
Zidan tak peduli dengan dirinya sendiri. Padahal saat ini ia juga kedinginan, bajunya basah kuyup. Yang penting baginya saat ini adalah Nandita harus selamat dari maut. Serta keluar dari ruangan itu dengan keadaan baik-baik saja.
Hampir setengah jam ia menunggu. Namun belum ada kejelasan tentang keadaan wanita itu. Zidan semakin resah, sebab beberapa kali ia melihat perawat keluar masuk dari ruangan itu. Membawa berbagai alat. Mungkin untuk memeriksa keadaan Nandita.
Jantung Zidan berdetak lebih kencang. Ketika melihat sang dokter yang menangani wanita yang ia khawatirkan keluar dari ruangan itu.
"Keluarga pasien!" panggil sang Dokter.
"Saya, Dok!" jawab Zidan seraya beranjak dari duduknya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Zidan sedikit gugup.
"Beliau baik-baik saja. Untuk saat ini, kondisinya aman. Tetapi tolong lebih di awasi, sebab obat yang dia minum melebihi anjuran dokter," jawab Dokter serius.
Zidan menatap sang dokter. Pun sebaliknya.
"Baik, Dokter. Saya akan lebih memerhatikan dan mengawasinya," janji Zidan.
Dokter tersenyum.
"Maaf, Dok. Jika boleh saya tahu, obat apa yang istri saya minum?" tanya Zidan lagi. Jujur ia masih belum bisa tenang. Sebelum tahu jenis obat yang Nandita minum.
"Obat yang dia minum sejenis obat penenang, apakah istri ada sedang kurang sehat jiwanya?" Sang Dokter menatap mata Zidan. Pun dengan pria gagah ini. Namun Zidan sendiri juga bingung. Dari mana ia harus memulai menjelaskan masalah ini.
"Baiklah jika anda masih belum bisa menjelaskan. Kami tidak akan memaksa. Yang penting mulai saat ini tolong lebih diawasi. Karena semua masalah pasti ada sebab dan akibatnya," ucap sang Dokter memperingatkan.
"Baik, Dok. Saya akan lebih hati-hati. Kalau boleh saya tahu, apa efek samping dari obat yang dikonsumsi oleh istri saya?" tanya Zidan.
Dokter diam sejenak. Lalu, ia pun menjawab dan menjelaskan pada Zidan bahaya, serta efek samping obat tersebut. Bukan hanya itu, sang dokter juga menjelaskan, kegunaan obat itu, lalu siapa saja yang diperbolehkan mengkonsumsinya.
"Terima kasih atas penjelasannya, Dok. Saya janji akan lebih memerhatikannya!" janji Zidan.
"Baik, Terima kasih atas kerja samanya!" balas sang dokter sembari tersenyum.
Hati Zidan sedikit lega. Nandita baik-naik saja. Namun, ia tetap ingin tahu lebih jelas pasal obat tersebut. Mengapa dan kenapa Nandita membutuhkan obat itu. Seberat apa masalah yang Nandita tanggung akibat ulahnya.
"Apakah ada pertanyaan lagi?" tanya sang dokter, sedikit mengejutkan Zidan.
"Tidak, Dokter. Terima kasih," jawab Zidan.
"Baiklah kalau begitu. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat. Kalau tidak ada pertanyaan lagi, saya permisi!" ucap sang Dokter berpamitan.
"Baik, Dok." Zidan tersenyum.
"Jika ada apa-apa jangan sungkan menghubungi kami!" pesan sang dokter sebelum meninggalkan Zidan. Setelah Zidan mengiyakan, ia pun melangkah pergi.
Ada sedikit rasa lega di hati pria tampan ini. Karena tak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan untuk Nandita. Namun, Zidan geram. Kali ini bukan marah pada dirinya sendiri, tapi marah pada Nandita yang gegabah. Yang tak berpikir panjang saat memutuskan meminum obat tersebut.
Tak lama berselang, beberapa perawat keluar dari ruangan tersebut. Dengan mendorong sebuah ranjang pasien yang berisi Nandita. Zidan mengikuti langkah para perawat itu. Sebab, saat ini Nandita adalah tanggung jawabnya.
Kini mereka sudah berada di dalam ruang rawat inap untuk Nandita. Para perawat juga telah meninggalkan ruangan tersebut. Seketika suasana hening menyelimuti mereka. Zidan menatap wajah ayu itu. Ada debaran aneh yang tak sengaja ia rasakan. Entah debaran apa itu. Namun, di antara debaran itu ada rasa ingin marah pada Nandita. Marah, karena begitu ceroboh mengambil keputusan. Andai Nandita mau marah, marah saja padanya. Jangan menghukum dirinya sendiri. Bagi Zidan itu tidak lucu.
"Dasar egois! Lihat saja kalau kamu berani melakukan hal bodoh ini lagi!" ancam Zidan kesal. Bagaimana tidak kesal dan menilai Nandita egois? Nandita melakukan ini seperti tidak mengingat bahwa Raka membutuhkannya. Bagaimana nasib Raka kalau dia mati?Lalu, bagaimana Zidan akan menjelaskan pada Raka, pasal hubungan mereka. Zidan melirik kesal.
Malam semakin larut, tak terasa kantuk pun menyerang Zidan. Namun tak mungkin baginya tidur dengan keadaan basah kuyup begini. Beruntung, anak buah yang ia suruh untuk mengantarkan bajunya sudah datang. Zidan segera mengganti baju dan tidur di ranjang kecil yang tersambung dengan tepat di bawah ranjang di mana Nandita berada.
