu yang bikin Ayah nggak bisa tidur. Tapi masalah lain." Zidan melirik Raka.


"Masalah lain apa, Yah?" Raka membalikkan tubuhnya menghadap Zidan.


"Tidak apa-apa, ini masalah pekerjaan. Oia Ayah minta maaf ya, karena Ayah tak menepati janji mau ngajarin Raka berenang," ucap Zidan.


Raka yang mengerti kondisi sang ayah, tentu saja tak menyalahkan. Apa lagi marah.


"Nggak pa-pa, Yah. Lain kali kan bisa."


Zidan berusaha bangkit karena alarm dari ponsel miliknya mengajaknya untuk melaksankan kewajiban sebagai muslim. Raka tak tinggal diam. Bocah tampan ini pun langsung membantu sang ayah bangun dari pembaringan dan bersiap-siap salat berjamaah.


Selesai salat, Raka merapikan sajadah sedangkan Zidan memeriksa ponselnya. Barang kali ada pesan yang masuk.


Zidan diam, pria ini tercengang. Sebab begitu banyak pesan yang ia terima dari sang asisten. Yang mengatakan bahwa Regen telah bebas dan bersiap membalas dendam kepadanya.


Ketakutan Zidan bukan pada dirinya. Tetapi pada dua orang yang sangat berarti dalam kehidupannya. Yaitu Nandita dan Raka. Sebab ia yakin, Regen tak akan melepaskan orang-orang yang terdekatnya. Regen telah berjanji kala palu hakim menjatuhkan hukuman padanya. Ia akan membalas atas apa yang Zidan lakukan padanya. Regen telah bersumpah akan menuntut balas pada Zidan sebab Zidan telah menjebloskan nya ke dalam penjara.


"Raka mau tidur lagi atau mau ke kamar bunda?" tanya Zidan.


"Raka mau ke tempat bunda, Yah. Kangen!" jawab Raka dengan senyum merekah.


"Oke!" jawab Zidan mengiyakan keinginan sang putra. Raka pun keluar kamar meninggalkannya sendiri.


Kesempatan ini pun ia gunakan untuk menghubungi Dion. Jangan sampai dia kecolongan lagi. Sebab Zidan yakin jika yang menyerangnya semalam adalah anak buah Regen. Beruntung Dion langsung menjawab panggilannya.


"Pagi, Bos!" sambut Dion. Suaranya terdengar serak, khas orang baru tidur.


"Sejak kapan dia bebas?" Zidan langsung pada pokok permasalahan mereka.


"Menurut informasi seharusnya awal tahun ini, Bos. Namun, ia sudah tak ada di tahanan, sepertinya dia kabur," jawab Dion di sela panggilan mereka.


"Cepat cari keberadaan pria itu, jangan sampai dia mengetahui soal Nandita dan Raka. Sementara aku akan menyembunyikan mereka berdua!" pinta Zidan tegas. Kemudian mereka pun mengakhiri perbincangan tersebut sebab Raka masuk ke dalam kamar Zidan.


Bersambung....


Terima kasih atas dukungannya. Like dan Komen kalian adalah semangatku. 🥰🥰🥰