
Di sisi lain seorang pria sedang menggelar pesta bersama teman-temannya. Mereka sedang bersuka cita atas keberhasilan mereka membumi hanguskan tempat usaha Zidan. Namun, di tengah-tengah pesta tersebut ada salah satu dari mereka yang memiliki hati dan pemikiran yang masih baik.
"Bagaimana? apakah dia ada rencana kembali ke Jakarta?" tanya Regen pada salah satu temannya.
"Elu jangan terlalu berurusan dengan Zidan, Gen. Lu nggak ada kapok-kapoknya ya!" jawab salah satu teman Regen. Terlihat pria itu mulai kesal dengan Regen. Bukan kesal masalah apa, dalam pikirannya, harusnya Regen sadar. Bahwa apa yang dia lakukan dan apa yang Zidan balas. Itu semua karena kesalahan Regen yang tak termaafkan.
Mereka sama-sama tahu, jika Regen telah mempekosa Zevana, adik Zidan Sehingga mengakibatkan gadis itu stres dan memilih mengakhiri hidupnya.
Sepertinya Regen lupa, bahwa dialah yang menyulut api permusuhan pada Zidan terlebih dahulu.
"Sampai matipun gue nggak akan pernah nglepasin dia!" Regen menenguk wine yang masih sisa di gelasnya.
"Serah elu lah, Gen. Gue cuma ngingetin elu!" balas pria itu. Terlihat dia mulai kesal.
Regen yang berhati kejam hanya diam. Tetapi terlihat jelas, dari sorot matanya dia sedang merencanakan sesuatu.
"Tenang aja, Gen. Kita bakalan membabat hapis Zidan. Kalau lu butuh bantuan, anak buah gue siap kok. Santai aja!" ucap salah satu teman Regen yang terkenal dengan kekayaannya itu. Ia memang sangat membenci Zidan. Sebab Zidan selalu beruntung dalam hal apapun. Sudah pasti keadaan ini semakin membuat semua orang kesal padanya. Bahkan ketika masih sekolah, cewek yang ia taksir juga ngejar-ngejar Zidan.
"Apakah wanita itu sudah mati?" tanya Regen.
"Lu jangan gila, Gen!" Pria itu kembali mengingatkan Regen. Sebisanya, semampunya.
"Apaan sih lu? Pokoknya siapapun yang dekat dengan Zidan, semua harus mati. Tanpa terkecuali asisten bodohnya itu!" tambah pria egois ini. Benar saja, ia pun telah menargetkan Dion sebagai salah satu sasarannya.
"Gen, lu maunya apa sih? Lu nggak inget apa? Dulu lu hampir mati, dan Zidan yang nolongin elu. Nggak ngotak lu Gen!" pria yang selalu mengingatkan Regen Berharap Regen berhenti mengusik kehidupan orang lain. Ditatap nya Regen dengan rasa kenal yang membuncah. Terang saja, kondisi ini semakin menyukut jiwa psikopat Regen.
"Sebenarnya lu tu mihak siapa sih, Ron?" tanya salah satu dari mereka.
"Gue nggak mihak siapapun! Di sini kita sama-sama tahu, jika Regenlah yang memulai semua ini. Andai dia tak melakukan hal gila itu pada adek Zidan, mana mungkin sih lu dimasukin ke jeruji besi. Aneh! Sudahlah Gen. Sebaiknya lu berhenti. Sebelum lebih banyak lagi korban. Inget Gen, kita hidup bukan hanya untuk balas dendam!" tambah pria yang biasa di sebut Sapron itu.
Mendengar nasehat yang bertolak belakang dengan apa yang ia pikirkan, tentu saja membuat Regen gerah. Ia pun memberi kode pada salah satu temannya untuk menghabisi Sapron.
Regen memilih bergerak cepat. Tentu saja ia tak ingin jika rahasianya selama ini bocor. Baginya, siapapun yang berpeluang menjadi penghianat harus dibabat habis. Tanpa terkecuali.
Tak menunggu waktu lagi. Seseorang yang Regen minta untuk mengeksekusi Sapron pun datang. Membawa segelas minuman untuk Sapron. Sayangnya kali ini Sapron tak menyadari jika nasib buruk sedang mendatanginya. Malaikat maut bersiap menjemputnya. Tanpa curiga pria ini langsung meminum segelas minuman yang telah disiapkan untuknya.
Tak menunggu waktu lama, beberapa menit kemudian Sapron tumbang. Pria ini kejang-kejang dan mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya. Sapron tak sempat berucap apapun. Dia hanya menatap Regen yang tersenyum sinis sambil melihatnya meregang nyawa.
Beberapa orang ada yang tertawa senang. Sepertinya jiwa-jiwa psico mereka bangkit.
Kini Sapron sudah tak bergerak. Sepertinya pria ini telah kehilangan nyawanya. Dengan cepat Regen pun meminta beberapa dari mereka untuk menghilangkan jejak pembunuhan sadis ini.
"Bersihkan dia, jangan sampai ada jejak sedikitpun!" ucap Regen memberi perintah.
"Siap, Bos. Semua beres!" jawab salah satu dari mereka.
Tak menunggu waktu lagi. Mereka pun segera membawa jasad Sapron ke tempat yang telah di sepakati.
Begitulah Regen dengan segala kekejamanannya. Ia tak akan segan menghabisi siapapun yang berniat mencegahnya melakukan kesenangan. Ia kan membumihanguskan siapapun yang ia kehendaki. Termasuk Zidan.
***
Di sisi lain ada seorang wanita yang terlihat gusar. Beberapa kali ia menghubungi Regen. Ingin mempertanyakan sesuatu. Sebab dia yakin bahwa dia pasti terlibat dalam kebakaran yang melanda pabrik milik Zidan, sang kekasih.
"Kemana sih pria gila itu? Jangan-jangan dia memang terlibat dalam masalah ini! Awas saja kalau dia memang yang merencanakan ini semua!" ancam wanita itu kesal.
Kembali wanita ini mencoba menghubungi Regen. Namun sayang, sebanyak ia menghubungi sebanyak itu pula panggilannya tak dijawab oleh Regen. Membuat wanita ini naik pitam.
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan votenya ya. Lope u🥰🥰🥰🥰