My Sunshine

My Sunshine
JATUH CINTA



Zidan tersenyum sendiri. Rasa bangga itu datang lagi. Entahlah, melihat senyum dan semangat Raka membuat pria ini seperti ingin memeluk anak itu. Mencium keningnya dan bertanya, 'Maukah kamu menjadi anakku?' batinnya bergejolak membara. Bersemangat tanpa diminta. Meronta tanpa ia sadari.


Jatuh cinta, mungkin kata itulah yang paling pas untuk mendeskripsikan perasaan yang Zidan rasakan untuk Raka. Ya Zidan telah jatuh cinta pada anak itu. Anehnya, ini adalah pertama kali ia jatuh cinta peserta lomba yang ia adakan. Selama lima tahun terakhir ini.


Hati Zidan tiba-tiba juga tergerak untuk mendukung anak itu untuk meraih cita-citanya. Menjadi atlet panahan yang hebat. Diam-diam, Zidan mencari info di mana ada tempat les privat untuk mengajari anak itu memanah. Entahlah, mengapa Zidan jadi bersenjata seperti ini.


***


Di sudut ruang yang lain. Ada Kepala Sekolah dan juga Guru pembimbing Raka yang tegang. Meskipun Raka bisa mengerjakan semua soal itu tanpa kendala. Mereka masih was-was menunggu hasil kerja anak didik mereka.


Untuk menunggu keputusan, Raka diperbolehkan keluar ruangan dan bermain seperti biasa dengan teman-temannya.


Tak menunggu waktu lagi, hasil kerja Raka langsung dikoreksi oleh dewan juri dan disaksikan langsung oleh panitia, Dion dan juga beberapa guru di sekolah tersebut.


Setelah rapi dan mendapatkan persetujuan dari pihak sekolah. Mereka pun mengirimkan jawaban itu kepada Zidan. Agar sang penguji melihat sendiri hasil Kerja anak ini.


Sambil menunggu balasan dari Zidan, mereka berbincang, harap-harap cemas tentunya.


Beberapa saat kemudian. Hasil kerja anak didik merek pun keluar. Meski sudah menduga keputusan Zidan. Mereka tetap merasa amazing dan antusias . Raka memang tidak main-main ketika ia mengerjakan soal tersebut, sangat serius. Padahal, bisa dikatakan soil yang Zidan berikan lebih sulit dari soal pertama yang disediakan oleh panitia lomba.


Mereka tersenyum puas, saat mendapat respon positif dari Zidan. Raka mendapatkan dua jempol dari Zidan dan berhak mendapatkan hadiah tambahan itu.


Sorak-sorai dan ucapan selamat menghiasi ruang kepala sekolah. Sebab ini adalah kabar menyenangkan sekaligus membanggakan. Mereka saling memeluk satu sama lain. Memberi selamat pada pihak sekolah karena berhasil melahirkan generasi penerus bangsa yang istimewa. Berharap, setelah ini Raka bisa ikut seleksi lomba antar provinsi dalam rangka hari ulang tahun Indonesia tahun depan.


"Kami bangga pada Raka, pada Bu Sonia dan juga guru pembimbing yang lain. Kalian semua luar biasa," ucap Pak Kepala Dewan juri.


"Terima kasih, Pak. Terima kasih telah memberikan kesempatan langka ini pada Raka," ucap Bu Sonia, selaku orangtua Raka di sekolah. Mata wanita ini sampai mengeluarkan air mata. Sebab rasa bahagia yang tak mampu ia bendung lagi. Andai tak ada orang-orang penting di sini, dia pasti sudah menangis hiteris sambil memanggil anak itu, memeluknya erat karena mampu membuatnya bangga. Tanpa disadari, Raka juga telah mengharumkan namanya, sebagai guru pembimbing.


Sonia tak sanggup lagi berucap. Air mata kebahagiaan terus saja meluncur keluar. Padahal bukan sekali ini Raka menang lomba, namun baginya lomba kali inilah yang menorehkan kenangan indah dalam hatinya. Anak didik yang ia bimbing dari kelas satu itu ternyata memang sangat istimewa. Selalu berhasil membuatnya spot jantung dengan prestasi-preatasinya.


