
Hari menjelang malam, Raka masih asik mengikuti video pembelajaran bahasa Inggris yang ia sukai. Sedangkan Zidan sedang berada di dapur untuk membuat kopi. Rencananya ia akan lembur malam ini.
Bersamaan dengan itu, ada Nandita yang ingin menghangatkan lauk untuk makan malam mereka.
"Mau ngapain?" tanya Nandita mengejutkan pria bertubuh tinggi tegap itu.
"Eh, Mbak Dita. Mau nglembur Mbak. Ini mau bikin kopi," jawab Zidan sopan.
"Oh, mau aku bantu?" tanya Nandita menawarkan diri.
"Boleh deh kalau nggak keberatan," jawab Zidan tidak menolak. Rasanya tak nyaman juga selalu menolak tawaran baik wanita ini.
Nandita tersenyum sekilas, lalu ia pun mulai meracik kopi untuk pria gagah ini.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Nandita , terdengar lembut seperti biasa.
"Tentu saja, Mbak. Tanyakan saja," jawab Zidan, masih bersandar di kulkas sembari menunggu wanita pujaan hati membuatkan kopi untuknya.
"Apakah sampai sekarang kamu masih bermain dengan para preman?" tanya Nandita langsung pada apa yang ingin ia tanyakan. Tanpa merasa bahwa mungkin pertanyaannya ini akan menyakiti Zidan.
"Apa maksud Mbak bertanya seperti itu?" Zidan bingung dan malah balik bertanya.
"Entahlah, kamu tahu kan aku tak bisa percaya padamu. Kamu adalah pria jahat yang tega menyakitiku. Tega melakukan sesuatu yang buruk padaku. Padahal sebelumnya kita belum pernah saling mengenal. Jujur aku curiga, jangan-jangan ini hanya akal-akalanmu untuk mendapatkan simpati Raka, atau mungkin simpatiku," ucap Nandita dengan tatapan curiga.
Zidan tertegun. Tak percaya dengan apa yang ia dengar. Nandita begitu jahat mencurigainya. Padahal Zidan telah berusaha setengah mati melindunginya dari seseorang yang hendak mencoba menyakiti bahkan mungkin berniat melenyapkannya. .
"Kenapa diam? Apakah kecurigaanku benar?" Nadita menatap Zidan dengan senyum sinis. Tatapan matanya terlihat menang. Menang dengan apa yang ia pikirkan. Menang akan kecurigaan yang telah tumbuh di hati.
"Maaf, Mbak. Sebaiknya aku kembali ke kamar." Zidan melangkah hendak meninggalkan wanita yang mencurigainya. Ia hanya tidak ingin membahas sesuatu yang nantinya akan menyakiti mereka berdua.
"Sebaiknya kamu jangan mengindar pria jahat!" pinta Nandita ketus.
Zidan menghentikan langkahnya. Lalu pria ini pun membalikkan badan menghadap Nandita.
"Aku tidak tahu, atas dasar apa Mbak menuduhku seperti itu. Aku memang pernah berbuat jahat padamu, tapi aku sudah berubah, Mbak. Sekarang aku tak sejahat yang kamu pikirkan," jawab Zidan berusaha membela diri.
"Oh ya, aku tidak percaya pria sepertimu bisa berubah menjadi baik," tangkas Nandita. Tak ingin berdepat, wanita ini pun meninggalkan Zidan tanpa kata. Masuk ke kamar tanpa melihat lagi pria itu lagi. Pria yang membuatnya kesal.
Di ruang tamu Zidan masih tak habis pikir dengan jalan pikiran Nandita. Tadinya masih baik-baik saja. Bahkan mereka berusaha membahas masalah ini. Lalu kenapa ia tiba-tiba curiga. Dari mana pemikiran itu berasal. Mungkinkah ada seseorang yang telah berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan.
Kalau toh ini adalah permikiran Nandita sendiri, tak mungkin secepat ini. Nandita tak memiliki bukti yang kuat atas tuduhannya. Lalu dari mana datangnya pemikiran itu.
