
Sesampainya di rumah, Nandita langsung berlari ke kamar. Menutup pintu pelan. Menangis dalam diam. Sedangkan Zidan dan Raka hanya bisa saling menatap bingung. Sebab Nandita tak pernah bertingkah selabil itu.
"Saya izin bicara dengan Nandita boleh, Bu?" tanya Zidan.
"Pergilah, selesaikan masalah kalian," jawab wanita paruh baya ini. Kartika tak mungkin melarang. Karena ia tahu, jika alasan Nandita bertingkah seperti itu pasti karena Zidan. Oleh sebab itu, semua harus segera dibicarakan. Harus segera di selesaikan. Jangan sampai berlarut-larut. Karena bisa memunculkan konflik yang lain.
"Terima kasih atas izinnya, Bu. Saya akan segera selesaikan masalah ini dengan Dita," ucap Zidan. Kartika mengangguk menyetujui. Sedang untuk Raka, Zidan memberi tugas bocah itu untuk memantau keberadaan kakek dan neneknya. Pasti Nanti Dion akan menghubungi jika ada yang penting dan mungkin terjadi sesuatu.
"Siap, Yah. Raka tunggu Ayah di ruang tamu." jawab bocah tampan ini.
"Ayah ke kamar bunda dulu ya, kalau ada apa-apa cepat menyusul. Ingat jangan lengah ya, kalau om Dion telpon, kamu langsung cari Ayah. Langsung masuk kamar bunda aja, oke!" ucap Zidan meminta.
Raka si bocah cerdas ini pun tak menolak perintah sang ayah. Sebab baginya, bisa membantu dan terus menjaga amanah sang ayah adalah prioritasnya saat ini. Karena Raka tahu dan paham, jika sang ayah tidak seburuk yang orang lain tuduhkan kepadanya.
Selepas menyepakati apa yang harus mereka lakukan. Zidan pun berpamitan untuk menemui Nandita yang sedang gundah gulana karenanya itu.
Zidan menyadari, mengapa kekasihnya seperti ini. Dia pasti sedang menghawatirkan kedua orang tuanya. Hatinya pasti merasa teraduk tak karuan. Memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi pada orang tuanya.
Tanpa menegetuk pintu terlebih dahulu, Zidan pun langsung membuka pintu itu. Pelan, agar tak mengagetkan wanita cantik ini.
Terlihat Nandita sedang duduk termenung di sisi ranjang. Seperti sedang menangis. Namun, tak mengeluarkan suara. Hanya sesekali saja ia menghabiskan air matanya.
"Bun, mereka sudah aman kok. Nggak usah nangis lagi!" pinta Zidan sembari melangkahkan kakinya, mendekati sang pemilik hati.
"Percayalah, semua pasti baik-baik saja!" tambah Zidan sembari mengambilkan sebotol air mineral yang ada di nakas ranjang Nandita. Bermaksud membuat sang kekasih hati tenang dan jangan khawatir lagi soal keselamatan kedua orang tuanya. Sayangnya Nandita hanya menjawab ucapan kekhawatiran itu dengan lirikkan kesal.
"Bunda kenapa sih judes gitu? Salah Ayah apa?" tanya Zidan lembut.
"Kamu jahat, aku benci padamu," ucap Nandita, mata cantik itu terlihat bekaca-kaca. Seperti hatinya begitu sakit.
"Aku jahat kenapa toh, Bun? Perasaan Ayah nggak ngapa-ngapain?" Bukan bermaksud membela diri. Hanya saja Zidan juga bingung. Sebenarnya ada apa dengan sang kekasih. Mungkinkah dia kena hasutan Natalia melalui kedua orang tuanya.
Nandita tak menjawab. Wanita ini hanya menangis dan terus menangis. Rasanya kesal saja mengingat Zidan pernah tidur dengan wanita lain selain dirinya. Rasanya benci saja jika Zidan pernah duduk di pelaminan bersama wanita lain. Rasanya, hatinya tak bisa terima, jika ternyata Zidan memiliki surat nikah bersama wanita lain. Pokoknya Nandita tidak terima. Yang ia inginkan adalah Zidan hanya menatapnya. Menginginkannya. Dan yang pasti hanya dengan dirinyalah Zidan boleh menikah. Tidak boleh dengan wanita manapun. Apa lagi Natalia.
Tidak terima, cemburu akut, mungkin begitulah rasa yang ada di dalam hati wanita cantik ini. Namun, Zidan sendiri belum mengerti, apa yang alasan yang membuat Nandita merajuk seperti ini.
