My Sunshine

My Sunshine
INFO BARU



Masa liburan telah usai. Di kamar ada Zidan yang telah sibuk membantu Raka membereskan baju-bajunya. Ada rasa sedikit bersalah di hati Zidan pada bocah tampan itu. Sebab, tujuan awalnya datang ke sini karena ingin liburan. Bermain air di tempat ini. Namun sayang musibah yang menghadang mereka menjadi penghalang.


"Maafin Ayah ya, Nak," ucap Zidan tiba-tiba.


"Minta maaf untuk apa, Yah?" tanya Raka.


"Minta maaf karena Ayah nggak bisa menepati janji Ayah buat ngajarin Raka renang," jawab Zidan. Terlintas kesedihan di sana. Entahlah Zidan hanya merasa kurang nyaman saja.


"Nggak pa-pa, Yah. Raka ngerti kok Yah. Ayah kek gini juga gara-gara nyelametin Raka kan. Udah Ayah jangan sedih lagi. Raka nggak pa-pa." Bocah tampan ini memeluk sang ayah dengan penuh kasih sayang.


"Makasih, putraku. Em, Ayah pengen minta sesuatu. Boleh nggak?" tanya Zidan.


"Apa tu, Yah?" Raka menatap sang ayah.


"Raka bisa nggak nyambungin CCTV toko ke handphone Ayah?" tanya Zidan.


"Bisa, Yah. Nanti Raka sambungin," jawab bocah tampan ini. Lalu mereka saling memeluk.


"Sebenarnya Ayah curiga, Dek. Sasaran para preman itu bukan Ayah atau kamu. Tapi bunda," ucap Zidan lagi.


"Kok pemikiran kita sama, Yah. Raka juga berpikir begitu. Soalnya saingan bisnis bunda kan banyak. Takutnya mereka memang mengincar bunda. Semalam Raka mau bilang, cuma Raka lihat Ayah sibuk," jawab Raka serius.


"Sebentar, sepertinya kita perlu diskusi lagi, Dek. Yuk duduk dulu. Nggak kuat Ayah lama-lama berdiri!" ajak pria tampan ini. Kemudian tanpa banyak bicara mereka pun duduk kembali di sofa.


"Dari mana Raka punya pemikiran seperti itu?" tanya Zidan.


"Sebenarnya Raka tahu satu Rahasia, Yah. Tapi Ayah janji ya, jangan kasih tahu bunda," ucap Raka, sembari memberikan jari kelingkingnya pada sang ayah. Meminta pria ini untuk menyambut jari kecil itu. Sebagai tanda Zidan menyanggupi perjanjian mereka.


Demi sebuah info yang menarik, akhirnya Zidan pun menyambut uluran kelingking itu.


"Katakan putraku, apa yang membuatmu curiga?" tanya Zidan.


"Ada salah satu bos peti jenazah. Dia pernah bilang sama Raka kalau pengen jadi ayahnya Raka, tapi bunda selalu nolak. Tak jarang bunda juga menghindar. Terkadang bunda juga marah pada pria itu. Terakhir pas dia datang, nggak dibukain pintu ama bunda. Mungkinkah dia marah dan melakukan ini sama kita, Yah?" jawab Raka. Sesuai dengan apa yang ia lihat dan ia pelajari.


Zidan menatap Raka sekilas. Lalu ia pun berpikir kerasm Bisa jadi apa yang dikatakan Raka adalah sebuah kebenaran.


"Bisa jadi, Dek." Zidan merogoh ponselnya dan melihat foto preman yang menyerangnya semalam.


Raka diam, menunggu sang ayah memberi keputusan.


"Iya, Yah. Siap. Raka ngerti," jawab bocah tampan ini.


"Sementara, Ayah akan cari tempat tinggal didekat rumah Raka. Usahakan bunda jangan sampai tahu kalau Ayah belum balik ke Jakarta. Ayah akan meminta bantuan temen-teman Ayah untuk menjaga kalian. Ini salah satu nomer teman Ayah, nanti di-save ya. Hubungi dia kalau Raka mencurigai sesuatu. Sepertinya kita harus ektra jagain bunda," ucap Zidan.


"Ayah benar. Raka takut Yah." Raka menatap sang ayah, sedangkan Zidan kembali memeluk bocah tampan itu.


"Seandainya bunda mau tinggal di sini sampai kondisi aman. Mungkin kita akan lebih mudah menjaganya. Sayangnya bunda nggak percaya sama Ayah." Zidan mengusap kasar air wajahnya. Sepertinya mulai lelah dengan perlakuan Nandita padanya.


"Tenang, Yah. Sabar. Bunda memang kadang-kadang seperti anak kecil. Sebenarnya dia tidak marah, hanya mau lebih diperhatikan." Raka terkekeh. Sebab ia sangat paham dengan bagaimana sang bunda.


Zidan tersenyum. Tak berani menimpali apa yang putranya katakan. Zidan takut jika apa yang akan ia ucapkan didengar oleh Nandita dan segalanya akan berubah permusuhan.


"Ya udah, yuk kita keluar. Takut bunda kelamaan nunggu," ajak Zidan. Raka pun menurut. Bocah tampan ini segera menggendong tas ranselnya dan bersiap keluar ruangan. Sedangkan Zidan langsung mengirim pesan pada Dion untuk meminta pria itu menyelidiki bos peti jenazah yang diinfokan oleh sang putra.


Tak dipungkiri bahwa Zidan berharap bahwa yang melakukan ini adalah pria itu. Agar dirinya bisa terbebas dari tuduhan Nandita.


***


Sebuah mobil kijang innova melintas di depan rumah Zidan yang ada di Jakarta. Sepertinya mereka sedang memgawasi kondisi rumah tersebut. Atau lebih tepatnya sedang mengawasi pemilik rumah itu.


Namun sayang, beberapa pria yang berada di dalam mobil itu tidak menemukan satu jejak pun di sana.


"Maaf, Bos. Sepertinya target sedang tidak ada di tempat!" ucap pria bertubuh Penuh tato itu pada pria yang kini sedang ia hubungi.


"Kemana dia?" tanya pria di seberang telepon.


"Kita belum tahu, Bos. Hanya ada penjaga rumah dan juga beberapa asisten rumah tangga. Bahkan asisten pribadi sang target juga tidak terlihat," tambah pria itu.


"Oke, kalian bisa kembali. Aku cari info, apakah dia sedang dalam perjalanan keluar negeri. Oia, kalian juga jangan lengah. Asisten pribadi pria itu juga tak kalah cerdik," ucap sang big bos.


"Siap, Bos. Kami akan selalu waspada!"


Panggilan berakhir. Para preman itu pun balik arah. Sekarang bersiap mengawasi asisten dari pria yang menjadi target mereka.


Bersambung....


Terima kasih atas dukungannya🥰🥰🥰