"Sama-sama, Bu. Kami juga merasa beruntung, bisa menemukan anak secemerlang ini dan itu tak lepas dari perjuangan Ibu mendidiknya di sekolah," balas Dion dengan senyum tampannya. Mereka terlihat berjabat tangan. Mata mereka bertemu dan senyum pun mengembang di bibi keduanya. Mereka sama-sama merasakan kebahagiaan yang tak bisa mereka ungkapkan.


"Baiklah, kami pamit undur diri. Besok kami tunggu di GOR Kabupaten untuk penyerahan hadiah. Kami harap kehadiran wali Raka juga ya Pak. Jangan lupa dikasih tahu," ucap Dion lagi . Pihak sekolah pun menyanggupi.


Perpisahan pun terjadi, Dion dan rombongan di antar ke mobil oleh pihak sekolah. Sedangkan Sonia yang terlalu bahagia, tak mampu menahan keinginan hatinya untuk segera menyampaikan kabar gembira ini pada Raka.


Sonia yang melihat Raka sedang bermain sepak bola bersama teman-temannya langsung ia panggil.


"Raka!" panggil Sonia.


"Sini!" panggilnya lagi. Entahlah melihat Raka rasa malu Sonia hilang. Ia pun segera berlari dan memeluk anak didiknya itu. "Raka lolos!" teriak Sonia. Seketika semua mata pun tertuju pada Guru dan Murid itu. Tawa bercampur tangis kebahagiaan menggema di area sekolah tersebut. Mereka bersorak-sorai seperti pertama mendengarkan Raka lolos seleksi untuk ikut lomba di Kabupaten.


Sungguh tak ada malu lagi bagi Sonia, gadis yang berprofesi sebagai guru ini langsung mengajak anak-anak didiknya bergandengan tangan, membentuk lingkaran dan berlari memutar. Bersorak gembira. Tertawa bersama. Untuk merayakan kemenangan Raka yang artinya juga kemenangan mereka.


Di sini yang bahagia bukan hanya Sonia dan anak-anak didiknya. Tim Dion yang menyaksikan adegan itu juga ikut bahagia. Ternyata rasa kekeluargaan di sekolah ini terjalin sangat baik. Serta rasa saling menyayangi yang tinggi.


"Maafkan mereka, Pak. Mereka terlalu bahagia," ucap Pak Joko selaku bapak tertua di sekolah ini.


"Tidak masalah, Pak. Kami juga ikut senang!" jawab Pak Panitia. Sedangkan Dion, hanya tersenyum. Namun pandangannya tertuju pada guru cantik yang tertawa lepas itu. Sepertinya di sudut hati pria ini sedang merasakan sesuatu yang lain.


****


Keesokan harinya...


Senyum mengembang di bibir ibu dan anak ini. Mereka terus berpelukan sambil berucap syukur.


"Bunda senang, akhirnya apa yang Raka harapkan terwujud. Tapi nggak boleh sombong lo ya!" ucap Nandita mengingatkan.


"Siap, Bun. Raka akan selalu ingat nasehat Bunda. Oia, Bun. Masak bapak yang punya perusahaan itu pada bilang mirip sama Raka," ucap Raka dengan senyuman manisnya.


Nandita mengerutkan kening heran. Tetapi belum berpikir bahwa yang diceritakan anaknya adalah pria itu.


"Masak sih?" tanya Nandita tak percaya.


"Iya, Bun. Serius. Senyumnya mirip Raka kata orang-orang," jawab Raka sembari melirik sang bunda.


Nandita pun membalas lirikan itu, lalu ia pun menjawab. "Mungkin dia ayah Raka kali," ceplos Nandita tanpa sadar. Lalu, ia membelalakkan matanya, menutup mulut karena lancang. Sedangkan Raka diam, sebab ia tahu ibundanya tak suka jika ia membahas masalah ini.


"Udah nggak apa-apa, Bun. Raka ngerti kok." Raka tersenyum. Meskipun dalam hatinya ia juga ingin tahu siapa ayahnya. Ingin bertanya pada pria yang telah menghadirkannya di dunia ini, mengapa tak pernah datang menemuinya.


Susasan hening, kini mereka diam. Terhanyut dalam pikiran masing-masing. Raka tenggelam dalam inginannya untuk mengetahui siapa sebenarnya sang ayah. Sedangkan Nandita berharap, jangan sampai ia bertemu pria itu sebab ia takut kalau pria itu akan mengambil Raka darinya.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan Like komen dan votenya ya. Makasih 🥰🥰🥰