
Nandita akhirnya setuju ikut liburan bersama Raka ke apartemen Zidan. Kini wanita cantik ini telah bersiap dengan baju sederhananya. Namun terlihat sangat anggun dan cantik. Entah mengapa? Apapun yang Nandita kenakan selalu terlihat manis di mata Zidan.
Tanpa Nandita dan Raka sadari. Pria ini tersenyum dalam hati. Rasanya bahagia saja, bisa berdekatan dengan Nandita. Meskipun pada kenyatannya Nandita hanya cuek-cuek saja dengannya.
"Bunda, Raka sama ayah tunggu di luar ya," ucap Raka seraya menarik tangan sang ayah, mengajaknya keluar.
"Oke, Bunda kunci pintu dan jendela dulu," jawab Nandita.
"Ayo Yah, nanti bunda pasti nyusul!" ajak Raka. Zidan tersenyum kemudian ia pun mengikuti ajakan sang putra.
"Mana tas Raka?" tanya Zidan.
"Ini, Yah," jawab Raka.
"Oke, mari masukkan ke bagasi," ajak Zidan. Raka pun menurut. Meletakkan barang bawaanya ke bagasi mobil sang ayah. Kemudian Zidan membukakan pintu penumpang bagian depan untuk Raka.
"Raka pengen di belakang, Yah. Lebih lega! Raka pengen baring" pinta Raka.
"Oke-oke," jawab Zidan. Lalu ia pun membukakan pintu bagian belakang untuk sang putra.
Tak lama kemudian Nandita keluar dari rumah. Membawa satu tas kecil berisi baju dan tas tangan yang mungkin berisi dompet dan juga ponselnya.
Zidan menunggunya seperti seorang suami. Begitu perhatian dan siaga.
"Tasnya masukin bagasi aja, Mbak!" pinta Zidan.
"Boleh," jawab Nandita singkat.
Tak ada pikiran macam-macam. Zidan pun membukakan pintu bagasi belakang untuk Nandita. Sedangkan sang wanita langsung meletakkan tas itu ke dalam.
"Makasih," ucap Nandita sedikit memundurkan tubuhnya. Tanpa sengaja ia menabrak tubuh tegap Zidan. Nandita langsung menghindar, menyampingkan langkahnya.
Sedangkan Zidan hanya tersenyum. Namun ia bahagia. Zidan suka tabrakan tidak disengaja itu. Sebab Nandita terlihat lucu dengan wajah tegangnya. Terlebih aroma rambut Nandita sangat wangi. Menghadirkan sensasi bahagia di hati Zidan.
Zidan menutup pintu bagasi itu. Lalu tanpa banyak bicara, ia juga membukakan pintu penumpang bagian depan untuk Nandita.
"Kok depan, saya belakang saja," pinta Nandita.
"Kata adek mau di depan, Mbak. Pengen baring katanya," jawab Zidan sopan.
"Oh, ya udah deh." Nandita pasrah. Ia pun masuk ke dalam mobil tanpa berkata apa-apa lagi.
Zidan tersenyum. Kemudian ia pun masuk ke dalam mobil dengan tenang serta memakai seatbelt-nya.
Zidan melirik Nandita yang terlihat kesusahan menarik sabuk pengaman itu.
"Kenapa, Bun?" tanya Zidan.
"Nggak tahu ini, kenapa keras sekali?" Nandita masih berusaha menarik sabuk pengaman itu sendiri.
"Oh," jawab Zidan. Tanpa berpikir panjang Zidan pun melongokkan tubuhnya dan membantu Nandita menarik sabuk pengaman itu.
Nandita tegang, sedangkan Zidan berusaha tidak melakukan kesalahan. Sebab jarak wajah antara dirinya dan Nandita tak sampai lima centi. Aroma napas masing-masing bisa mereka rasakan. Zidan cepat-cepat menyelesaikan tugasnya. Ia tak mau kalau Nandita sampai berubah pikiran. Karena wanita ini sangat susah untuk ditebak.