Beberapa saat kemudian, Nandita mendorong pelan tubuh pria yang ia cintai ini dan berkata, "Pergilah, bertanggung-jawablah atas apa yang kamu lakukan. Mau bagaimanapun dia juga bayimu, anakmu, darah dagingmu. Jangan khawatirkan aku! Jangan khawatirkan Raka! Aku baik-baik saja! Begitupun dengan putra kita, aku yakin dia juga baik-baik saja," ucap Nandita pelan.
Zidan mengerutkan kening. Masih bingung dengan ucapan sang kekasih.
"Bunda ngomong apa, Sih? Apa ini soal Natalia? " tanya Zidan.
"Jangan pura-pura lagi! Aku lelah! Izinkan aku tidur!" pinta Nandita sambil mendorong pelan dada Zidan. Agar pria ini menjauh darinya. Namun, Zidan sama sekali tak bergerak. Pria ini masih kekeh berasa di posisinya.
"Tidak, Bunda. Ayah tidak pernah berpura-pura. Demi Tuhan!" ucap Zidan serius.
Nandita mencoba memberanikan diri menatap mata pria yang ia cintai itu. Mencoba mencari kebenaran dan kejujuran di sana. Dan hatinya berkata, bahwa Zidan jujur. Namun, bagaimana dengan bukti yang ia lihat tadi siang. Foto pernikahan itu. Bukti foto kopi surat nikah itu. Bagaimana Nandita menjelaskan ini pada hatinya yang kini sedang dilema ini.
"Sudahlah Zidan! Aku nggak mau membuatmu sulit. Kamu boleh temui Raka kapanpun kamu mau. Tapi aku mohon, jangan berharap lebih pada hubungan kita. Aku nggak mau Zidan," ucap Nandita lagi. Spontan tangis wanita ini pecah. Tak sanggup lagi rasanya menahan rasa cemburu dan bingung yang tercampur aduk. Sungguh Nandita berada di dalam lubang kebimbangan. Antara mempertahankan cinta dan melepaskannya. Nandita tak bisa berada di situasi seperti itu. Nandita ingin memilih, andai bisa.
"Aku yakin pasti ada yang menghasutmu, Bun. Aku yakin!" ucap Zidan yakin.
Nandita menatap Zidan. Ingin rasanya ia mengungkapkan apa yang ia ketahui tadi siang. Namun hatinya takut. Mulutnya seperti belum sanggup berkata-kata. Nandita takut jika apa yang ia takutkan adalah kenyataan. Pada dasarnya ia takut kehilangan Zidan. Hanya itu.
Nandita kembali menangis.
"Baiklah jika Bunda masih belum bisa menceritakan apa yang sebenarnya Bunda khawatirkan. Namun, Ayah berharap suatu hari nanti Bunda mau terbuka. Terbuka dengan apa yang Bunda risaukan selama ini?" ucap Zidan sembari mengecup kedua tangan wanita yang memberinya satu putra ini. Sedangkan Nandita masih diam. Tidak menolak maupun mencegah pria tampan ini mencium tangannya.
"Tidurlah, Honey. Jangan berpikir macam-macam. Percayalah semua pasti baik-baik saja. Aku tunggu keberanianmu menceritakan apa yang sebenarnya kamu rasakan. Dan aku sendiri pun akan buktikan bahwa aku bukalah pria yang menghamili Natalia. Apapun yang wanita itu katakan pada orang tuamu, atau mungkin denganmu, aku yakin itu semua adalah bohong," ucap Zidan serius.
Nandita masih belum mau menjawab apa pun yang Zidan ucapkan. Tapi dia berharap, apa yang Zidan sampaikan barusan adalah kenyataan. Kenyataan yang sebenarnya. Bahwa sebenarnya yang jahat adalah Natalia. Yang pembohong adalah wanita itu. Bukan Zidan atau pun orang-orang yang Nandita percaya.
Melihat sikap Nandita yang mulai tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan, sedikit membuat Zidan tenang. Namun, ia tetap berjanji akan membuktikan pada Nandita dan Kartika bahwa apa yang dikatakan Natalia hanyalah fitnah belaka. Zidan berjanji akan membuktikan pada semua bahwa dia bukanlah lelaki yang bisa menanam saham di sembarang tempat.
Bersambung....
Like-like... jangan lupa☺. Maaf jika sebelumnya banyak typo. Baru sempat ngedit...