My Sunshine

My Sunshine
TERINGAT MASA LALU



Tepuk tangan meriah terdengar ketika Raka menerima hadiah tambahan tersebut. Lalu, Zidan memeluk bocah tampan itu. Memberikan kecupan di kening, dan juga kepala Raka. Zidan tidak bersikap seperti seseorang yang profesional dalam tugas. Ia malah bersikap gemas, seperti seorang ayah pada anaknya dan itu sungguh terjadi di sini.


Zidan tidak peduli meskipun semua orang menganggapnya aneh. Pria ini hanya bahagia. Bahagia dan bahagia. Hanya berusaha mewujudkan rasa syukurnya. Atas apa yang ia temukan hari ini. Sebab, tanpa ia sangka, ia bisa menemukan wanita yang ia cari selama ini. Apalagi wanita tersebut memiliki anak yang mirip dengannya. Zidan seperti mendapatkan hadiah atas penantian dan doanya selama ini. Entah mengapa Zidan yakin bahwa bocah tampan yang ada dalam dekapannya saat ini adalah putra kandungnya.


Zidan masih memeluk Raka sembari menatap mata Nandita. Seperti meminta jawaban atas pertanyaan yang mengerogoti relung hatinya saat ini. Namun, sayang Nandita malah mengalihkan pandangannya. Membuat Zidan kecewa.


Meskipun Zidan tahu jika Nandita pasti takut padanya. Tetap saja, ia ingin memaksa wanita itu menerima tatapan matanya. Percaya pada kesungguhan hatinya. Bahwa selama ini ia juga tersiksa telah melakukan hal bodoh itu pada Nandita.


Namun, inginnya tak menjadi kenyataan. Nandita terus membuang pandangnya, takut. Terang saja Nandita takut. Sebab saat ini bayangan malam kelam itu telah hadir menyapa pikiran. Malam kelam di mana Zidan melakukan hal gila padanya. Memaksanya, melakukan sesuatu yang tak pantas padanya. Merenggut kesucian yang ia pertahankan demi cita-citanya untuk menjadi seorang yang berguna bagi keluarganya. Bukan hanya itu, Zidan juga mengikatnya. Memperlakukannya seperti seorang tawanan. Meskipun tidak memukul. Tetap saja malam itu adalah malam paling mengerikan dalam hidupnya.


Nandita tak mampu lagi menahan tatapan mata elang milik pria itu, yang seakan terus meminta jawaban atas siapa sesungguhnya ayah anak yang kini ada dalam dekapannya.


Nandita menundukkan kepala. Fokus pada kakinya yang gemetar. Meremas jari-jari lentik miliknya, gugup. Bulu kuduk pun ikut merinding. Air mata mulai menetes begitu saja dan itu reaksi yang wajar untuk orang yang dilanda cemas berlebihan.


Berbeda dengan Nandita yang terus menundukkan kepalanya takut. Zidan malah menatap intens wajah wanita ayu itu. Berusaha menyampaikan signal penyesalan. Berusaha menunjukkan kegelisahan yang selama ini ia rasakan. Entahlah, Zidan hanya ingin Nandita mengerti bahwa dia menyesal telah melakukan hal bodoh itu padanya.


Zidan tak menyalahkan wanita ayu itu. Wajar jika ia sangat ketakutan melihat dirinya. Bagaimana tidak? Dirinya adalah pria yang telah menghancurkan masa depan Nandita. Tanpa menyelidiki terlebih dahulu, apakah benar gadis itu adalah sasarannya atau bukan.


Andaikan saat ini mereka tidak dalam situasi yang formal. Ingin rasanya Zidan memeluk Nandita. Menenangkan wanita ayu itu. Menjelaskan pada Nandita, bahwa dirinya tak sejahat dulu. Zidan juga ingin mengungkapkan betapa ia sangat menyesal. Betapa banyang- bayang rasa bersalah itu begitu sering menghantuinya selama ini.


Andaikan tidak memikirkan banyaknya pasang mata yang memerhatikannya. Mungkin saat ini Zidan akan langsung berlutut di hadapan Nandita. Untuk memohon ampun pada wanita yang telah ia renggut kesuciannya. Memohon ampun atas segala kesalahan yang mungkin tidak termaafkan ini.


Terlalu lama Zidan memeluk Raka dalam lamunan. Sampai beberapa kali MC mengingatkannya. Agar melepaskan dekapannya pada anak itu. Sebab Raka juga terlihat susah bernapas. Namun, Zidan seakan tak dengar. Ia masih saja mendekap bocah tampan itu. Sampai Raka sendiri yang memberanikan diri mengingatkan.


