My Sunshine

My Sunshine
Tak Menyangka



Tangis Nandita meledak ketika melihat kekasih hatinya terbaring lemah di ranjang ruang perawatan. Beberapa alat menancap di tubuh pria yang selalu terlihat gagah itu.


"Ya Tuhan!" Nandita menutup mulutnya menahan tangis. Hatinya teramat sangat sedih. Pikirannya jadi tak karu-karuan. Ketakutan langsung menyerang batinnya. Bagaimana jika Zidan tidak selamat? Bagaimana jika pria itu meninggalkannya? Entahlah, Nandita hanya tak ingin berpisah dengan pria itu.


Nandita mendekati pria yang terbaring lemah dengan wajah pucat itu. Wanita tak kuasa menahan sesak yang ada di dadanya. Tangis Nandita kembali pecah mana kala ia memanggil nama pria itu. Dia tetap diam, tak menjawab panggilannya, tetap bergeming. Tak meresponnya. Nandita frustasi.


"Raka, bagaimana ini?" tanya Nandita pada sang putra yang saat ini berdiri tepat di sebelahnya.


"Tenangkan diri, Bunda. Ayah sudah melewati masa kritisnya. Alat-alat Vitalnya juga sudah Oke, Bun. Tinggal kita tunggu ayah sadar saja. Bunda nggak perlu sekhawatir itu. Ayah adalah pria yang tangguh dan kuat. Beliau pasti bisa melewati masa ini. Bunda yang sabar, ya! Bunda harus tegar. Bunda harus kuat. Agar bisa merawat ayah. Bukankah Bunda mau merawat ayah," ucap Raka sembari memeluk wanita yang telah melahirkannya itu. Mencoba memberinya kekuatan, agar mampu melewati masa yang menegangkan ini.


"Kasihan sekali ayahmu, Nak. Kenapa jadi begini? Apa salahnya pada orang-orang itu? Sampai mereka tega melakukan hal keji seperti ini padanya!" ucap Nandita, menyesal.


"Raka juga tak tahu, Bun. Oiya, Bun, besok Raka sama om Dion mau terbang ke Jakarta. Om minta bantuan Raka untuk melacak musuh-musuh ayah." Raka menatap sang ibunda. Berharap sang ibu bisa membaca isi pikirannya. Mengerti tentang apa yang ia khawatirkan.


"Om Dion serius minta bantuan, Raka. Emang Raka disuruh ngapain?" tanya Nandita tak percaya.


Raka tahu jika sang ibunda pasti menyangsikan bakatnya. Tapi Raka tak mau ambil pusing tentang pemikiran sang ibu. Yang ia yakini adalah ia harus memperjuangkan hak sang ayah.


Raka tak mau tinggal diam melihat ketidakadilan terus menyerang sang ayah. Omnya saja, begitu gigih memperjuangkan hak sang ayah. Lalu, kalau dia bisa membantu, kenapa tidak?


"Bunda tenang saja. Yang penting Bunda berdoa, semoga Raka bisa menangkap orang-orang yang berniat jahat terhadap ayah dan keluarga kita." Raka menundukkan kepalanya. Seperti sedang menahan sesuatu. Tapi, apa itu, Nandita sendiri tak tahu.


"Tapi Bunda takut, Ka! Bagaiman jika terjadi sesuatu padamu? Bagaimana dengan ayah dan Bunda? Bagaimana cara Bunda menjelaskan ini pada ayahmu kalau beliau bangun?" cecar Nandita jujur


"Apapun yang Raka lakukan saat ini adalah demi sang ayah, Bun. Demi Bunda dan juga seluruh keluarganya. Raka nggak mau apa yang diperjuangkan ayah selama ini sia-sia. Raka nggak mau ayah terus jadi mainan orang-orang yang tak punya hati. Raka ingin kasih tahu pada dunia, bahwa ayah punya Raka. Ayah tidak sendiri. Ayah punya orang-orang yang peduli padanya. Hanya itu!" jawab Raka tegas.


"Sekarang, Bunda tak akan melarangmu, Putraku. Tapi, Bunda mau kamu tetap hati-hati. Jangan gegabah. Minta terus pendapat orang-orang yang ayahmu percaya. Mengerti!" ucap Nandita.


Wajar jika Nandita khawatir. Mau bagaimanapun dia adalah seorang ibu. Sedangkan peperangan yang sedang putranya hadapi bukanlah medan perang biasa.


Raka berhadapan dengan manusia-manusai yang tidak memiliki hati. Mereka adalah mahusia-manusia yang memiliki ambisi yang luar bisa. Hanya mengedepankan ego. Dan menurut Nandita, orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang sangat berbahaya.


"Satu lagi, Bun. Raka cuma mau berpesan pada Ibu, tolong jangan bicara apapun pada opa, perihal ayah, perihal Raka, perihal kita. Kalau beliau tanya, Bunda bilang aja sedang di rumah dan tak tahu apa-apa. Sebab semua yang terjadi pada ayah, sebenarnya ada campur tangan beliau, Bun!" ucap Raka serius. Tak ada pilihan lain, kali ini ia harus sedikit terbuka pada sang ibunda. Mau bagaimanapun, sang ibunda juga dilibatkan dalam masalah ini.


Nandita menatap tegang ke arah sang putra. Bagaimana tidak? Bukankah beliau adalah ayah Zidan. Harusnya membela bukan malah menjerumuskan.


"Raka? Apa yang kamu bicarakan?" tanya Nandita sedikit tak suka dengan ucapan sang putra.


"Raka belum bisa menjelaskan detail masalah ini, Bun. Tapi itulah kenyataannya. Raka harap, Bunda mengerti!" jawab bocah tampan ini lagi. Penuh teka-teki, sehingga membuat Nandita semakin bingung dengan alur permainan ini.


Nandita tertegun bingung. Tak menyangka jika sang putra banyak menyembunyikan rahasia darinya.


Raka terkesan seperti bukan Raka sang putra, yang ia kenal. Yang selalu membantu pekerjaannya tanpa pernah menjawab tidak.


Anak ini terlihat dewasa sebelum usianya. Entahlah! Nandita masih berusaha mencerna kenyataan yang kini sedang menyelimutinya.


Bersambung...