***
"Aaaagggrrrhhh!!" terdengar seseorang berteriak. Seketika Zidan pun bangun. Langsung meloncat dari ranjang.
"Apa! Apa! ada apa!" tanya Zidan, terkejut bingung.
"Kamu! Kamu! Ngapain di kamarku?" tanya Nandita sembari menunjuk pada Zidan. Spontan, wanita ini langsung menekuk kakinya dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Astaga! Kukira apa, Mbak. Kanget aku! Lagian ini bukan kamar, Mbak kan" jawab Zidan sedikit kesal. Zidan melirik Nandita yang kembali terlihat takut kepadanya. Menghela napas kesal, malas meladeni Nandita. Si wanita tukang drama, baginya.
Zidan mengeluarkan sikap cueknya. Ia pun memutuskan kembali berbaring di ranjang kecil itu. Menyamankan posisi tubuhnya, lalu menutup mata. Mencoba kembali ke alam mimpi.
Mendengar jawaban Zidan, mata Nandita langsung mengabsen sekeliling. Mungkin kah dia sudah berada di alam lain. Lalu, kenapa ada pria ini. Apakah dia juga ikut mati bersamanya. Ah tidak-tidak, masak aku mati dia ikut mati juga, nggak mungkin, ini aneh, batin Nandita.
Pikiran Nandita kembali fokus pada tempat ini. Seperti kamar rumah sakit, tapi kenapa bangus sekali, berbeda dengan kamar rumah sakit yang biasa ia kunjungi. Seperti hotel tapi kenapa ada bau obat.
Ah, sebaiknya aku bertanya. Dia nggak akan marah kan ya, kalau aku tanya. Ya, Tuhan di mana aku, apakah pria jahat ini menculikku lagi? batin Nandita. Batin itu menumbuhkan rasa takut, sehingga tubuhnya terasa panas dingin. Takut, ya takut. Nandita takut pada Zidan.
"Di mana aku?" tanya Nandita mencoba memberanikan diri.
Zidan membuka mata, lalu melirik ke arah wanita yang terlihat semakin takut padanya. Tetapi kali ini Zidan tak peduli, mau Nandita takut padanya mau 'Nggak', 'bodo amat'. Zidan terlanjur kesal pada wanita ini. Wanita yang hampir membuatnya gila tadi malam.
"Rumah sakit." Zidan kembali menutup mata.
"Rumah sakit?" tanya Nandita heran.
"Kenapa?" balas Zidan tanpa membuka mata.
"Nggak kenapa-napa! Saya mau pulang. Pesanin taksi untuk saya, boleh! " pinta Nandita pelan.
Zidan tak menjawab permintaan tersebut. Ia malah bangkit dari pembaringan dan merapikan ranjang itu. Mendorongnya agar masuk ke dalam kolong ranjang di mana Nandita berada. Kemudian Zidan mendekati Nandita. Bersiap menghakimi wanita ini.
Zidan melipat kedua tangannya, lalu menatap Nandita kesal. "Aku pikir kamu nggak bodoh, Nona! Kenapa kamu bisa sampai ke rumah sakit ini? " Zidan mulai mengeluarkan amarahnya.
Melihat perangai Zidan, seketika Nandita ingat ucapan Kartika. Yang memintanya untuk berani. Berani melawan keadaan. Jangan mau kalahkan dengan rasa takut. Dorongan itu pun akhirnya mampu membuat keberanian Nandita bangkit.
"Bodoh apa? aku tidak bodoh!" jawab Nandita dengan nada sedikit tinggi.
Zidan malah tertawa renyah. Lucu saja melihat Nandita yang ketakutan, tetapi berusaha melawan.
"Tidak bodoh? Lalu berpikir bunuh diri, apakah tidak bodoh!" balas Zidan kesal.
"A-aku hanya minum obat tidur, bukan mau bunuh diri!" sanggahnya.
"Oh, ya. Minum obat tidur dengan dosis yang tidak dianjurkan anda bilang tidak berniat bunuh diri. Wah, wah, wah.... Nona Nandita, anda sungguh pandai sekali. Anda mau menipu siapa sekarang!" tantang Zidan.
Nandita menatap berani ke arah Zidan. "Siapa kamu berani mengaturku?" balas Nandita, tak kalah sengit.
"Aku memang bukan siapa-siapamu, tetapi kamu adalah ibu dari putraku. Jika terjadi apa-apa padamu, lalu bagaimana dengan putraku? Aku tidak akan perduli jika seandainya tidak ada Raka di antara kita atau... anda memang berniat meninggalkannya. Baiklah, itu lebih baik. Biar Raka untukku saja, begitu? Kalau anda maunya begitu ya nggak apa-apa sih. Aku sih mau-mau aja ngerawat Raka. Putraku yang tampan," jawab Zidan santai.
Mendengar nama sang putra disebut. Seketika Nandita pun naik pitam. "Jangan sekali-sekali anda berani menyentuh putraku. Dia putraku. Hanya putraku. Dia milikku. Hanya milikku!" jawab Nandita tegas. Kali ini keberanian tampak jelas terpancar dari sorot mata Nandita dan Zidan bangga dengan itu. Tetapi masalah mereka belum sampai di sini. Zidan masih punya satu tekanan lagi untuk Nandita. Supaya wanita ini paham jika dia sangat berharga bagi Zidan.
Bersambung...
Makasih untuk like dan komennya, love u buat kalian yang selalu mendukung karya2ku🥰🥰🥰😘😘😘