My Sunshine

My Sunshine
KABAR BAGUS



Apa yang dikatakan Dion bukanlah isapan jempol belaka. Nyatanya saat ini Nandita rewel bukan main. Wanita ini menangis sesegukan ketika membaca surat yang ditinggalkan Raka untuknya. Di dalam surat tersebut, Raka mengatakan bahwa dia izin pergi sebentar, untuk mencari sang ayah. Raka juga menulis, bahwa dia tak bisa membiarkan Zidan dalam bahaya.


"Lalu kalo Ayah bahaya, kamu nggak bahaya," ucap Nandita kesal. Wanita ini kembali menangis. Menangisi kelalaiannya menjaga Raka. Beberapa kali ia juga terlihat melihat kertas yang berisi tulisan sang putra. Hatinya bertambah kesal ketika .


Bukan tidak percaya, tapi bagi Nandita, Raka masih terlalu kecil untuk menghadapi situasi seperti ini. Musuh-musuh Zidan bukanlah penjahat biasa. Mereka bukanlah penjahat kaleng-kaleng. Pria itu sanggup menghabisi nyawa seseorang yang berani melawannya. Pun dengan Raka dan Zidan. Dia tidak akan segan-segan melenyapkan dua orang tersebut.


"Bagaimana ini, Bude? Bagaimana ini Pakde? Ibu sama bapak saja belum ditemukan, sekarang lagi, Raka kabur. Anak ma itu benar-benar ya," ucap Nandita kesal. Wanita ini kembali menangis.


Sedangkan dua orang yang ditugasi menjaga Raka itu hanya bisa diam dan tertunduk malu. Karena gagal menjaga bocah tampan itu.


***


Di sisi lain, Raka dan Dion sudah sampai di tempat tujuan. Kini mereka berdua sedang mengintai mobil yang mereka curigai.


"Kok masuk kebun binatang, Om. Emang mau ngapain?" tanya Raka.


"Om juga nggak tahu, tapi bener kan itu mobil ayahmu?" tanya Dion memastikan.


"Iya, Om. Itu mobil ayah," jawab Raka. Kemudian bocah ini mengambil teropong miliknya dan memfokuskan pasangannya pada nomer mobil yang terpasang di bodi mobil tersebut. Raka sedikit gemas, sebab mobil yang ada di depannya menghalanginya.


Beberapa menit kemudian, Raka kembali dikejutkan dengan beberapa orang yang ada di mobil tersebut. Sang pemakai bukanlah para preman atau Zidan sendiri. Mereka terlihat seperti keluarga pada umumnya. Sepasang suami istri, dua anak kecil dan satu lagi seorang gadis muda berseragam. Mungkin itu adalah pengasuh dari salah satu anak tersebut.


"Eh, kok bukan preman Om. Mereka seperti keluarga? Apakah ayah menjual mobil itu?" tanya Raka.


Tentu saja Dion mengerutkan kening. Aneh saja, untuk apa Zidan menjual mobil itu. Sedangkan nominal di dalam ATMnya saja bisa di katakan melebihi limit. Untuk ukuran Dion sendiri.


"Ah, ngawur kamu. Mana mungkin dia jual mobil. Orang duit bapakmu aja banyak. Makanya di kasih-kasihkan kan. Sangking bingung gimana cara ngabisin!" ucap Dion sembari terkekeh.


"Serius lah Om, mereka itu siapa?" tanya Raka sedikit sebel.


"Udah nggak usah diurus, biar nanti anak buah Om aja yang tanya. Ayo kita pergi dari sini!" ajak Dion, kemudian pria ini pun kembali memutar kembali kendaraannya.


Raka cemberut, bocah tampan ini kecewa. Sebab ia merasa usahanyanya seolah sia-sia. Di menit berikutnya Raka terdiam. Seperti kembali mencari akal. Lalu, bocah tampan ini mengingat sesuatu.


"Ya, tentu saja," jawab Dion.


"Raka yakin, pasti ayah di sembunyikan di salah satu gudang miliknya. Kan Om pernah bilang kalo orang itu temenan sama musuh ayah kan?" ucap Raka menduga-duga.


Spontan Dion pikiran Dion pun ikut cerah. "Kamu bener, Dek. Astaga, kamu memang best. Cepat hubungi Om Vano, minta padanya untuk menyisir gudang penyimpanan milik pria itu!" ucap Dion.


Tak menunggu waktu lagi, Raka pun langsung mencari nama Vano, di ponsel Dion. Beruntung ponsel Vano dalam keadaan on saat ini.


"Nyambung, Om!" ucap Raka pada Dion. Dion pun setia menunggu, sembari melakukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sebab dia sendiri juga berkomunikasi dengan beberapa anak buahnya untuk balik arah dan menyelidiki gudang milik pos peti jenazah tersebut.


"Iya, Yon! Ada apa?" tanya Vano serius.


"Om, ini Raka," ucap Raka.


"Iya Raka, astaga! Kamu ke mana aja? Bundamu marah-marah sama Om! Haisst, cepat pulang!" ucap Vano meminta.


"Maaf, Om, Raka nggak bisa pulang. Jangan hiraukan bunda duludulu! ?Nasib ayah lebih penting sekarang. Om ingat nggak waktu ayah, aku dan bunda di serang?" tanya Raka, melanjutkan maksud dan tujuannya.


"Ingat, yang sama partner kerja ibu kamu kan?" balas Vano mencoba menebak.


"Iya, Om itu. Raka curiga kalo ayah di bawa ke salah satu gudang milik om yang itu. Raka share lokasi ya, Om!" jawab Raka, tak ingin berlama-lama dengan yang ia curigai.


"Bisa jadi Raka, secara orang itu kan berteman dengan musuh bebuyutan ayahmu. Oke, share sekarang. Om meluncur ke sana sekarang juga!" ucap Vano.


Tak menunggu waktu lagi, Raka pun segera mengetik alamat di mana gudang yang ia curigai itu berada.


Sedangkan di seberang sana, Vano dan anak buahnya pun seperti mendapatkan secercah cahaya. Dengan cepat mereka pun sama-sama berangkat menuju ke tempat tujuan. Dengan membawa harapan, Zidan berada di tempat yang mereka curigai. Hasil analisa Raka adalah kabar baik untuk tim mereka. Tidak sia-sia Raka masuk ke dalam tim Dion dan Vano.


Bersambung...