
Malam pun datang. Nandita semakin gugup sebab Zidan mengigil. Suhu tubuhnya naik dengan cepat. Bahkan Zidan mengigau seperti seseorang yang mengalami mimpi buruk. Membuat Nandita ketakutan.
"Ya Tuhan, kamu harus kuat Zidan kalau tidak aku akan marah padamu!" pinta Nandita sembari menangis bingung. Wanita ini terus mendekap pria tampan ini. Memeluknya erat. Ia hanya bisa berdoa dan berharap Zidan kuat dan tak terjadi apa-apa padanya.
Nandita mencari ponsel Zidan berharap ponsel itu masih berfungsi. Sebab siang tadi ponsel itu mati. Semalam Zidan lupa mengisi daya. Wanita ini merogoh ponsel Zidan mencari benda itu. Namun, Zidan mencegahnya dan berkata. "Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja," ucap Zidan. Bibirnya kembali bergetar.
Sungguh, jika seandainya pria ini sehat. Nandita tak akan segan mengajaknya ribut. Rasanya kesal saja. Orang buta juga tahu kalau dia sakit. Tetapi sellau bilang baik-baik saja.
Nandita tak sabar. Lalu ia pun kembali berpesan pada Zidan agar jangan kemana-mana. "Dengarkan aku Zidan, kamu jangan Kemana-mana, aku akan cari bantuan. Ingat jangan kemana-mana oke!" pinta wanita ayu ini. Kemudian ia pun keluar dari semak. Mengendap-ngendap, waspada. Jangan sampai musuh masih ada di tempat dan dia tak mengetahuinya.
Menangis bingung. Hanya itulah yang mampu Nandita lakukan sekarang. Ketakutan akan kehilangan Zidan begitu kuat menyerangnya. Entah mengapa ia setakut ini. Padahal awalnya ia sangat membenci pria itu. Namun, ketika melihat kebersamaan pria itu dengan sang putra. Rasanya semua rasa sakitnya hilang. Sebab kebahagian Raka adalah tujuan utamanya.
Nandita berlari mencari jalan keluar. Berharap segera menemukan jalan besar, berharap ada yang melintas. Agar ia bisa meminta bantuan.
Nandita masih berlari. Bahkan ia sempat terjatuh dan lututnya berdarah. Wanita ini tak peduli. Baginya keselamatan Zidan adalah yang utama.
Akhirnya perjuangan wanita cantik ini tidak sia-sia. Ia pun sampai di jalan besar yang ia inginkan. Namun sayang jalanan terlihat sepi. Tak ada satupun kendaraan yang melintas. Nandita kembali menangis takut. Kebingungan sendirian di tengah jalan. Sampai pada akhirnya ada satu motor yang lewat. Nandita pun segera menghadang motor tersebut dan meminta bantuan.
"Tolong saya, Pak. Suami saya sedang sakit!" ucap Nandita pada pengendara motor tersebut.
"Di mana suami, Ibu?" tanya pria paruh baya itu. Tanpa curiga sedikitpun.
"Di sana, Pak!" tunjuk Nandita. Tanpa berpikir panjang pria itu pun memarkirkan motornya dan mengikuti langkah Nandita mendekati tempat di mana Zidan berada.
Terlihat Zidan meringkuk di tanah di dalam semak yang rimbun. Pria ini diam. Tak sadarkan diri.
"Astaga, Neng. Suamimu badannya panas sekali!" ucap pria itu.
"Bagaiamana ini, Pak? Saya takut suami saya kenapa-napa!" ucap Nandita dalam isak tangisnya. Tanpa Nandita sadari Zidan mendengar kekhawatiran wanita ayu ini. Ia juga mendengar dengan jelas Nandita menyebut dirinya adalah sebagai suami. Jika boleh jujur, Zidan tidak ingin ucapan itu hanyalah sebuah ucapan. Tetapi ia ingin ucapan itu adalah doa, yang nantinya akan menjadi kenyataan. Zidan ingin Nandita sudi menjadi pendamping dalam hidupnya. Menjadi pelengkap dalam sisa waktu yang ia punya.
"Begini saja, Neng. Suamimu badanya besar sekali. Bapak pun tak kuat jika menggendongnya. Rumah Bapak tidak terlalu jauh, Bapak ambil mobil dulu ya," ucap sang pengendara. Nandita tak melarang. Ia pun percaya pada pria paruh baya itu. Hanya itulah jalan satu-satunya. Nandita pasrah, jika seandainya pria tersebut berbohong pun dia bisa apa. Nandita hanya berharap jika pria ini tak mempermainkannya.
"Baiklah, Pak. Saya mohon jangan lama-lama," jawab Nandita cemas.
Pengendara motor tersebut pun segera berlari ke jalan raya untuk mengambil motornya dan pulang mengambil mobil seperti yang ia janjikan pada Nandita.
Seperti mendapat dorongan semangat. Zidan pun membuka mata pelan, menatap Nandita sekilas. Lalu tersenyum. Tetapi, dari sudut hati yang terdalam penyesalan itu datang kembali menghantuinya. Zidan kembali membenci dirinya sendiri. Sebab telah bertingkah bodoh. Menyakiti wanita yang tak punya salah padanya.
