
Berbeda dengan Regen yang sedang merenungi nasibnya. Kini ada Vano dan Dion yang sedang tertawa bahagia. Menertawakan pria yang kini sedang dirundung duka.
"Sukurin, mampus! Biar tahu rasa dia! Makanya jadi orang jangan rese," ucap Dion kesal. Sedangkan Vano tertawa bahagia. Bukan hanya Dion dan Vano yang terlihat senang dengan hasil kerja mereka. Ada Galih yang tampak bersemangat.
"Ingatkan abangmu, sementara ini jangan sampai dia keluar dari apartemen. Pria ini pasti semakin ganas. Mengingat kita juga keterlaluan padanya," ucap Galih mengingatkan.
"Om benar, kita tetap nggak boleh lengah. Kita tahu bagaimana Regen!" tambah Dion.
"Tenang aja, yang penting kita tetap memperingatkan bos, agar tetap berada di tempat." Vano mengambil ponselnya dan mengecek signal ponsel milik Zidan.
"Mereka masih di tempat aman, Om. Cuma kita nggak tahu, sampai kapan bos mau diam di tempat seperti itu. Kita sama-sama tahu jika bos juga punya pemikiran sendiri," jawab Vano, yang selama ini begitu dekat dengan Zidan.
"Ya kita berdoa aja supaya bos kita tetap betah di sana," ucap Vano berharap.
"Gue sih yakin kalau si bos bakalan betah di sana, sebab kan ada pacarnnya," balas Dion, seketika pria ini menutup mulutnnya. Menyadari kekhilafannya.
"Apaan, Yon. Gue ketinggalan info apaan?" tanya Vano penasaran.
"Kagak! Kagak kenape-nape. Anggep aje ku salah denger," jawab Dion. Sedangkan Galih hanya tersenyum.
"Apaan sih om, pacar apaan. Pak Bos punya pacar ha?" tanya Vano pada Galih.
"Itu urusan anak muda, mana aku tahu," jawab Galih, pria paruh baya ini memang tak ingin terlalu ikut campur urusan pribadi Zidan. Baginya Zidan sudah dewasa. Memilih pendamping hidup adalah haknya.
Vano tak memaksa lagi. Karena jawaban yang ia terima dari Galih adalah benar. Tugasnya adalah cukup melindungi Zidan. Tidak boleh ikut campur urusan pribadi pria tersebut. Merasa tugasnya hari ini sudah selesai, Vano pun berpamitan.
Sekarang hanya ada Galih dan Dion. Dua pria beda generasi ini pun kembali menyusun rencana mereka.
"Sekarang Regen tinggal di mana?" tanya Galih pada sang putra.
"Belum tahu, Pi. Pria itu cepat sekali menghilang. Tim kita kehilangan jejak, tapi saat ini pihak berwajib sudah mulai bergerak. Vano sendiri yang meminta para temannya untuk mengawasi pria itu," jawab Dion.
"Bagus, setidaknya bukan hanya kita yang bekerja. Ada pihak lain yang mempunyai tujuan yang sama. Oiya, bagaimana kabar cucuku hari ini?" Galih menatap Dion, sedangkan Dion malah asik dengan laptopnya.
"Aku tanya bagaimana kabar cucuku hari ini. Kenapa kamu nggak jawab?" ulang Galih, kembali pria paruh baya ini menatap kesal pada sang putra.
"Papi ini, dikasih sendiri nomer ponselnya, nggak mau. Giliran apa tanya sama Dion," gerutu Dion kesal
"Ya ngga apa-apa toh, Pi kalau tahu. Emangnya kenapa? kan Papi ayahnya. Gimana sih?" Dion enggan mengalah.
Seandainya masalahnya dengan Zidan sesimpel itu, mungkin Galih tidak akan setakut ini. Ia hanya tak ingin membuka luka lama yang pernah diderita sang putra. Meskipun pada kenyatannya ia sangat merindukan putra terbaiknya itu.
Sedangkan Dion, dia menang sengaja mendorong keberanian Galih dengan caranya. Sebab ia yakin bahwa sebenarnya Zidan juga merindukan kebersamaan mereka. Sayangnya Galih terlihat masih belum punya keberanian untuk menemui putranya tersebut.
Bukan hanya itu yang Dion lakukan untuk anak dab bapak tersebut. Diam-diam pria ini juga selalu melibatkan Raka dalam urusan mereka. Karena Dion yakin jika Raka mempermudah pekerjaannya untuk mengendalikan Zidan.
"Jakarta masih belum bisa di katakan aman untuk ayahmu, Ka. Om minta tolong, tahan ayah dulu. Setidaknya sampai pria itu tertangkap oleh pihak berwajib!" tulis Dion pada pesan teks yang ia tujukan pada Raka.
Beberapa menit kemudian, Raka pun membalas pesan teks tersebut. "Ini kami sedang bersiap mau berangkat, Om. Jadi gimana? Apakah Raka harus cegah ayah sekarang?" balas Raka.
"Sebaiknya begitu, Ka. Di sini Om juga kewalahan," balas Dion jujur.
"Raka bisa bantu apa Om?" tulis Raka lagi.
"Usahakan ayahmu tetap di apartemen. Sementara itu dulu, nanti om kabari lagi. Om percaya sama kamu Raka, kalau kamu bisa menjaga abangku dengan baik," balas Dion mulai mau sedikit terbuka dengan Raka. Sebab ia yakin jika Raka adalah bocah cerdas yang bisa membaca keadaan.
"Abang? Maksud Om apa?" tanya Raka.
"Suatu hari nanti kamu pasti mengerti keponakanku, tapi percayalah Om tidak berbohong soal ini," jawab Dion. Setekah ia memberikan secuil rahasianya pada Raka, Dion tak membalas pesan Raka lagi. Ia memberikan kesempatan pada bocah ini untuk berpikir sendiri.
Sedangkan di seberang sana, ada Raka yang terus berpikir keras. kembali mengingat apa yang pernah ia dengar beberapa waktu lalu. Dan belum lama ini kecurigaannya juga telah ia sampaikan pada sang bunda.
"Mungkinkah?" tanya Raka pada dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian bocah tampan ini pun menyalakan laptopnya dan mencari biodata sang ayah dari internet. Siapa tahu kecurigaannya adalah kenyataan yang sebenarnya.
***
Di sudut ruang yang lain, kini ada Natalia yang sedang sedang mempersiapkan foto-foto lamanya bersama Zidan. Foto-foto liburan mereka. Foto-foto yang memperlihatkan kemesraan mereka. Baik di luar ruangan maupun di dalam ruangan.
Wanita yang berprofesi sebagai model ini pun tersenyum bahagia. Sebab dia yakin, jika Nandita melihat foto-foto hot itu tak menutup kemungkinan jika wanita tersebut pasti akan pergi meninggalkan Zidan. Dan ketika terjadi keretakan, maka ia akan menyusup masuk kembali ke dalam kehidupan Zidan. Mengingat semakin hari perutnya juga semakin besar.
"Jangan panggil aku Natalia kalau aku nggak bisa membuatmu kembali ke pelukanku, Zidan!" ancam Natalia dalam hati. Wanita ini tersenyum licik ketika ia menemukan satu foto super hot bersama Zidan. karena ia yakin, Nandita dan zidan pasti akan kebkaran jenggot jika mereka melihat foto tersebut.
Bersambung....