
Sopir yang diminta Dion untuk menjemput Zidan, sudah datang dan kini sedang mengurus administrasi untuk sang big bos.
Di dalam mobil Zidan dan Nandita menunggu dengan perasaan malu-malu. Mereka berdua seperti sepasang ABG yang sedang jatuh cinta. Tetapi malu untuk mengutarakanmknya.
Nandita menutupi wajah ayunya dengan rambut panjangnya. Serta terlihat menutup diri dengan terus memeluk jaket milik Zidan. Anehnya tingkahnya itu malah membuat Zidan gemas. Diam-diam pria ini bersemangat memerhatikan tingkah aneh Nandita.
"Bun!" panggil Zidan, tentu saja panggilan itu mengejutkan Nandita. Sebab sedari tadi wanita ini hanya melamun.
"Hemmm!" jawab Nandita. Detak jantungnya serasa berdetak sangat cepat. Tatapan Zidan nyatanya sanggup membuat wanita ini merasa seperti jadi pusat perhatian.
"Boleh Ayah tanya sesuatu?" tanya Zidan.
Astaga, apa ini mengapa panggilan kita jadi manis begini. Tidak, tidak, aku tidak boleh terlena. Kita hanya teman, hanya teman Nandita jangan kepedean, batin Nandita bergemuruh keras. Ingin senang dengan panggilan itu, tetapi ia juga takut jatuh cinta pada pria tampan ini. Nandita sangat-sangat takut. Takut kecewa. Takut cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Tanya saja," jawab Nandita pelan.
"Apakah Bunda pernah jatuh cinta?" tanya Zidan gugup. Sebab dia sendiri saat ini juga berada dalam lingkup cinta yang menyerang hatinya.
"Jatuh cinta? Apa itu?" tanya Nandita pura-pura bodoh. Menyembunyikan senyumnya dan Zidan tahu jika Nandita sedang menyembunyikan senyuman cantiknya.
"Itu lo, Bun. Perasaan happy jika bertemu seseorang yang kita suka," jawab Zidan sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
"Nggak tahu. Dih, nanyanya aneh-aneh," balas Nandita masih dengan sikap malu-malunya. Nandita hanya mengigit kuku-kukunya untuk menghilangkan kegugupannya. Untuk menghilangkan rasa aneh yang mulai timbul dalam hatinya.
Perasaan ini begitu dalam mengusik jiwanya. Sampai menatap Zidan saja ia malu, ia tek berani.
"Apakah Ayah boleh jujur, Bun?" tanya Zidan lagi. Lembut dan penuh kesungguhan.
"Tentu saja, masak jujur nggak boleh," jawab Nandita sedikit ketus. Namun, kali ini Zidan paham. Jika jawaban ketus itu hanya untuk menutupi rasa yang Nandita rasakan untuknya.
"Ayah ingin kita bareng, Bun," ucap Zidan memberanikan mengutarakan apa yang sebenarnya hatinya inginkan.
"Maksudnya?" balas Nandita bingung.
"Maukah kita saling mengenal, Bun. Maukah Bunda lebih mengenalku. Pun sebaliknya. Bolehkah aku tahu lebih dalam tentang Bunda. Kepribadian Bunda. Apa yang Bunda suka dan apa yang Bunda tidak suka!" pinta Zidan. Pria ini menatap lembut ke arah Nandaita. Pertanda apa yang ia utarakan adalah kesungguhan hatinya.
"Ya kalau situ mau mengenal saya, ya monggo. Tapi kalau situ mau minta aku untuk mengenal lebih dekat, aku nggak mau," jawab Nandita sembari menahan tawa. Wanita ini kembali membuang muka sebab baginya wajah Zidan begitu menggelikan ketika tegang begini.
"Kenapa nggak mau Bun? Apakah aku seburuk itu?" tanya Zidan spontan.
"Nggak, kamu nggak buruk kok. Kamu baik. Aku kan belum selesai ngomong. Maksudku nggak mau nolak," jawab Nandita. Masih bertahan dengan keinginannya menertawakan Zidan.
