My Sunshine

My Sunshine
SESUATU



Zidan telah terlelap. Sedangkan Nandita menatap wajah yang sangat mirip dengan Raka, sang putra. Namun ini lebih dewasa. Lebih gagah. Nandita tersenyum sendiri dalam diam. Ternyata pria yang pernah menyakitinya itu berhati sangat mulia. Entahlah, Nandita hanya berpikir bahwa tak ada salahnya memaafkan Zidan. Memberi pria ini satu kesempatan. Siapa tahu, dengan keikhlasan ini, ia akan mendapatkan kembali keberaniannya untuk menatap masa depan.


Nandita duduk termenung di samping ranjang di mana Zidan berbaring. Masih menunggu pria ini bangun. Entah mengapa wanita ini tak ingin melewatkan waktunya bersama Zidan. Nandita ingin menjaganya kali ini. Seperti ketika Zidan menjaganya dari para preman yang hendak menyakitinya waktu itu.


Beberapa saat kemudian, seorang perawat datang membawakan ponsel Zidan yang telah terisi penuh daya. Nandita pun menerima ponsel itu dan menyimpannya di saku jaket milik Zidan yang ia pakai. Namun, belum sempat ponsel itu masuk ke dalam saku jaket, ponsel itu berdering. Nandita mendiamkannya. Kurang enak jika ia menyambut panggilan itu tanpa izin.


Sayangnya panggilan telepon itu berlanjut. Ponsel itu terus saja berdering sehingga Nandita tak bisa pura-pura mendiamkan. Takut yang mencari Zidan adalah seseorang yang penting. Akhirnya dengan penuh keberanian Nandita pun memutuskan untuk menjawab panggilan itu.


"Hallo," sambut Nandita.


"Ya, hallo. Apakah benar ini ponsel bapak Zidan?" tanya seseorang di sebarang sana.


"Iya, benar. Tapi bapak Zidannya sedang istirahat," jawab Nandita.


"Oh, baiklah. Nanti saya telpon lagi. Kalau boleh saya tahu, ini dengan siapa?" tanya pria tersebut.


"Saya adiknya, Pak. Nama saya Dita, ada yang bisa saya bantu?" jawab Nandita. Sebenarnya dia ragu, bingung juga harus menjawab apa.


"Oh, Ibu Dita. Ini Dion, Bu. Asiatennya pak Zidan. Ya sudah kalau beliau sedang istirahat. Kalau boleh tahu kalian sekarang di mana ya? Biar saya suruh sopir menjemput," tambah Dion lembut.


"Di Puskesmas tapi nggak tahu ini Puskesmas mana." Nandita celingukan mencari alamat di mana dia berada, tetapi tidak menemukannya.


"Ibu tanya ke perawat saja atau berikan ponselnya biar saya tanya langsung," pinta Dion.


Nandita pun menurut dan memberikan ponsel itu pada salah satu perawat yang ada di sana. Tak berapa lama setelah perawat tersebut memberi tahu keberadaan mereka, sang perawat itu pun mengembalikan ponsel Zidan dan mereka pun kembali berbincang.


"Baiklah, Bu. Saya akan meminta seseorang untuk menjemput mereka," ucap Dion.


Nandita pun menyetujui. Sebab kata dokter Zidan hanya kelelahan. Besok pagi juga sudah diperbolehkan pulang.


Panggilan telepon pun berakhir. Nandita pun menyimpan kembali ponsel milik pria tampan yang kini masih terlelap di ranjang pasien. Kemudian ia pun kembali ke kursi di mana ia berada. Dan kini kantuk pun menghampirinya. Tanpa sengaja, Nandita pun terlelap di samping Zidan sembari menggengam erat tangan Zidan. Sebab jujur di takut pada situasi seperti ini.


***


Di sudut ruang yang lain. Ada seorang pria yang kini sedang dihajat oleh anak buah Dion. Tetapi sayang pria itu masih kekeh tidak mau mengakui bahwa dialah yang merencanakan penyerangan tersebut. Padahal Dion telah menerima semua bukti rekaman video dari Raja. Yang memperlihatkan dengan jelas bahwa dia terlihat.


