My Sunshine

My Sunshine
BERTINDAK



Nandita menangis menjadi-jadi. Rasanya kesal saja. Kenapa Zidan begitu tega meninggalkannya sendiri di kegelapan malam. Dia pikir siapa dirinya, bisa pingsan seenaknya bagini. Nandita marah, kesal, sedih, geram. Semuanya tercampur aduk. Dalam hatinya, wanita ini berjanji akan marah jika Zidan sadar. Akan memukul pria ini karena telah membuatnya khawatir.


Nandita terus saja menangis, berharap Zidan mendengar suaranya. Lalu membuka mata dan bangun. Namun sayang harapan itu tidak terwujud. Zidan tetap diam dan memejamkan mata. Membuat Nandita semakin kesal.


Dielusnya wajah pria tampan ini. Wajah yang sangat mirip Raka, sang putra. Entah mendapat keberanian dari mana? Nandita berani mengelus wajah rupawan itu. Padahal awal ketemu Nandita berasa sangat jijik dengan wajah ini. Tetapi setelah ia mengenal lebih dekat, bagaimana Zidan begitu sopan padanya. Membuat hati Nandita luluh. Meskipun terkadang rasa benci masih sering muncul.


"Kamu harus kuat, Zidan. Kumohon bertahanlah. Raka tidak akan memaafkanku jika terjadi sesuatu padamu. Terlebih aku telah menuduhmu di depan putramu. Aku takut padanya, Zidan. Tolong bertahanlah, selamatkan aku dari kebencian putramu," ucap Nandita masih setia dengan isak tangisnya. Wanita ayu ini merasa napasnya tersendat. Ngeri, membayangkan kalau sampai Raka membencinya karena tak bisa menyelamatkan ayahnya.


Untuk memastikan ketakutannya tidak terjadi, Nandita menempelkan telinganya di dada Zidan. Memeriksa detak jantung pria ini. Berharap Zidan tidak mati. Hanya pingsan. Lalu setelah ini ia akan bangun kembali. Benar saja, detak jantung Zidan masih terdengar. Nandita merasa sedikit lega. Meskipun ia belum terbebas dari rasa khawatir.


Wanita ini pun kembali meminta pada Yang Maha Kuasa, agar memberi Zidan kesempatan sekali lagi untuk hidup dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah yang baik. Sebagai penutan untuk sang putra. Nandita tidak berharap lebih. Ia tak berani berharap lebih. Hanya itu, hanya untuk Raka dan sebatas Raka. Masalah hati, Nandita tidak berani. Nandita sadar siapa dirinya. Mana mungkin seorang Zidan yang kaya raya mau menjadikan wanita miskin sepertinya pendamping hidup. Nandita sama sekali tak berharap untuk memiliki Zidan. Wanita ini selalu berusaha keras untuk menepis rasa cinta itu agar tak datang pada hatinya.


Hampir tiga puluh menit Nandita menunggu. Akhirnya sang pengendara motor tersebut pun datang. Membawa mobil Los bak miliknya. Karena hanya itulah miliknya.


"Maap, Neng. Bapak lama. Soalnya sedikit macet," ucap Jupri meminta maaf.


"Tak apa, Pak. Kumohon cepat tolong suami saya, Pak!" pinta Nandita. Lagi-lagi tanpa berpikir panjang, wanita ini mengucapkan kata 'suami'. Dan entah mengapa, ketika Nandita mengucapkan kata itu, Zidan selalu bisa mendengar kata itu dengan jelas. Lalu, dalam hati ia mengamini ucapan Nandita yang selalu mengatakan bahwa dirinya adalah suami wanita ini. Kembali Zidan berharap, bahwa itu bukan hanya ucapan. Tapi juga keinginan hati. Keinginan hati Nandita untuk mau menjadi makmumnya.


Jupri tidak datang sendiri. Ia datang bersama seorang anak laki-laki usia remaja. Mungkin itu adalah putranya.


Tanpa berpikir lagi, Jupri dan sang putra pun segera membopong Zidan. Nandita tak tinggal diam, ia pun ikut membantu membopong pria tampan ini. Membawanya ke dalam mobil Los bak milik Jupri.


"Maap ya Neng, Bapak hanya punya mobil beginian," ucap Jupri.


"Tak apa, Pak. Ini saja saya sudah Terima kasih," jawab Nandita. Tak sanggup lagi berucap. Tak sanggup lagi bercakap. Wanita ini hanya ingin kedua malaikatnya ini segera membantunya membawa Zidan pada tenaga medis yang bisa mengobati pria yang kini ada di dalam pangkuannya.


Tak peduli dinginnya angin malam merengkuhnya. Nandita terus berdoa dan berdoa. Agar dua orang yang menolongnya ini, segera menemukan klinik untuk Zidan. Untuk pria yang ada di dalam dekapannya.


Tak sampai setengah jam mereka berkendara. Akhirnya sampailah mereka di sebuah Puskesmas kampung yang menyediakan pelayanan dua puluh empat jam.


"Zidan, kita udah sampai di rumah sakit. Kamu harus kuat, harus bertahan ya. Aku percaya padamu. Kamu pasti bisa," bisik Nandita di telinga Zidan. Kemudian kedua pria yang membantunya itu pun langsung meminta petugas medis yang berjaga segera membantu mereka menangani Zidan. Beruntung mereka semua tanggap dan langsung menangani pria tampan ini.


Memasang alat bantu pernapasan. Mengecek suhu tubuh. Memasang infus dan juga memeberikan obat penurun panas untuk pria ini. Sedangkan di luar ruangan ada Nandita yang terlihat cemas. Sangat-sangat cemas.


Nandita meremas jari-jarinya. Berusaha meredam ketakutannya. Ketakutan yang mungkin bisa saja terjadi. Mengingat ketika ia melihat wajah Zidan dalam cahaya lambu, pria itu terlihat sangat pucat. Bibirnya membiru dan juga suhu tubuhnya sangat tinggi.


***


Kekhawatiran tidak hanya dirasakan oleh Nandita. Tetapi juga Raka dan juga Dion. Dua pria beda generasi ini pun seperti ayam kehilangan induknya. Terlebih ponsel Zidan tak bisa dihubungi.


Beberapa kali Raka mencoba, tetapi tidak bisa. Lalu Raka pun memutuskan untuk menghubungi Dion. Barang kali Dion tahu di mana mereka bersembunyi. Sampai signal handphone tidak mereka dapatkan.


"Tenangkan dirimu, Raka. Om sudah mengirim tim untuk mencari ayah dan bundamu," ucap Dion sungguh-sungguh.


"Terima kasih Om, oia Raka sudah kirim video dan juga foto-foto bukti seseorang yang telah menyerang kami beberapa hari yang lalu, Om," ucap Raka.


"Iya, Om sudah lihat. Ini sedang Om pelajari. Raka jangan kemana-mana. Di apartemen saja. Masalah bunda dan juga ayah, Raka. Serahkan pada Om. Raka juga nggak usah khawatir soal pria bajingan itu. Om akan memberikan mereka pelajaran, sampai mereka bener-bener kapok dan insaf," ucap Dion berjanji.


Raka percaya pada Dion. Sebab sang ayah juga sering bercerita betapa Dion adalah pria cerdas dengan kecepatan berpikirnya. Oleh sebab itu Zidan tak ragu mempercayakan bisnisnya pada Dion. Sebab selain tangkas pria ini juga jujur.


Setelah melaporkan bukti itu pada wakil sang ayah, Raka pun membersihkan diri dan memakan makanan yang telah di siapkan Eman untuknya.


Bersambung...


Makasih like komen dan votenya🥰🥰