My Sunshine

My Sunshine
DEMI TUJUAN



Tak menunggu waktu lagi, Raka pun segera menghubungi Dion. Meminta pria itu untuk menjemputnya di tempat yang telah di sepakati.


Raka mengendap-ngendap menuju pintu belakang rumah yang ia tinggali. Agar kedua orang yang bertugas menjaganya, tidak menyadari kepergiannya. Beruntung sebelum ini, dia juga sudah mempelajari semua. Jadi sangat mudah bagi bocah tampan ini untuk melarikan diri dari rumah ini.


Kini bocah tampan ini sudah sampai di dekat pagar belakang rumahnya. Pertama-tama, ia memastikan tak ada yang mengikutinya. Setelah semua dirasa aman. Ia pun menaiki pohon mangga tempat biasa dia bermain.


Kembali celingukan. Menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada seorangpun di sekitar belakang rumahnya. Setelah merasa aman. Raka pun memulai aksinya kembali. Mengikat selendang yang ia ambil dari lemari Kartika ke salah satu dahan. Kemudian ia pun melempar ujung selendang ke luar pagar dan menggunakannya untuk turun.


"Yes!" ucap Raka ketika berhasil melewati pagar tersebut. Tak lupa ia pun menggulung selendang tersebut dan melemparkannya kembali ke dalam tembok pembatas rumah itu.


Merasa aman, bocah tampan ini pun kembali berlari ke tempat tujuan. Tempat di mana dia dan Dion bertemu janji.


Beruntung, Raka tak membutuhkan waktu yang lama untuk menuju tempat tujuan. Dan ternyata Dion juga sudah menunggunya di sana.


Dengan cepat bocah tampan ini pun masuk ke dalam mobil tersebut.


"Ayo, Om!" pinta Raka sambil memakai sabuk pengamannya.


"Siap!" ucap Dion. Tak menunggu waktu lagi, pria tampan ini pun langsung menginjak pedal gasnya dan melakukan kendaraannya ke tempat di mana Raka menemukan mobil tersebut.


"Om bawa pasukan nggak?" tanya Raka.


"Mereka sudah ke sana duluan, Dek. Gimana, mobilnya masih di tempat atau tidak. Astaga! Kenapa Om nggak kepikiran sampai sana. Bodoh sekali!" umpat Dion pada dirinya sendiri.


"Santai Om, tapi bunda nggak tahu kan rencana kita?" tanya Raka takut. Ya, Satu-satunya orang yang ia takuti adalah ibunya. Selama ini bocah tampan ini selalu mematuhi apapun yang wanita itu inginkan. Namun, kali ini ia sungguh terpaksa. Terpaksa melanggar perintah sang ibu, habis mau bagaimana lagi? Sang ayah sedang dalam bahaya.


"Semoga bundamu belum menyadari ini. Om sudah minta salah satu anak buah Vano untuk mengalihkan perhatian bundamu. Kita berdoa saja, pacar ayahmu itu tidak rewel," jawab Dion sedikit gemas. Sebab Nandita memang sangat cerewet dan rewel jika menyangkut orang-orang yang sangat ia sayangi.


"Om berani sama ayah?" pancing Raka.


"Enggak! Kenapa?" tanya Dion.


"Om barusan ngatain pacar ayah loh! Nggak tahu Raka kalo ayah sampai dengar," jawab Raka sembari terkekeh. Sedangkan Dion hanya melirik sebel.


"Dah ah, coba kamu periksa lagi mobil ayahmu, awas aja kalo kamu sampai ngadu sama pria bodoh itu," umpat Dion lagi, kembali mengeluarkan kekesalannya pada sang kakak.


"Baiklah. Tapi ini hanya mobilnya Om, bisa jadi ayah di tempat lain. Tapi setidaknya kita coba dulu." Raka kembali membuka ponselnya dan mengotak-atik posisi mobil tersebut.


"Astaga, Om. Mobil itu berpindah tempat!" ucap Raka sembilan memberi tahu Dion pergerakan mobil milik Zidan.


"Mana?" tanya Dion.


"Ini," jawab Raka sembari menyerahkan ponselnya pada Dion.


"Oke, Om tahu tempat itu Raka. Pegangan, mari kita kasih pelajaran mereka. Oiya, persiapanmu bagaimana? semua oke?" tanya Dion.


"Oke Om!" jawab Raka sembari memberikan kode pada Dion.


Lalu mereka berdua pun memulai petualangannya hari ini. Menyelamatkan Zidan dari para penculik itu.


***


Di sisi lain, ada Zidan yang berusaha melarikan diri dari cengkraman Regen. Namun sayang, Zidan seakan kehabisan tenaga. Bukan hanya karena tidak diberi makan dan minum, tetapi juga karena siksaan yang diberikan oleh Regen tak main-main.


Regen begitu tega dan kejam. Apalagi mengingat Haya, sang adik sedang dalam genggaman Dion dan gengnya. Membuat pria ini semakin murka.


"Coba saja, kalau sampai mereka menggores sedikit saja kulit adikku, maka pria ini akan aku rebus di depan mata mereka!" ancam Regen, tatapan matanya tajam. Seolah hatinya merasakan gejolak yang menggebu.


Pria ini memang tidak akan pernah terima jika ada yang berani mengusik kehidupan pribadi adiknya tersebut.


Sepertinya Regen lupa, jika dia pernah menghancurkan kehidupan seorang gadis, yaitu adik dari pria yang saat ini sedang ia tahan.


Regen mendatangi Zidan yang saat ini sedang diikat di sebuah kursi kayu. Dengan mata tertutup dan juga mulut tertutup. Tetapi Zidan tidak bodoh, ia tahu jika yang melakukan ini adalah Regen. Musuh bebuyutan nya.


"Bagaimana? Apakah dia menginginkan sesuatu?" tanya Regen pada salah satu anak buahnya yang menjaga Zidan.


"Tidak, Bos. Sepertinya kita bisa membawa anak dan istrinya ke sini," jawab pria itu terkekeh.


"Tidak semudah itu, Brengsek! Wanita itu dijaga ketat oleh anak buah Vano. Pria bajingan itu harus kita lenyapkan dulu. Baru kita bisa menikmati wanita pemilik hati pria ini," ucap Regen dengan tawa khasnya.


Dalam hati, Zidan sangat mengutuk pria-pria yang berniat jahat pada Nandita dan juga Raka. Andai saat ini, mereka membuka matanya, maka Zidan akan mengingat satu persatu yang pria yang kini ada di depannya. Zidan berjanji tak akan mengampuni satu pun dari mereka. Jika mereka sampai berani menyentuh Nandita dan Raka.


Bersambung....