
Menangis dalam diam. Hanya itulah yang bisa Nandita lakukan untuk saat ini. Entah karena cemburu atau karena kecewa, Nandita tak bisa memilih di antara keduanya. Karena yang dia tahu, bahwa ia telah jatuh cinta pada Zidan
Kebaikan dan kelembutan sikap Zidan lah yang membuatnya seperti ini. Namun, ia tak menyangka jika kebaikan dan kelembutan itu adalah palsu. Nyatanya Zidan memiliki rahasia yang sukses membuatnya patah hati.
Hari mulai petang. Senja pun mulai menghilang dan berganti malam yang kelam. Udara serasa sangat dingin. Sayangnya itu tak berpengaruh terhadap Nandita.
Wanita ini tetap diam di tempat. Menangis dan hanya menangis. Sebenarnya ia benci berasa di dalam situasi seperti ini. Namun, mau bagaimana lagi. Nyatanya ia harus melewati fase ini.
Nandita tersadar dari lamunan ketika mendengar suara gaduh-gaduh di luar kamarnya. Suaranya seperti suara Kartika. Ada juga suara Zidan.
"Apakah mereka menemukanku?" tanya Nandita pada dirinya sendiri.
Wanita ayu ini pun membuka pintu kamar di mana ia berada dengan pelan. Melongokkan kepalanya di sana. Dan tanpa sengaja Raka melihatnya.
"Itu bunda, Yah!" seru Raka. Spontan semua orang pun melihat Nandita. Sedangkan Nandita hanya menatap Zidan. Menatap pria yang sukses membuatnya patah hati hari ini.
"Oooohhhh.... Kalian mau membohongiku ya. Itu putriku! Dasar pembohong!" ucap Kartika kesal. Rudi dan Rita pun hanya diam. Sebab mereka memang salah. Bukan hanya salah, tapi juga ceroboh. Kenapa pintu kamar tempat ia menguring Nandita tidak mereka kunci. Sehingga dengan mudah wanita ayu itu keluar dari sana.
"Dita! Sini! Mari kita pulang!" ajak Kartika.
Mendengar wanita yang selama ini menjaganya meminta. Nandita pun keluar dari kamar itu. Wanita ini tak mungkin melawan. Sebab Kartika sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya.
"Enak saja, dia putriku!" ucap Rita sembari menarik tangan Nandita.
"Putriku kau bilang. Heh? Apakah kau sudah tes kening ha? Kau amnesia ya?" ucap Kartika kesal. Bukan hanya kesal, wanita paruh baya ini super geram dengan wanita yang melahirkan Nandita itu. Baginya wanita itu sangat bodoh dan tidak bisa bersikap seperti seorang ibu pada umumnya.
"Kenapa dia memang putriku? Aku yang melahirkannya!" balas Rita tak mau kalah.
"Astaga! Ini orang memang hilang ingatan. Kau, sudah membuangnya ... dan aku, yang memungut dan merawatnya selama ini. Apa kau lupa ketika aku mengantarkan putrimu ke rumahmu hah? Dengan congkaknya kau menghakiminya. Dengan sombongnya kau memakinya. Seolah dia adalah gadis paling hina di dunia ini. Padahal jika kau ibu yang benar, harusnya kau cari tahu dulu apa yang terjadi pada putrimu. Baru kasih keputusan! Baru kamu boleh menghakimi! Apa begitu cara menjadi orang tua? " jawab Kartika tegas. Wanita ini dengan berani menatap kedua orang tersebut dengan tatapan ingin meremas keduanya. Rasanya geram saja. Entahlah.
Kali ini Kartika tak akan mengalah demi Nandita demi Raka. Orang tua egois seperti mereka tak pantas memiliki putri sebaik Nandita.
Rita diam. Sebab ia memang salah. Sebab ia memang seperti itu. Harusnya ia memang bersikap seperti yang Kartika ucapkan. Wanita ini terlihat mulai merengkangkan pegangannya.
"Sekarang lepaskan putriku. Demi apa kamu berani menyentuhnya!" ucap Kartika memperingatkan. Wanita ini terlihat begitu tegas dan tidak main-main. Dengan kasar ia pun melepaskan tangan Rita dari pergelangan tangan Nandita dan kembali memperingatkan wanita itu. Kartika tidak peduli meskipun kini Rita mengeluarkan air mata penyesalan.