"Oke, Raka siap ya!" ucap Zidan basa-basi. Padahal ucapan itu hanya usahanya untuk menutupi kegugupannya berada dekat dengan Nandita.
"Siap Ayah!" balas Raka. Zidan pun menginjak pedal gasnya dan mulai melajukan mobil tersebut.
Tak ada pembicaraan yang berarti. Hanya ada celotehan Raka. Bercerita dan mengungkapkan apa yang ia inginkan.
"Yah, Jadi kan ajarin Raka renang?" tanya Raka.
"Oke, " jawab Zidan singkat.
"Yeee, asik. Dari dulu Raka mau belajar renang nggak dikasih ama Bunda. Takut Raka tenggelam katanya. Apa lagi uti, malah nakut-nakutin," ucap Raka bercerita. Zidan tersenyum.
"Ya kan kalau nggak ada yang jagain pasti tenggelam kan, Yah," saut Nandita. Meminta dukungan dari Zidan.
Zidan dan Raka saling melirik. Lalu mereka menatap Nandita sekilas. Sudah jadi kesepakatan antara Zidan dan Raka. Jika sang ratu bertitah mereka dilarang membantah.
Ada sedikit rasa kecewa di hati Zidan. Sebab sikap Nandita belum berubah untuknya. Masih dingin dan tak peduli. Entah seperti apa rasa yang dimiliki Nandita untuknya yang jelas Zidan akan tetap berusaha keras untuk mendapatkan hati Nandita.
Baru lima belas menit mereka berkendara hujan turun dengan begitu lebatnya. Di bangku belakang terlihat Raka sudah terlelap. Sedangkan Nandita mendekap tas tangannya. Seperti sedang melindungi diri. Zidan melirik wanita ayu ini. Tak tahan dengan penglihatannya. Zidan pun bertanya.
"Ada apa, Mbak? Apa Mbak takut?" tanya Zidan. Nandita tidak menjawab, tetapi gemetar. Sangat-sangat gemetar.
"I-i- itu di depan," tunjuk Nandita gugup. Zidan pun menatap lurus ke depan. Ternyata Nandita bukan takut pada hujan. Tetapi pada segerombolan preman menghadang mereka.
"Astaga! Siapa sih mereka?" tanya Zidan geram. Mengerem mobilnya hingga berhenti tepat di depan para preman itu.
Nandita tak perduli dengan pertanyaan Zidan. Ia malah sibuk membangunkan Raka. Sebab ia tahu Raka jago bela diri.
"Ka, Ka, Raka, bangun Nak!" pinta Nandita. Raka yang baru terlelap tentu saja gelagapan.
"Ada apa, Bun? Apa kita sudah sampai!" ucap Raka.
"Bukan, Dek Kita dalam bahaya," jawab Zidan tegas.
"Bahaya?" Raka masih terlihat bingung. Tapi ia segera paham ketika para preman itu langsung bertindak anarkis. Salah satu dari mereka langsung memukul kaca depan mobil Zidan. Seketika sang pemilik mobil pun naik pitam.
"Bun, di dasbor ada sprei pembersih kaca. Kalau mereka berani macam-macam sama Bunda. Bunda sprot aja matanya ya. Bunda ngerti!" pesan Zidan pada Nandita. Enggan berpikir lagi Nandita pun mengiyakan pesan Zidan.
"Hati-hati, Yah!" Nandita ikutan memberi pesan.
"Raka jaga Bunda. Jangan lengah, oke!" pinta Zidan. Raka langsung menyanggupi perintah sang ayah. Tanpa berpikir lagi, Zidan pun keluar dari mobil. Sebelum itu tak lupa ia meraih senjata rahasia yang ia simpan di kantong pintu mobil. Beruntung ia tak pernah melupakan senjata tersebut. Sebuah tongkat kecil yang di sambung dengan seuntas rantai.
"Siapa kalian?" tanya Zidan pada mereka.
Tak ada yang menjawab, melihat Zidan adalah target mereka. Mereka pun langsung menyerang tanpa ampun. Zidan bukanlah orang sembarangan. Tak mungkin baginya mengalah. Ia pun membalas perlakuan para preman yang belum di ketahui siapa atasan mereka itu.
