
Nandita menginjak pedal gasnya dengan kemampuan maksimal. Tak ada lagi ketakutan di hati wanita ini. Yang ada hanyalah bagaimana caranya supaya cepat sampai ke rumah sakit atau klinik 24 jam. Apapun itu, yang penting tempat yang bisa menyelamatkan Zidan.
Mendengar tangisan Raka, membuat Nandita semakin gugup. Wanita ayu ini tak bisa mendengar suara tangis sang putra. Baginya suara tangisan Raka adalah sembilu yang menancap tajam pada ulu hati. Mungkin ini adalah wujud rasa sayang yang Nandita berikan pada bocah tampan ini. Apa lagi tangisan Raka kali ini untuk ayah yang belum lama ia temukan. Nandita semakin tak tega.
"Jangan nangis, masak jagoan nangis," ucap Zidan menghibur. Padahal dirinya sendiri seperti berada dalam hidup dan mati. Matanya berat. Ingin tidur. Namun ia tetap berusaha terjaga. Agar Raka tak panik.
"Raka takut, Yah!" suara bocah tampan ini terdengar menyayat hati. Raka memang tak main-main. Ia benar-benar takut.
"Nggak akan terjadi apapun pada Ayah, percayalah," ucap Zidan. Terdengar semakin lirih membuat Raka semakin takut.
"Jangan biarkan ayah tertidur Raka, usahakan ayah tetap terjaga," pinta Nandita tegas. Tak terlihat lemah sama sekali. Bukan seperti Nandita yang Zidan kenal.
Zidan hanya tersenyum sambil meringis sakit. Tetapi, terlepas dari musibah yang ia alami, ia bahagia. Karena ia tahu bahwa ternyata, Nandita sangat peduli padanya.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di klinik 24 jam yang lumayan lengkap. Nandita berharap klinik ini tidak menolah Zidan. Nandita langsung turun dan berlari meminta bantuan para petugas medis di sana.
Beruntung mereka tanggap dan tidak menolak. Beberapa petugas medis langsung membantu Zidan. Memapah pria tampan itu untuk masuk ke dalam ruangan rawat.
Zidan ternyata pria yang tangguh. Ia sukses menjaga keseimbangan diri. Sebab dalam pikirannya ia tak ingin membuat Raka khawatir. Ia tak ingin membuat Raka semakin menangis.
Zidan di bawa masuk ke dalam ruang perawatan. Raka ingin menemani, namun petugas medis melarangnya. Membuat bocah ini semakin khawatir. Ia pun kembali menangis di pelukan sang bunda.
"Bunda, ayah, Bun. Raka takut!" teriak Raka dalam isak tangisnya. Bocah tampan ini ingin ikut ke dalam. Menemani sang ayah melewati masa menegangkan dalam hidupnya.
"Cup, Sayang. Raka nggak boleh takut. Kita sama-sama do'ain ayah ya, semoga semua baik-baik saja." Nandita mengeratkan pelukannya.
Raka menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia mengerti maksud sang ibunda. Tetapi, rasa khawatir tetap saja membelenggu jiwanya.
Nandita sama sekali tidak menangis. Meskipun tak dipungkiri bahwa ia juga khawatir. Khawatir terjadi apa-apa pada pria itu. Hanya saja ia tak mau menambah beban sang putra. Sebaik mungkin Nandita berusaha mengcover rasa takut itu menjadi rasa tegar. Agar ia juga bisa menguatkan Raka.
Di sini seperti bukan Nandita Kayana yang selalu takut dengan darah. Wanita ini terlihat mampu mengendalikan ketakutannya, walaupun baju yang ia kenakan ternodai oleh darah Zidan. Demi Raka ia pun bisa menjelma menjadi wanita kuat.
"Raka nggak mau kehilangan ayah, Bunda. Raka mau ayah, Bunda," ucap bocah tampan ini. Lagi-lagi ia kembali menangis.
Nandita kembali mengeratkan pelukannya. Berusaha memberikan kekuatan pada sang putra. Menyakinkan bocah tampan ini bahwa tak akan terjadi apapun pada sang ayah. Yang penting saat ini yang harus ia lakukan adalah berdoa dan berdoa. Meminta pasa yang Maha Kuasa agar menyelamatkan sang ayah dari maut.