"Om! Om!" ucap Raka sambil menepuk pelan punggung Zidan.


Mendengar suara Raka, Zidan pun tersadar dari lamunan dan segera melepaskan pelukan itu.


"Eh maaf! Maaf Raka." Hanya kata itu yang mampu Zidan ucapkan untuk saat ini. Bagaimana tidak? Pikirannya telah terpusat pada Nandita. Wanita ayu dengan segala kesederhanan yang ia miliki. Berdiri ketakutan di hadapannya. Kerepotan menyembunyikan air matanya. Hanya kata 'Seandainyalah' yang saat ini bersarang di otak pria tampan ini.


Seandainya pertemuan mereka tidak di tempat formal seperti ini. Seandainya ia tahu jika Raka itu ada, mungkin Zidan tak akan membiarkan Nandita berjuang sendiri untuk membesarkan putra mereka. Seandainya Zidan tahu lebih awal, jika Nandita adalah korban salah sasaran anak buahnya, mungkin masalah mereka tidak akan serumit ini.


Pertama-tama, Zidan berfoto dengan juara ketiga dan walinya. Lalu juara dua bersama walinya juga. Setelah itu giliran Raka berfoto dengannya. Nandita terlihat ragu berdekatan dengan Zidan. Namun mereka tampak serasi. Seperti foto sebuah keluarga yang ideal.


"Om, apakah Raka boleh minta foto Om, pakek hape Bunda?" tanya Raka tiba-tiba.


"Tentu saja, kenapa tidak? Ide yang bagus itu! Nanti selesai acara kita foto-foto berdua ya. Di sini banyak orang, nggak enak ama yang lain," jawab Zidan, berbisik pelan di telinga Raka. Sambil melirik manja pada Nandita. Sedangkan Nandita hanya diam. Enggan menghiraukan.


Acara berjalan dengan lancar. Semua yang berhak menerima hadiah sudah menerima hak mereka masing-masing. Para peserta dan juga segenap hadirin dipersilahkan duduk kembali di tempat mereka yang telah disediakan. Sedangkan Zidan di minta untuk menyampaikan kata sambutanya.


"Silakan, Pak!" ucap Sonia sambil mengulurkan mikrofon pada Zidan.


"Terima kasih," balas Zidan.


Kemudian pria ini pun tersenyum dan menatap satu persatu para hadirin yang ada di depan matanya.


"Baik! Terima kasih buat semua hadirin yang hadir. Buat Pak Bupati, terima kasih telah berkenan memberikan izin sekaligus dukungannya sampai detik ini. Buat Panitia juga terima kasih. Buat Dewan terima kasih kerja kerasnya. Untuk seluruh peserta, kalian terbaik. Bapak sangat bangga pada kalian semua. Untuk yang mendapatkan juara jangan sombong. Yang belum, mari berusaha lebih keras lagi. Terima kasih, sampai jumpa di event selanjutnya!" Zidan mengakhiri kata sambutannya. Kemudian ia pun dipersilahkan untuk kembali ke tempat yang telah disediakan untuknya.


Zidan terlihat buru-buru dan tidak berkonsentrasi dalam penyampaian kata sambutannya. Maklum, yang ada di fokusnya kali ini hanya Nandita dan Raka. Ia tak ingin kehilangan mereka lagi. Itu sebabnya Zidan berpikir keras mencari cara agar bisa mendekati mereka.


"Dion!" panggil Zidan pelan.


"Siap, Bos!" jawab Dion.


"Berikan hadiah tambahan untuk ketiga juara umum itu. Kasih mereka tiket liburan ke Bali, suruh nginep di hotel kita saja. Tiga atau empat hari terserah kamu! Biar mereka senang," pinta Zidan tanpa melihat pada Dion. Matanya masih saja mencuri pandang pada keberadaan Nandita dan Raka.


Dion yang tahu bagaimana dermawannya seorang Zidan hanya mengiyakan perintah tersebut. Tanpa curiga. Tanpa banyak bertanya. Akhirnya Dion pun mendekati MC dan berbisik pada wanita cantik itu. Untuk mengumumkan hadiah tambahan ini. Setelah itu ia dan Zidan diperbolehkan meninggalkan acara ini.


Bersambung.....


Kira-kira apa rencana Zidan apa ya? kok kasih Raka liburan. Curiga nggak kalian. Hem heem😜😜😜😜