
Vano dan anak buahnya sudah sampai di lokasi. Apa yang dikatakan Raka tidak meleset. Tanpa sengaja, Vano melihat beberapa preman yang mencurigakan.
"Sepertinya yang dikatakan Raka benar. Zidan pasti disembunyikan di sini," ucap Vano.
"Bos benar! lihat itu Regen!" tunjuk salah satu anak buah Vano.
Vano tersenyum. "Bawa gadis itu keluar!" ucap Vano memerintahkan.
Tak menunggu waktu lagi, anak buah Vano pun mengeluarkan Haya yang mereka sembunyikan di bagasi mobil.
Sedangkan Vano langsung menyapa Regen. "Hay Bro, bagaimana kabarmu!" sapa Vano, meledek Regen.
Regen dan beberapa orang yang kini bersamanya, langsung menghentikan langkah dan membalikkan tubuh. Mencari arah suara yang memanggil mereka.
Regen menatap tajam ke arah Vano. Terlebih pada dua anak buah Vano yang saat ini menahan Haya.
"Lepaskan adikku, Brengsek!" teriak Regen penuh amarah.
Bukannya gentar, Vano malah tertawa sambil memencet kedua pipi gadis yang sedang ia sadera.
"Melepaskan dia? Enak saja! kita belum menikmatinya, Bro!" jawab Vano sambil berpura-pura hendak mencium Haya, tidak serta merta Haya diam, gadis ini berontak ingin melawan. Membuat Vano semakin suka mempermainkannya.
"Berani sekali kau menyentuh adikku!" teriak Regen.
Vano menoleh, dan menurunkan tangannya dari pipi Haya. Proa gagah ini semakin senang mempermainkan emosi Regen. Tanpa memedulikan teriakan Regen, pria ini dengan berani melepas lakban yang menutupi mulut Haya. Dan mencium paksa gadis itu. Kali ini ia mencium, benar-benar mencium. Sehingga amarah Regen semakin memuncak.
Regen yang tak mampu lagi menahan amarah, tentu saja langsung meminta anak buahnya untuk menyerang Vano dan anak buahnya.
"Habisi mereka!" teriak Regen memberi perintah. Tak ada perbincangan lagi. Anak buah Regen langsung menyerang Vano dan kawan-kawan.
Pertempuran tak terelakkan, anak buah Regen langsung menyerang dengan membabi buta. Anak buah Vani hampir kewalahan karena Vano hanya bertiga. Sedangkan Regen berlima. Namun, Vano dan anak buahnya tak menyerah. Mereka terus saja melawan. Sedangkan Haya sendiri diborgol dan dihubungkan dengan rantai yang ada di mobil. Agar saat pertempuran, Regen tidak bisa dengan mudah membawa lari adiknya.
Pertempuran sengit masih berlanjut. Beberapa menit kemudian, bala bantuan dari pihak Vano datang. Namun, anak buah Regen ternyata tak kalah banyak. Entah dari mana asalnya. Yang jelas saat ini orang-orang itu datang bakal semut. Dengan membawa berbagai senjata.
"Sial! Mereka banyak sekali!" ucap Vano kepada salah satu anak buahnya.
"Iya, Bos. Dari mana mereka berasal?" balas pria itu, sambi terus meladeni beberapa orang yang menyerangnya.
Vano dan anak buahnya hampir kalah. Mereka benar-benar kalah banyak. Namun, tanpa ia sadari ada bala bantuan yang tidak kelihatan. Beberapa kali Vano melihat anak buah Regen tiba2 tumbang. Entah siapa yang menyerang. Rasa penasaran pun menghampiri pria gagah ini.
Raka dan Dion memang sepakat membagi tugas. Raka membantu Vano dan pasukannya. Sedangkan Dion mencari keberadaan Zidan. Mereka terus berkomunikasi dengan earphone yang terus menancap di telinga mereka masing-masing.
Terlihat Raka masih fokus meluncurkan peluru-peluru batu miliknya. Sedangkan Vano fokus melumpuhkan Regen. Yang menurutnya sangat kuat bak baja itu.
Beberapa detik berlalu, ponsel Raka berdering. Dengan cepat bocah tampan ini pun mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Ya, Om!" jawab Raka.
"Raka, Om menemukan ayahmu. Cepat ke mari!" pinta Dion di sela-sela panggilannya.
"Share lokasi Om," pinta Raka.
Tak banyak bicara, Dion pun langsung memutus panggilan telepon nya dan membagikan sinyal lokasi di mana ia berada.
Sedangkan Raka sendiri segera beranjak dari tempatnya sekarang dan berlari menuju lokasi yang telah dikirim oleh Dion.
Di ujung sana, Dion sendirian. Berusaha menggendong Zidan yang saat ini dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Pria ini lemah, tubuhnya penuh dengan luka. Bukan hanya itu, Zidan juga menggihil kedinginan. Sebab anak buah Regen melucuti seluruh pakaiannya. Hanya tersisa ****** ***** saja.
"Brengsek kamu Regen! Akan ku tembak kepalamu jika sampai ketemu. Kamu apakan abangku!" teriak Dion dalam isak tangisnya.
Beberapa kali Dion mencoba menggendong, namun gagal dan gagal. Sebab tubuhnya kalah besar dengan Zidan.
"Biadab kamu Regen!" teriak Dion lagi. Dion masih tak kuasa melihat tubuh Zidan yang penuh dengan luka dan ada pula darah mengering di beberapa bagian. Sepertinya, Zidan memang mendapatkan siksaan dari waktu ke waktu.
Beruntung Raka cepat sampai. Bocah ini langsung tertegun tanpa kata ketika melihat kondisi sang ayah. Lututnya terasa lemas. Matanya menatap nanar kearah pria yang terbaring lemah tanpa busana itu.
"Raka cepat, sebelum mereka datang!" bentak Dion. Seketika suara itu pun menyadarkan bocah tampan itu.
Dengan cepat, Raka pu menghampiri mereka, tak lupa ia pun mengeluarkan sarung yang ada di dalam tasnya untuk menutupi tubuh sang ayah.
"Ayo Raka bantu Om! Biar Om yang gendong ayahmu!" pinta Dion. Raka yang yang tanggal, tentu saja ia langsung membantu Dion dan menaikan tubuh sang ayah ke atas punggung sang paman.
Setelah di rasa siap dan aman. Mereka pun mulai bersiap melarikan diri.
Bersambung...