"Aku peringatkan sekali lagi pada kalian, jangan sekali-kali kalian berani menyentuh, apa lagi membawa putriku tanpa seizin dariku. Ingat apa yang kalian lakukan tidak termaafkan. Aku telah bersusah payah menyembuhkan luka di jiwanya. Lalu dengan seenak jidat kalian, kalian mau melukainya lagi. Jangan harap kalian bisa melakukannya. Selama Kartika Rahmawati belum terbungkua kain kafan, anak ini, gadis yang pernah kalian telantarkan adalah miliknya. Putrinya! Tanpa ada seorangpun yang boleh menyentuhnya. Kalian paham!" ucap Kartika lagi. Bukan hanya ucapan yang keluar dari mulut wanita ini. Tetapi tatapan penuh permusuhan juga ia perlihatkan pada kedua orang tua Nandita.
"Zidan, Raka, bawa putriku ke mobil! Biar dia orang tak tahu diri ini Ibu yang hadapi!" ucap Kartika lagi.
Rita dan Rudi hanya diam. Mereka sama sekali tak berani melarang Kartika. Sebab sejatinya mereka memang salah.
"Baik, Bu!" jawab Zidan menurut. Pria tampan ini pun menggandeng tangan Nandita. Namun sayang, Nandita tak mau ia sentuh. Wanita ayu ini menolak ketika tangan Zidan hendak menyentuhnya.
"Kenapa, Bun?" tanya Zidan. Nandita tak menjawab. Wanita ini menutup rapat mulutnya. Lalu Raka lah yang ia gandeng dan berjalan menuju mobil. Sedangkan Zidan mengikutinya dari belakang.
Terbesit tanya dalam benak pria tampan ini. Namun, ia juga belum berani bertanya. Mengingat Nandita sendiri baru saja mengalami fase berat dalam hidupnya. Orang tua asuh dan juga orang tua kandungnya sedang bersitegang. Tak mungkin bagi Zidan untuk menambah beban wanita yang sangat ia cintai itu.
Zidan dan Nandita masih saling diam. Namun tidak dengan ketiga orang yang ada di dalam rumah tersebut. Mereka masih saling mengancam. Masih memperebutkan Nandita.
"Dia putri kandung kami, kami juga tak akan tinggal diam!" tantang Rudi.
Kartika malah tertawa. Menertawakan begitu bodohnya pemikiran pria yang ada di depannya ini.
" Sepertinya kau lupa ya sudah menandatangani surat hak asuh Nandita kepadaku hah?" tanya Kartika mengingatkan.
"Aku tak sebodoh dirimu, Tuan. Aku tahu fase ini pasti terjadi. Aku harap kau ingat telah menandatangani surat itu. Ingat kan sehari setelah kalian membuang putri cantik yang tak berdosa itu, ha?" Kartika tak gentar sekarang. Sebab ia memiliki senjata yang sangat ampuh untuk meruntuhkan kepercayaan diri Rudi dan juga Rita.
"Surat apa, Pak. Bapak menandatangani surat apa?" tanya Rita bingung. Sedangkan Rudi tak sanggup menjawab. Sebab pada kenyataannya ia telah memberikan hak asuh Nandita kepada Kartika. Bahkan Kartika sendiri sudah mengesahkan itu di pengadilan.
"Pak, jawab! Bapak menandatangani surat apa?" desak Rita pada sang suami.
"Kalian tak udah drama di depanku. Cukup sekali ini kalian aku peringatkan. Aku pergi, jangan pernah tunjukkan lagi wajah kalian di hadapanku. Nandita putriku, Raka cucuku dan kalian tidak akan ku izinkan mendekati mereka jika niat kalian cuma ingin menyakiti. Ingat itu baik-baik!" ucap Kartika lagi. Selepas berucap demikian, wanita paruh baya ini pun melangkah meninggalkan rumah ini. Meninggalkan dia sejoli yang ribut besar karena terdapat kebohongan diantara hubungan mereka.
Bersambung....
Jangan lupa like komen n share ya😍😍