
"Bapak, Ibu!" ucap Nandita spontan. Mata wanita ini langsung berkaca-kaca. Mengekspresikan rindu yang selama ini membelenggu hatinya.
"Ya, ini kami. Boleh kami masuk?" tanya Rudi pada Nandita dan Zidan.
Mengetahui bahwa tamu yang datang adalah orang tua sang calon istri. Maka dengan senang hati Zidan pun membukakan pintu rumahnya untuk mereka.
"Silakan masuk, Pak, Bu!" ucap Zidan pada kedua orang tua Nandita tersebut. Lalu, tanpa basa-basi mereka pun masuk ke dalam apartemen Zidan.
"Buatkan mereka minum, Bun!" pinta Zidan.
"Baik, Yah," jawab Nandita. Zidan dan Nandita saling melempar senyum. Mereka berdua terlihat mesra dan bahagia. Sebab, Zidan berpikir inilah saat yang tepat untuk meminta Nandita pada kedua orang tuanya.
Namun sayang sambutan baik Nandita dan Zidan tidak menjadikan rasa sakit di hati pak Rudi dan juga ibu Rita mereda. Justru rasa sakit hati yang mereka rasakan semakin memuncak. Terlebih ketika mereka melihat senyum dua sejoli itu. Senyuman itu serasa bagai semuah sembilu yang menghujam ulu hati mereka.
"Tidak perlu, tidak usah repot-repot. Kami nggak lama kok!" tolak pak Rudi. Seketika Nandita dan Zidan pun salling menatap. Namun juga tak berani berasumsi.
"Tujuan kami ke sini hanya untuk mencari sebuah kebenaran. Tidak perlu bertanya kami dapat alamat kalian dari mana. Tetapi, saya meminta, kalian menjawab dengan jujur pertanyaan yang akan kami ajukan," ucap pak Rudi masih berusaha bersikap tenang.
"Baik, Pak, Bu, kami akan menjawab pertanyaan Bapak dan Ibu dengan jujur. Namun sebelumnya silakan duduk!" balas Zidan. Sebenarnya Rudi dan Rita tak ingin duduk di sofa itu. Mereka ingin langsung menyeret Nandita keluar dari rumah ini. Tetapi mereka masih berpikir sehat. Sebaiknya meluruskan masalah ini terlebih dahulu. Sebelum mengambil keputusan dan meluruskan niat mereka membawa sang putri keluar dari jurang kenistaan.
"Sesuai yang sudah kami sampaikan di awal, bahwa kedatangan kami di sini untuk mencari sebuah kebenaran. Perlu kamu ketahui, bahwa sebenarnya secara pribadi saya dan istriku, kami sudah tidak ada urusan lagi dengan anak ini," ucap Rudi sembari menunjuk Nandita dan menatap tajam ke arah wanita ayu itu.
Sedangkan Nandita hanya diam. Mengunci rapat mulutnya. Sekilas ia menatap mata sang ayah. Tak ada sedikitpun kasih sayang yang terpancar dari mata tua itu. Yang ada hanyalah tatapan kebencian yang teramat sangat. Membuat hati Nandita sakit. Seperti tertusuk oleh sebuah belati tajam. Sakit sekali. Sangat-sangat sakit.
Zidan yang menyadari apa yang dirasakan oleh kekasih hatinya saat ini hanya bisa mengelus pundak Nandita. Sebab, Zidan tahu benar bagaimana perlakuan kedua orang tua itu kepada Nandita.
Melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Nandita dan Zidan, tentu saja sukses menyulut rasa kesal yang dirasakan oleh kedua orang tua ini.
"Kalian terlihat begitu mesra, apakah kalian sudah menikah?" tanya Rudi langsung pada pokok tujuannya. Yaitu mengetahui hubungan antara putrinya dan juga pria yang mereka ketahui adalah suami wanita lain ini.
Mendengar pertanyaan yang berbau interogasi, terang saja membuat Zidan dan Nandita kurang nyaman. Namun bagaimanapun mereka telah berjanji akan menjawab pertanyaan kedua orang tua ini dengan jujur.
"Emmm, jadi begini Om," ucap Zidan.
"Jadi apa? Kalian satu atap tapi tidak menikah. Begitu?" timpal Rudi. Spontan Zidan dan Nandita terkejut. Sebab ini diluar ekspektasi mereka. Mereka sama-sama tidak menyangka bahwa orang tua Nandita akan berpikir sejauh ini.
"Maksud Bapak apa?" tanya Nandita berusaha membangunkan keberaniannya untuk menghadapi masalah yang kini menghadangnya.
"Kenapa kamu terlihat ketakutan begitu? Benar kan kalian hidup seatap tanpa ikatan pernikahan? Atau kalian menikah siri? Katakan! Hubungan seperti apa yang kalian jalin?" cecar Rudi. Pria paruh baya ini kembali menatap penuh pertanyaan kepada Nandita. Karena tujuannya hanyalah memberi pelajaran kepada putrinya.