Zidan resah. Sangat-sangat resah. Namun pria tampan ini berjanji akan membuktikan pada Nandita bahwa apa yang dipikirkan wanita itu tidaklah benar.
Keesokan harinya....
Kecurigaan Dion terbukti ketika anak buah pria tangguh ini mengirimkan sebuah rekaman video yang berisi tentang Natalia yang keluar dari parkiran apartemen yang diketahui itu bukan tempat tinggalnya.
Dion langsung mengirimkan video rekaman itu pada Zidan. Siapa tahu sang big bos tahu pasal ini.
"Aku belum tahu itu apartemen milik siapa? yang jelas itu bukan milik Talia," jawab Zidan dalam pesan teksnya.
"Coba, Bos ingat-ingat kembali, siapa tahu Bos dan nona pernah ke sana," tambah Dion.
"Sepertinya belum," balas pria tampan ini, masih terlihat fokus mempelajari rekaman itu. Sekarang bukan hanya Dion yang curiga. Zidan pun curiga. Sebab Natalia tak bersikap wajar. Wanita itu celingukan. Seperti takut ada yang mengawasi.
"Tak ada pilihan lain, Yon. Sebaiknya aku harus mendekati Natalia. Itu cara selanjutnya yang bisa aku pikirkan." Tulis Zidan dalam pesan teksnya.
Di sebrang sana Dion menangkap ada yang lain dari pegangai sang big bos. Zidan terlihat tidak bersemangat. Entah apa alasannya, tetapi Dion bisa merasakan pasti telah terjadi sesuatu pada pria ini. Seperti sedang dalam krisis kepercayaan diri.
Dion bukan tipe asisten yang mau menunggu dengan apa yang ia rasakan. Dengan penuh keberanian ia pun menghubungi Zidan by phone.
"Bos ada masalah?" tanya Dion langsung pada kecurigaannya.
"Hem, ibunya Raka curiga padaku. Ia berpikir bahwa ini adalah permainanku," jawab Zidan dengan suara lemah.
"Kok bisa, Bos. Dari mana dia dapat pemikiran kolot seperti itu?" tanya Dion. Jujur saat ini Dion sangat khawatir terhadap Zidan. Sebab dia tahu, betapa bahagianya Zidan ketika bertemu Raka. Bisa mendekati keluarga anak kandungnya. Dion sangat tahu bagaimana tulusnya Zidan. Lalu tanpa ada angin, tanpa ada hujan, malah sekarang dicurigai, pasti Zidan merasa sangat sedih. Namun, Dion tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia berjanji akan membuktikan pada Nandita bahwa sang big bos tidak bersalah.
"Entahlah!" Terdengar suara Zidan menghela napas.
"Mungkinkah ada seseorang yang meracuni pikiran nona, Bos?" pancing Dion.
"Entah. Aku hanya tak habis pikir saja, mengapa dia punya pemikiran yang tak masuk akal seperti itu. Padahal aku tak pernah berbuat sesuatu di luar batas kepadanya," jawab Zidan. Bukan bermaksud mengeluh, hanya saja ia merasa aneh.
"Bos jangan terlalu memikirkan ini dulu, sebaiknya kita fokus pada Natalia. Sepertinya ia mengetahui sesuatu, Bos. Tentang Regen." Dion mengirimkan sebuah foto di mana Natalia sedang membawa mobil di temani seorang pria yang mirip dengan Regen.
"Entahlah, Yon. Tolong izinkan aku untuk mengerti perasaanku. Mengapa aku jadi bodoh begini, Yon. Astaga!" ucap Zidan. Suara napasnya terdengar berat. Sepertinya dia memang benar-benar putus asa
"Baiklah, Bos. Tenangkan dirimu, aku akn coba terjun sediri ke lapangan. Nanti jika sudah ada Info pasti aku kabari." Dion tak melanjutkan investigasinya. Ia kembali diam dan tak bertanya lagi. Sedangkan Zidan tenggelam dalam angan yang berisi pertanyaan. Mengapa Nandita malah curiga padanya?
Bersambung...
Makasih buat semua yang sudi kasih like dan komen🥰🥰🥰🥰