"Maukah kita Bunda berkomitmen denganku. Saling menjaga hubungan ini, Bun. Sampai kita sama-sama siap untuk melangkah lebih jauh!" pinta Zidan sungguh-sungguh.
"Entahlah, ini benar atau tidak. Aku hanya takut jika rasa benciku untukmu masih ada. Aku takut menyakitimu Zidan," jawab Nandita jujur.
"Apapun konsekuensinya aku siap menanggungnya, Ta. Karena awalnya akulah yang bersalah. Aku hanya ingin menjagamu dan Raka. Aku ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku. Aku ingin menjaga kalian dengan kesungguhanku," ucap Zidan serius.
Nandita diam. Belum bisa memberikan jawaban apapun untuk Zidan. Sebab jika boleh jujur ia sendiri ragu, meskipun ingin. Meskipun tak dipungkiri bahwa ia sangat tertarik dengan pria tampan di sebelahnya ini.
"Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap menerimaku dengan hatimu, Ta. Sampai kamu bisa mengikhlaskan perbuatan bejatku. Aku minta maaf soal itu," ucap Zidan. Kali ini pria ini memberanikan diri mendekati Nandita. Meraih tangan wanita itu dan menciumnya dengan cinta yang ia rasakan dalam hati.
"Jangan seperti ini Zidan. Kita nggak boleh begini," ucap Nandita sembari menarik kembali tangannya yang ada di dalam genggaman pria tampan ini.
"Maafkan aku, Ta!" minta Zidan. Terdengar sangat lembut dan sangat menyentuh hati.
"Aku tidak tahu apakah ini benar atau salah, Zidan. Tetapi aku juga tak ingin melawan kehendak Tuhan. Jika kamulah jodohku, aku bisa apa. Biarlah takdir yang menjawab hubungan kita, Zidan. Apapun itu, mari kita jalani," jawab Nandita dewasa. Meskipun jawaban itu masih penuh teka-teki, ini sudah cukup membuat Zidan paham jika Nandita memberinya kesempatan untuk membuktikan keseriusan niatnya, ucapannya, dan keinginannya.
"Apakah itu artinya, kamu memberiku kesempatan untuk lebih mengenalmu ibunya Raka?" tanya Zidan. Dengan penuh keberanian ia pun mengangkat dagu Nandita dan memaksa wanita ayu ini untuk menatap matanya.
"Ya!" jawab Nandita singkat.
Andai Zidan tidak takut Nandita menamparnya, mungkin saat ini juga pria ini akan nekat. Nekat mencium bibir cantik itu. Beruntung Zidan masih bisa menahan perasaannya. Menahan hasratnya. Ia pun hanya tersenyum dan mengelus pipi Nandita mesra.
"Makasih, Ta," ucap Zidan. Kembali tersenyum sebab dia memang bahagia.
"Sama-sama," jawab Nandita. Kembali membuang pandangannya sebab ia malu.
Zidan kembali ke tempat duduknya semula. Karena ia takut tak mampu menahan dorongan batinnya untuk mewujudkan cinta yang ia rasakan. Zidan hanya takut tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk wanita yang berhasil menerobos masuk ke dalam jantung hatinya dan menjadi penguasa di sana.
"Ingat baik-baik Nandita Kanaya, mulai hari ini kamu adalah kekasih Zidan Giovano. Jangan pernah lupa itu!" ancam Zidan dengan senyum kebahagiaan.
"Iya pria pemaksa, puas!" balas Nandita tak kalah ketus.
Kemudian mereka pun sama-sama tersenyum sebab sejatinya mereka memang bahagia. Dalam hati masing-masing mereka saling berjanji untuk saling menjaga komitmen yang telah mereka sepakati sampai hari di mana Tuhan akan menyatukan cinta mereka.
Bersambung...
Terima kasih buat like komen dan Votenya. Kalian terbaik gaesπππ