Dion dan anak buahnya bukanlah orang-orang bodoh. Mereka pun memutar rekaman itu dan menunjukkan pada pria tersebut. Namun tetap saja, seperti tidak berdosa pria ini mengatakan lebih baik mati dari pada mengakui sesuatu yang tidak ia lakukan.


Dion tak putus asa. Ia pun berencana melakukan hal yang lebih mengerikan. Dion berjanji akan membuat pria ini menyesal, jika sampai besok dia tak mau mengakui kesalahannya.


***


Zidan terbangun karena mendengar suara azan subuh berkumandang. Betapa terkejutnya dia. Nandita tidur di kursi yang ada di sampingnya. Bukan hanya itu wanita itu terlihat sangat nyaman memeluk lengannya. Pemandangan yang sangat aneh bagi Zidan tetapi dia suka.


"Ta, Ta. Bagun!" pinta Zidan sambil mengelus lengan Nandita. Tak berapa lama wanita ayu ini pun membuka matamata dan mengangkat kepalanya. Badannya serasa sakit semua. Mungkin ini karena posisi tidur yang tidak seharusnya.


Nandita terkejut karena tanpa sengaja dia memeluk lengan kekar Zidan. Dengan cepat ia pun melepaskan pelukannya itu.


"Eh, maaf!" ucap Nandita gugup.


Zidah tersenyum. "Nggak pa-pa. Kita kan teman," balas Zidan. Kemudian untuk menutupi rasa malunya, Nandita pun berpamitan pergi ke kamar mandi. Sedangkan di ranjang itu Zidan tersenyum geli. Ternyata Nandita sangat menggemaskan dan baginya ini adalah sesuatu. Zidan berharap, kedekatan yang mulai terjalin antara mereka bisa membuka jalan damai. Sehingga ia bisa lebih mudah mendekati wanita ayu itu.


Suasana kembali canggung ketika Nandita kembali dari kamar mandi. Sebab Zidan terus menatapnya. Mata elang milik pria tampan ini nyatanya singgung membuat Nandita salah tingkah.


"Jangan melihatku seperti itu!" pinta Nandita serius.


Bukan aku yang ingin Ta, tapi hatiku, ingin Zidan menjawab seperti itu tetapi ia ragu. Takut jika Nandita malah tersinggung dan dinilai memanfaatkan keadaan. Memanfaatkan kedekatan mereka saat ini.


"Maaf, ya Ta. Aku udah ngrepotin kamu," ucap Zidan.


"Sudahlah, ini bukan salah kita. Keadaan lah yang memaksa kita berada di titik ini. Oia semalam asisten menelpon. Mencarimu. Dia bilang pagi ini hendak mengirim sopir untuk menjemput kita," ucap Nandita sembari memberikan ponsel yang ada di saku jaket itu pada Zidan.


Zidan pun menerima ponsel itu dan mulai memeriksanya. Mereka diam sejenak. Kemudian setelah memerikaa ponselnya, Ia pun kembali berucap.


"Sebaiknya kita pulang ke apartemen, Ta. Keadaan belum bisa dikatakan aman untukmu dan Raka," ucap Zidan.


Nandita menatap Zidan. Sebenarnya kurang nyaman melibatkan serta merepotkan Zidan perihal masalah pribadinya. Namun, ia juga tak enak hati jika menolak kebaikan pria ini.


Zidan sudah banyak berkorban untuknya dan Raka. Tak ada salahnya jika menurut sekali lagi.


"Apakah aku tidak merepotkanmu?" tanya Nandita serius.


"Merepotkan apa toh, Ta. Emangnya kamu kalau mandi minta dimandiin. Makan minta disuapin. Kan enggak," jawab Zidan. Nandita hanya tersenyum ketika mendengar jawaban konyol Zidan.


Nandita tak membalas lagi ucapan Zidan. Wanita ini mencoba percaya pada pria ini. Percaya bahwa Zidan tidak akan melakukan hal gila itu lagi padanya. Nandita berusaha memahami keadaan. Termasuk belajar memahami apa yang terjadi pada hatinya. Pun dengan Zidan yang kini hatinya juga mulai terusik oleh sesuatu yang mungkin bisa disebut cinta.


Bersambung...


Makasih atas like komen dan votenya. Kalian terbaik๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