"Tidak seperti itu apa maksudnya? Kalau kalian menikah, mari tunjukkan pada kami surat nikah kalian. Lalu kalau kalian hanya menikah siri, maka katakan siapa yang menikahkan kalian. Bapak masih hidup Nandita, setidaknya mintalah restu kepada kami. Kami memang marah padamu karena kamu hamil diluar nikah, tapi sebagai seorang anak, mana etika baikmu untuk memperbaiki kesalahan. Harusnya kamu berusaha kembali mengambil hati kami. Agar hubungan kita kembali terjalin dengan baik. Kami menunggu kerelaan hatimu untuk itu Nandita. Tetapi harapan kami hanyalah sebuah harapan. Anak gadis yang kami bangga-banggakan ternyata sama sekali tidak mengingat kami. Apa lagi peduli pada kami. Sebenci itukah kamu pada kami Ta. Tidaklah ada sedikit rasa rindu di hatimu untuk kami. Kami pikir, kamu akan belajar dari kesalahan. Buka menambah masalah seperti ini. Hidup seatap dengan pria beristri. Otak kamu di mana Ta, di mana Nandita!" ucap pak Rudi kesal. Rasanya pria ini tak sanggup lagi menahan amarahnya. Sedetik kemudian pria ini pun berdiri dan menarik tangan Nandita. Spontan Zidan pun memeluk Nandita, agar wanitanya ini tidak dibawa pergi oleh kedua orang tuanya.
"Jangan bawa Dita, Pak. Izinkan kami menjelaskan semuanya dulu!" pinta Zidan sembari memeluk Nandita.
"Apa yang hendak kamu jelaskan ha? Urus saja keluargamu. Dia adalah putri kami, jadi kami yang lebih berhak atasanya!" jawab Rudi dengan emosi meninggi. Ia pun kembali menarik Nandita dan mencoba melepaskan pelukan Zidan dari putri mereka.
"Pak, dengerin penjelasan kami dulu!" pinta Nandita. Tangis pun menggema mengisi ruangan ini. Sehingga membuat Raka keluar dari kamarnya.
"Ada apa ini, Bunda?" tanya Raka spontan.
Seketika keempat orang tersebut pun berhenti membuat gaduh. Mereka menatap Raka, yang juga menatap mereka heran.
"Oh jadi itu anak hasil hubungan gelap kalian?" tanya Rudi mengintimidasi.
"Pak, jangan bicara begitu!" pinta Nandita memohon.
"Raka masuk kamar, Nak. Masuk!" teriak Nandita. Sebab ia tak ingin Raka mendengar ucapan Rudi yang mungkin akan membuat jiwa putranya terguncang.
"Tapi kenapa Bunda?" tanya Raka bingung.
"Raka! Dengarkan Bunda, masuk!" bentak Nandita lagi. Raka semakin bingung. Namun kode dari Zidan agar dia menuruti perintah ibunya langsung membuat bocah tampan ini mengerti. Akhirnya ia pun masuk ke dalam kamar. Tanpa membantah sepatah kata pun.
"Oh, jadi benar! Selama ini kalian hidup seatap tanpa ikatan pernikahan. Sampai punya keturunan sebesar itu. Wah wah wah, Nandita luar biasa sekali kamu!" ucap pak Rudi lagi.
"Dita tidak serendah itu, Bapak!" ucap Nandita dalam isak tangisnya.
"Bapak tidak butuh penjelasanmu di sini. Seret dia pulang, Bu!" pinta pak Rudi kasar. Seketika Rita pun membantu Rudi melepaskan pelukan Zidan. Menarik tubuh Nandita agar terlepas dari pria pria itu.
"Pak dengerin kami dulu!" pinta Zidan memohon.
"Apa yang mesti kami dengar ha? Tentang perselingkuhan kalian? Tentang kehidupan bebas kalian? Atau tentang apa? Pria tak punya otak sepertimu tidak pantas memiliki putriku. Putriku masih punya orang tua yang bisa memberinya makan. Meskipun tidak semewah di rumahmu. Setidaknya di rumah kami, putri kami terhormat. Tidak menyalahi aturan hukum dan agama. Tidak menjadi perebut milik orang lain. Jadi, jika kamu memang laki-laki harusnya kamu melamar dan meminta putri kami dengan baik!" tantang Rudi pada Zidan.
Zidan kalah telak, sebab posisinya memang salah. Salah dalam artian, mengapa harus menunda menemui kedua orang tua Nandita? Mengapa ia tidak menemui mereka terlebih dahulu dan meminta maaf atas segala kekhilafan dan kesalahannya terhadap Nandita selama ini? Mengapa dia melupakan seseorang yang sangat penting, yang seharusnya ia utamakan. Di banding Nandita itu sendiri, yaitu orang tuanya? Karena tanpa Zidan sadari, Ia juga melukai perasaan kedua orang tua tersebut.
Bersambung...