"Kamu memang jahat, Zidan," balas Nandita masih dalam isak tangisnya.
"Makanya, jangan menangis untukku. Kamu wanita baik Nandita, kita berbeda," ucap Zidan lagi. Kini Nandita yang diam. Tak sanggup berucap. Sebab rasa sesak yang ia rasakan di dalam dadanya seperti mencengkeram kuat.
Nandita takut, sangat takut terjadi apa-apa pada Zidan. Lalu ia pun kembali mendekap Zidan agar suhu tubuh pria ini tidak semakin naik.
"Maukah kamu memaafkanku, Ta?" tanya Zidan antara sadar dan tidak. Zidan meringis, karena ia merasakan kepalanya hampir pecah. Nyeri sekali. Seperti ditusuk benda tajam. Sedangkan Nandita masih belum mau menjawab. Nandita dilema, ia bingung. Hati kecilnya menginginkan Zidan hidup dan tetap membantunya menjaga Raka. Namun, dari sudut hati yang lain ia juga masih belum bisa memaafkan Zidan.
"Aku akan pergi dengan tenang kalau kamu sudah memaafkanku, Ta. Aku mohon maafkanlah aku," ucap Zidan kembali memohon. Zidan memejamkan matanya.
Kali ini Nandita tak tinggal diam. Baginya Zidan keterlaluan. Mengapa ia mau menyerah begitu saja? Membuatnya ingin memukul kepala pria ini saja. Agar paham bahwa ia memiliki tanggung jawab yang sangat besar.
"Kamu ingin aku memaafkanmu?" tanya Nandita lembut.
"Iya, Ta. Aku ingin kamu memaafkanku. Tolong maafkan segala kekhilafan ku. Tolong maafkan kesalahanku, kamu mau kan memaafkanku, Ta!" Zidan tak kuasa lagi bangkit, meskipun ia ingin. Tubuhnya serasa melayang. Seperti tak bertulang.
Selepas berucap seperti itu, Zidan terbatuk. Membuat Nandita kembali kebingungan.
"Aku akan pergi dengan tenang setelah mendapatkan maaf darimu, Ta. Karena itulah tujuan hidupku selama ini. Aku mencarimu kemana-mana, Ta. Demi Tuhan!" tambah Zidan lagi, serius.
Nandita yang kesal, akhirnya mengeluarkan amarahnya. Agar Zidan sadar bahwa ia memiliki tanggung jawab yang tidak main-main. Yaitu ada Raka yang membutuhkannya.
"Kamu bisa nggak sih nggak ngomong begitu. Aku mau kamu sembuh. Aku sudah berusaha mencarikanmu bantuan. Lalu kamu mau menyerah begitu saja. Kamu memang jahat Zidan. Aku membencimu," balas Nandita ketus. Air matanya kembali menetes dan membasahi wajah ayunya.
"Aku serius, Ta. Aku tidak akan pergi dengan tenang kalau kamu belum maafin aku. Aku takut Tuhan, Ta," ucap Zidan, napasnya mulai tersegal.
"Kamu memang jahat Zidan. Sebelas tahun aku menjaga putramu sendiri. Selama ini aku tak pernah mengeluh Zidan. Aku ikhlas membesarkan Raka tanpamu. Lalu, tanpa ada angin tanpa ada hujan kamu datang. Apakah kamu tahu, sejak usianya menginjak lima tahun. Diam-diam putramu mulai mengumpulkan uang sakunya. Ia tak pernah mau membelanjakan uang itu. Sebab ia mempunyai satu tujuan yang sangat mulia yaitu mencarimu. Mencari ayahnya. Lalu setelah kalian bertemu, dengan mudahnya kamu mau meninggalkan dia lagi. Kamu jahat Zidan. Jahat!" Nandita tak kuasa lagi menahan sesak yang ia rasakan dalam dadanya. Entah mengapa ia ingin marah melihat Zidan hendak pasrah terhadap nasibnya. Ingin menyerah terhadap takdirnya. Padahal dulu ia sangat membenci pria ini.
"Maafkan aku, Ta! Aku nggak kuat lagi, Ta, " ucap Zidan lagi, terbata, napasnya naik turun. Membuat Nandita tak sanggup lagi berpikir jernih.
"Zidan dengarkan aku. Dengarkan Zidan. Dengarkan baik-baik. Aku akan memaafkanku jika kamu bisa membawa Raka menjadi pria tangguh sepertimu. Aku akan memaafkanmu jika kamu berhasil menjadikan putraku pria yang berhati mulia sepertimu. Maka bertahanlah untuk itu. Aku mohon Zidan, kamu ingin dapat maafku kan?" ucap Nandita lembut. Namun sayang sepertinya Zidan tak mendengar ucapan itu lagi. Pria ini lemas. Ia telah terlelap dalam dekapan Nandita. Zidan menyerah.
Bersambung.....