My Sunshine

My Sunshine
KECOLONGAN



"Pergilah Zidan, Raka pasti mencarimu," pinta Nandita sembari mendorong pelan dada pria tampan ini. Suara wanita ayu ini terdengar gemetar. Mungkin dia sedang menahan sesuatu.


"Berjanjilah padaku, Ta. Bahwa kamu akan tetap menjaga komitmen kita!" pinta Zidan tanpa mau melepaskan dekapan itu.


Nandita tampak ragu. Tetapi ia juga ingin menjawab 'iya' permintaan itu.


"Tatap mataku, Ta. Kumohon jawablah, berilah ketenangan pada hatiku. Agar aku bersemangat membuktikan bahwa aku dan dia tak ada hubungan apapun!" pinta Zidan lagi.


Nandita menghela napas dalam-dalam, kemudian dengan penuh keberanian ia pun menatap tajam mata elang milik pria tampan yang kini mendekapnya.


"Aku tidak akan ke mana-mana, Zidan. Aku yakin kamu sudah tahu semua tentangku. Bagaimana masa laluku setelah malam itu? Bagaimana takutnya aku? Bagaimana aku selalu membentengi diriku dengan lawan jenis? Apakah kamu masih berpikir bahwa aku bisa menjalin hubungan dengan pria lain?" tanya Nandita serius.


Zidan tak bisa berkata apa-apa. Nyatanya ucapan Nandita kembali menampar hatinya. Begitu dalam luka yang pernah ia berikan sehingga wanita ini sampai tak berani menjalin hubungan dengan lawan jenis. Sehingga wanita ini menutup diri dari orang-orang baru yang ada di sekitarnya.


"Sekali lagi maafkan aku, Ta!" ucap Zidan tulus.


"Aku sudah memaafkanmu, Zidan. Kamu nggak usah minta maaf terus. Sekarang pulanglah, kasihan Raka. Jangan tinggalin dia sama pengasuh terus Zidan. Dia butuh kamu, ayahnya," jawab Nandita tak kalah tulus.


Zidan mengangkat dagu Nandita. Menatap mata cantik itu. Lalu dengan kesungguhan hatinya, Zidan pun mengajak Nandita mewujudkan cinta kasih mereka kejenjang yang lebih serius.


"Izinkan aku mempertanggungjawabkan perbuatanku, Ta!" pinta Zidan langsung pada keinginannya. Ia tak ingin kehilangan Nandita lagi.


"Kamu sudah bertanggungjawab Zidan. Kamu sudah menjadi ayah yang baik untuk Raka. Mau bertanggungjawab apa lagi? Bukankah sekarang kamu sudah dapet pengakuan dari putramu dan aku lihat kalian bahagia," jawab Nandita dengan senyuman manisnya. Sedikit mempermainkan perasaan Zidan.


"Aku tidak hanya ingin itu, Sayang. Aku ingin pengakuan darimu juga. Menjadi suamimu, mungkin," balas Zidan, kali ini pria menatap intens mata ayu Nandita dan tidak tersenyum sama sekali. Ia terlihat serius.


Nandita hanya tersenyum malu. Sedangkan Zidan menatap wanita ayu ini dengan membawa harapan. Berharap Nandita akan menjawab 'Iya'. Berharap Nandita akan menerima lamarannya.


"Bagaimana?" tanya Zidan.


"Bagaimana apanya?" tanya Nandita pura-pura lugu.


"Apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Zidan serius. Tak mau menunda-nunda lagi.


"Lepasin dulu, kita ngobrol di sofa aja!" ajak Nandita. Jujur berada di posisi yang cukup intim seperti ini, hati Nandita merasa kurang nyaman. Sebenarnya Nandita gugup. Sebab tanpa ia sengaja jantungnya berdetak lebih cepat. Sebenarnya dia juga gugup.


Zida menyanggupi keinginan sang kekasih. Ia pun melepaskan wanita pujaan hati dari dekapannya. Lalu mereka pun berjalan menuju sofa untuk melanjutkan obrolan mereka.


Namun sayang, belum sempat mereka melanjutkan obrolan, telepon Zidan berdering. Sang asisten yang menghubunginya.


"Mohon maaf, Bos. Kita kecolongan!" ucap Dion di seberang sana.


"Kecolongan. Apa maksudmu?" tanya Zidan serius.


"Pabrik kita kebakaran, Bos." Suara Dion terdengar gugup.


Zidan memang shock. Tetapi dia memilih tidak mengekpresikan keterkejutan itu di depan Nandita. Pria ini memilih bersikap tenang.


"Amankan seluruh pekerja terlebih dahulu. Usahakan jangan sampai ada korban. Masalah barang-barang jangan terlalu dipikirkan. Utamakan selamatkan nyawa mereka. Kamu mengerti!" ucap Zidan memberi perintah. Sedetik kemudian, Zidan menutup panggilan teleponnya. Termenung. Memikirkan keanehan ini. Mengapa pabriknya tiba-tiba terbakar.


"Ada apa? Apakah ada masalah?" tanya Nandita.


"Ya, pabrik kita kebakaran, Bun." Zidan menundukkan kepalanya. Lemah, serasa tak bergairah.


Nandita yang paham akan perasaan ang kekasih langsung mendekati pria itu dan memeluknya. Mencoba memberikan kekuatan untuk pria ini.


"Yang sabar, semoga semuanya baik-baik saja!" ucap Nandita.


"Aku hanya takut para pekerja menjadi korban, Bun. Kasihan jika itu terjadi. Aku nggak sanggup membayangkan bagaimana sedihnya keluarga mereka," jawab Zidan jujur. Sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


Sekali lagi, inilah cermin kemulian hati Zidan. Padahal saat ini asetnya dalam bahaya. Tetapi yang ia pikirkan adalah mereka yang bekerja padanya. Zidan memikirkan perasaan keluarga para pekerja tersebut. Bagaimana jika sampai terjadi hal yang buruk pada mereka? Rasanya Zidan tak sanggup membayangkan itu.


"Maaf, Bun. Sepertinya Ayah harus kembali ke Jakarta besok," ucap Zidan meminta izin.


"Iya, Yah. Pergilah. Biar Raka, Bunda jemput nanti," ucap Nandita.


"Dia liburannya masih lama, Bun. Boleh nggak kalau ikut Ayah pulang ke Jakarta," pinta Zidan. Demi membuat pria ini tenang, akhirnya Nandita pun tak tega.


"Boleh, bawa aja Yah. Yang penting hati-hati," jawab Nandita perhatian.


"Makasih, Bun. Makasih atas pengetiannya," balas Zidan. Mereka pun saling melempar senyum. Meskipun jujur, saat ini Zidan merasa hatinya samgat-sangat resah. Tetapi kebaikan Nandita sedikit membuat Zidan tenang.


Bersambung...


Musuh oh musuh... Thanks buat like komen n Votenya ya😘😘😘