Sedangkan di dalam mobil, ada Raka yang terus mempelajari gerakan sang ayah. Sampai ikutan gemas dan terus memukul kursi kemudi. Raka terlihat tak sabar ingin ikut menghajar preman-preman itu.
"Hajar yan, hajar. Itu yah yang baju hitam gendut itu yah. Tendang yah tendang. Iya tampar yah, jangan kasih ampun yah. Tendang pantatnya yah. Kepalanya yah kepalanya. Oh oh, perut yah. Oke, yah. Heh!" Raka heboh sendiri di dalam mobil. Sedangkan Nandita telihat meremas kedua tangannya. Khawatir. Khawatir pada pria itu. Pria yang menjadi idola sang putra.
"Aaa, ayah!" teriak Raka ketika melihat ada seseorang yang menendang Zidan dari belakang.
Tak sabar lagi, Raka pun segera mengeluarkan sarung tinju buatannya sendiri. Yang dimodifikasi dengan besi gerigi bekas dan diisi dengan pasir sehingga ada volume berat. "Bun, Bunda jangan kemana-mana ya. Raka bantuin ayah!" pinta Raka meminta izin.
"Oke, Bunda pasti baik-baik saja. Tapi Raka hati-hati ya, Nak!" Nandita ikutan gemas.
"Sarung tinjunya bawa kan?" tanya Nandita.
"Bawa, Bun." Raka langsung memakai senjata rahasia itu. Nandita yang tanggap langsung membantu memakaikan agar Raka tak kehabisan waktu. Bisa cepat membantu Zidan dalam medan perang tersebut.
Raka yang lincah langsung menyerang. Tak peduli hujan lebat menggalanginya. Zidan yang melihat gerakan sang putra yang begitu lincah menipu para bandit itu, membuatnya terkagum-kagum.
Mata Raka begitu jeli, dia begitu tepat dalam perhitungan. Sebelum lawan menyerang, ia sudah mengantisipasi agar lawan lumbuh sebelum melakukan serangan padanya. Beberapa kali Raka membuat para bandit itu tersungkur. Zidan masih belum mampu berdiri. Tangannya sangat sakit, tak bisa membantunya berdiri. Raka yang lincah berusaha melindungi sang ayah. Jangan sampai para musuh menyerang pria itu.
Beberapa preman tak berdaya melawan senjata milik Raka. Gerigi besi itu nyatanya sukses membuat beberapa pria itu tumbang. Kesakitan tak berdaya. Sayangnya, salah satu premam bermain licik. Ia mengeluarkan sebilah pisau dan bersiap menyerang Raka. Zidan yang menyadari itu langsung bangkit sekuat tenaga. Menghadang preman itu. Memeluk Raka, hingga tanpa sengaja pisau itu pun melesat tepat mengenai perut Zidan.
Zidan pun ambruk. Raka tertegun. Tak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Nandita berteriak di dalam mobil. Para preman yang merasa telah melaksanakan tugasnya dengan baik pun langsung melarikan diri.
Tinggallah sekarang Zidan berusaha bangun, meskipun darah terus menetes dari perut. Zidan berusaha menekan lukanya. Agar tak kehabisan darah.
Raka langsung membantu sang ayah bangun, memapah pria tinggi besar itu dan membawanya ke mobil.
Nandita juga tanggap, ia pun membantu Raka memapah Zidan dan akhirnya mereka pun berhasil membawa Zidan ke mobil.
"Bunda berani bawa mobil?" tanya Raka.
"Be-be- berani!" jawab Nandita takut. Namun tak ada pilihan lain. Di pundaknya saat ini ada tanggung jawab yang sangat besar. Yaitu menyelamatkan ayah kandung putranya. Menyelamatkan pria yang telah berkorban demi sang putra. Nandita tak mampu berpikir lagi, dengan cepat ia pun segera mengendarai mobil tersebut menuju rumah sakit terdekat.
Bersambung...
Para preman itu suruhan siapa ya kira-kira๐ค Pastikan like komen dan votenya ya genk๐๐๐