Tiga puluh menit kemudian, perawat yang membantu menangani Zidan keluar dari ruangan tersebut. Meminta Nandita dan Raka masuk.
"Ayah!" panggil Raka, langsung berlari menghampiri pria yang masih terbaring lemah di ranjang rawat tersebut. Raka langsung memeluk dan mencium pipi pria tampan ini. Terlihat jelas bahwa bocah ini takut kehilangan dirinya.
"Maaf, Dokter. Ini adalah putra saya," ucap Zidan.
Sang dokter yang mengerti bagaimana khawatirnya perasaan seorang anak yang melihat ayahnya terluka hanya tersenyum dan memberi kesempatan.
Namun sayangnya, kebahagiaan yang dirasakan oleh Raka dan Zidan, tidak terjadi pada Nandita. Wanita ini malah diam tertegun. Aku lebih tepatnya tidak menyangka akan bertemu seseorang dari masa lalunya. Nandita tak sanggup berucap. Ia hanya menatap nanar pada pria yang berpakaian dokter itu.
Pelan namun pasti. Nandita pun mendekati ketiga pria tersebut. Nandita hanya diam dan menjaga pandangannya. Dia hanya tidak mau matanya bertemu dengan mata pria itu. Pria yang pernah memberikan kenangan yang indah dalam hidupnya. Pernah mengukir sebuah janji untuk hidup bersama. Namun semua hilang seketika, ketika Nandita pulang ke kampung dan membawa kabar yang cukup mengejutkan.
Nandita dikabarkan berbadan dua. Namun tidak diketahui siapa ayah dari bayi tersebut. Terang saja hinaan dan cacian tak bisa dihindari. Bukan hanya itu, Nandita juga diusir dari rumah. Keluarga besarnya tidak menginginkannya lagi. Beruntung saat itu Kartika yang mengantarkannya belum beranjak. Sehingga wanita itu memilih membawa Nandita kembali dan menjaganya seperti putrinya sendiri, sampai saat ini.
Pertemuan yang telah ditakdirkan tentu saja tak bisa dihindari. Mata Nandita dan pria berpakaian dokter itu pun bertemu. Mereka sama-sama saling menatap tanpa kata. Hanya bisikan hati yang berbicara. Nandita diam, pria itu pun diam. Namun, Zidan yang jeli tentu saja curiga. Ia pun bertanya, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Maaf, Dok, apa kalian saling kenal?" tanya Zidan.
"Ya, kami saling kenal." Dokter itu kembali menatap Nandita dengan tatapan penuh kerinduan. Zidan bisa merasakan itu. Sebab cara dokter itu menatap Nandita, sama seperti ketika ia mengekspresikan kerinduannya.
"Apa kabar Ta?" tanya Dokter itu gugup. Zidan melirik kesal.
"Baik, Alhamdulillah." Nandita tersenyum sekilas, tetapi Nandita bukan wanita yang bisa menyembunyikan rasa. Tampak jelas bahwa saat ini wanita ini gelisah.
"Oh, bagus kalau begitu. Ada kabar baik untuk kalian. Tidak terjadi apa-apa pasa ayahmu, bocah tampan. Lukanya juga tidak terlalu dalam. Kalau bisa ingatkan ayah ya, jangan terlau banyak bergerak dulu. Dokter udah jelasin semua tadi, gimana cara merawat lukanya. Kamu mengerti Bocah Tampan, " ucap dokter itu menatap penuh persahabatan pasa Raka.
"Oke terima kasih, Dok," jawab Raka. Sedangkan Nandita masih diam. Tak mau banyak bicara. Sebab saat ini ia sendiri tak mampu menguasai perasaannya.
"Apa ada pertanyaan lagi?" tanya sang dokter.
"Tidak, Dok. Terima kasih," jawab Zidan.
Tak lama dokter tersebut pun berpamitan. Zidan menatap curiga pada Nandita. Karena wanita ini terlihat gelisah. Pasti telah terjadi sesuatu pada batin wanita itu.
Namun, Zidan tetap menjaga batasannya. Ia tak ingin menyinggung masalah ini. Kalau bukan Nandita sediri yang berniat terbuka padanya. Zidan siap menunggu. Menunggu wanita ayu ini berkata jujur tentang siapa pria itu. Tetapi jika boleh jujur, Zidan cemburu.
Bersambung....