My Sunshine

My Sunshine
SALING RINDU



Baru semalam mereka memutuskan hubungan. Memutuskan untuk tidak saling menganggu satu sama lain. Tetapi, dalamnya hati siapa yang tahu. Pada kenyataannya saat ini kedua insan itu sama-sama merindu.


Nandita terbayang-banyang senyuman tampan Zidan. Sikap lembut pria itu. Tatapan mata, yang selalu menatapnya dengan tatapan ingin selalu melindungi. Belum lagi kesopanan yang Zidan tunjukkan padanya. Zidan benar-benar berbeda, tak seperti Zidan yang ia lihat 11 tahun silam.


Pria ini jauh lebih baik. Sangat-sangat baik. Mungkin itu karena Zidan yang sekarang lebih dewasa. Lebih bisa mengontrol emosi. Semua itu bisa di lihat dari cara berpikir dan juga sikapnya. Zidan lebih berhati-hati dalam bersikap. Beturur kata. Lebih banyak mengalah. Terlebih sikap pria ini terhadap sang putra. Pria ini bisa langsung menjelma menjadi seorang ayah yang hebat. Menjadi ayah yang sangat didambakan oleh seorang Raka.


"Ya Tuhan, tolong hapuslah bayangan pria itu dari ingatanku!" pinta Nandita pada sang Pencipta. Namun, semakin ia meminta, bayangan itu semakin suka menganggunya. Semakin suka menganggunya. Membuat Nandita geram sendiri pada dirinya sendiri diri.


"Kenapa sih dia itu, ngeselin banget! Bisa nggak sih jangan senyum. Dasar pria penggoda!" gerutu Nandita. Lalu diambilnya ponsel untuk menghubungi Raka. Wanita ayu ini gemas pada dirinya sendiri. Mengapa tidak bisa membenci Zidan seperti dulu. Seperti awal mereka bertemu. Mengapa malah jatuh cinta pada pria pemaksa itu.


Nandita tersenyum, ketika membuka aplikasi di ponselnya. Sang putra mengirimkan sebuah foto pria yang sedang ia rindukan. Sedang memasak untuk putranya. Raka mengirimkan foto tersebut dengan caption Ternyata ayah bisa masak, Bun. Lalu tak lupa bocah tampan ini memberikan emoji hati di pesan singkatnya tersebut.


Penasaran, Nandita pun membalas pesan tersebut. "Tumben ayah masak sendiri, biasanya pesan?" tulis Nandita.


Lalu Raka pun kembali membalas, "Kata ayah kasihan abang ojeknya kalau disuruh belanja malam-malam," tak lupa bocah tampan ini juga menyertakan emoji tawa.


"O, baiklah. Raka jaga diri baik-baik ya. Jangan ngrepotin ayah!" tulis Nandita kembali mewanti-wanti.


"Siap, Bunda!" balas bocah tampan ini lagi. Lalu, setelah itu chat pun berakhir. Namun, malah menghadirkan tanda tanya di pikiran Nandita sebab, saat ia


melihat kembali foto-foto yang dikirimkan Raka untuknya, mereka masih ada di apartemen, terang saja membuat Nandita curiga. Karena Dion mengatakan bahwa kedua pria beda generasi itu telah terbang ke Jakarta.


"Kata om Dion kalian ke Jakarta?" pancing Nandita.


"Nggak, Bun. Raka dan ayah masih di apartemen. Om Dion doang yang balik. Di suruh ayah anter tante yang itu," jawab Raka jujur.


Terang saja, jawaban sang putra langsung membuat darah Nandita mendidih. Ternyata Dion berbohong padanya Apa lagi maksud dari semua ini. Nandita kembali geram Ternyata ia kembali ditipu oleh Zidan dan Dion. Ia memang tak boleh mempercaya pada mereka. Sebab, mereka berdua sama-sama penipu.


"Boleh, Bun. Apa itu?" tulis Raka.


Nandita diam sejenak. Berpikir, apakah pertanyaannya perihal masalah ini akan menyakiti putranya atau tidak. Nandita harus berpikir untuk kebaikan Raka juga. Ia tak mungkin menjelek-jelekkan Zidan di depan sang putra. Karena ia tahu Raka sangat mengidolakan pria cerdas namun menyebalkan itu.


"Tidak jadi, Nak. Nanti bunda tanya ayah sendiri aja," tulis Nandita lagi. Dan Raka hanya menjawab 'Oke' Setelah itu chat benar-benar berakhir.


Nandita kembali merebahkan tubuhnya di kasur miliknya. Pikirannya kembali melayang. Memikirkan pria yang kini telah berhasil menganggu ketenangannya. "Andai dia bukan penipu!" gerutu Nandita kesal. Kembali wanita ayu ini mengingat ketika mereka saling melindungi. Saling membutuhkan. Saling melengkapi. Nandita tak bisa melupakan saat itu meskipun ingin.


Suasana yang membelenggunya saat ini adalah aneh. Semakin ia berusaha melupakan, semakin bayangan itu intens mengikutinya. Menganggunya. Hingga membuat wanita ini resah. Seresah-resahnya.


"Apakah aku merindukannya?" tanya Nandita pada hatinya sendiri.


***


Di sini bukan hanya Nandita yang merindu. Di lain pihak ada seorang pria tampan yang kembali menikmati nikmatnya insomnia. Matanya tak mau terpejam. Namun, insomnia Zidan kalau ini bukan karena ketakutannya akan kesalahan yang pernah ia lakukan kepada Nandita. Tetapi karena hatinya merindukan wanita itu. Menginginkan wanita itu berada di sampingnya. Mengiginkan wanita itu ada di depan matanya. Menginginkan wanita itu selalu mengembangkan senyuman untuknya.


Zidan duduk di balkon apartemen mewah nya. Menatap kerlip bintang yang seakan menertawakan dirinya. Namun Zidan tidak marah. Sebab ia yakin, saat ini bintang itu juga menjadi saksi bahwa ia memang telah jatuh cinta. Zidan mengakui itu. Mengakui bahwa hatinya kini untuk milik Nandita.


Malam semakin larut. Dingin pun menusuk kulit pria tampan ini. Sayangnya, rasa itu malah menghadirkan keinginan untuk menemui wanita itu. Zidan tak tak sabar. Akhirnya dengan tekat yang kuat, ia pun membulatkan niatnya untuk menemui Nandita malam ini juga. Setidaknya melihat wanita itu aman. Setidaknya wanita itu baik-baik saja. Zidan tidak peduli, meskipun pada akhirnya Nandita akan marah jika mengetahui inginnya. Yang jelas, Zidan hanya ingin melebur sedikit rindu yang membelenggu jiwanya.


Bersambung...


Terima kasih atas like komen dan Votenya. Dia terbaik untuk kalian🥰🥰🥰