My Sunshine

My Sunshine
JANGAN MENGHINDAR



"Huuffff.... Astaga! Apa itu tadi, Bu?" tanya Nandita sembari bernapas lega.


"Entahlah! Sebaiknya kita lebih hati-hati. Sepertinya musuh Zidan memiliki banyak anak buah. Dia memiliki dendam yang luar biasa pada Zidan. Ini gila sih!" jawab Kartika, sesuai dengan keadaan yang ia pelajari selama ini.


"Apakah ayahnya Raka pernah cerita sesuatu ke Ibu?" tanya Nandita.


"Bukan hanya Zidan. Dion, Vano juga sering minta pendapat Ibu. Sepertinya salah satu partner kerja kita juga terlibat. Ini hanya duhaan Ibu. Maaf, dulu Ibu pernah nolak dia, pas dia minta kamu buat dia jadiin istri. Ibu tahu kalo pria itu nggak baik," jawab Kartika.


"Dia pernah minta ke Ibu juga. Soalnya dia pernah minta ke Raka juga, Bu. Untung Raka nggak mau," jawab Nandita, cemberut.


"Ibu sudah feeling, kalo pria itu nggak baik. Ternyata benar, dia memang komplotan musuh Zidan," jawab Kartika santai, seakan belum terjadi apa-apa.


"Iya, Bu. Dia menang temen Regen." Nandita menundukkan kepalanya. Masih berusaha menetralkan perasaannya.


"Siapalah itu namanya, pokoknya setahu Ibu, yaitu orangnya. Pria itu memang jahat sama Zidan. Sepertinya dia punya dendam tersendiri pada ayahnya Raka," ucap Kartika menduga-duga.


"Iya, soal adiknya yang dizolimi, Bu. Sampai bunuh diri," jawab Nandita.


"Ibu, rasa bukan cuma itu." Kartika melirik Nandita.


"Maksud, Ibu?" tanya Nandita bingung.


"Kamu nggak usah bingung begitu. Mungkin ayahnya Zidan atau siapanya gitu pernah bersalah pada keluarganya. Kita kan nggak tahu akar dari dendam yang dia miliki. Nggak mungkinlah, kalo cuma masalah dia dilaporin terus tiba-tiba dia sampai sedendam ini. Iya kan?" Kartika kembali menyuarakan apa yang ia pikirkan.


"Ibu bener juga ya. Kira-kira kita mesti cari tahu ke siapa ya, Bu?" tanya Nandita.


"Ke Galih lah, siapa lagi. Dia pasti tahu, kenapa Regen begitu membenci Zidan." Sepertinya Kartika mulai lelah. Ia pun menurunkan laju kendarannya.


Sedangkan Nandita diam. Wanita ini terlihat memikirkan apa yang ibu angkatnya utaraka. Sepertinya tak ada salahnya jika Nandita mengajak atau mungkin bertanya pada Galih. Mengajak pria itu berdiskusi. Membicarakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Selain kecurigaan Ibu tentang Regen. Mungkinkah Ibu mencurigai yang lain?" tanya Nandita.


"Sebenarnya Ibu kurang begitu paham. Entahlah, sepertinya mereka memiliki konspirasi sendiri," jawab Kartika lagi.


Nandita diam. Wanita ini kembali mengulas kembali ingatannya. Sepertinya yang dikatakan Kartika hampir semuanya benar. Nandita malah merasa Insecure, sebab ia kalah tanggal dengan wanita paruh baya di sebelahnya ini.


"Bu!" Nandita membetulkan posisi duduknya. Biar lebih nyaman bertanya tentang keingintahuannya tentang masalah yang menjeratnya.


"Hemmm!" jawab Kartika singkat. Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nandita.


"Apakah Dion kasih tahu di mana Zidan sekarang berada? Dita khawatir, Bu. Karena Raka pun bersama pria itu! " tanya Nandita sedikit takut.


"Hah? Ibu serius?" tanya Nandita, wanita ini menatap bingung pada Kartika. Wanita yang kini sibuk mencari jalan keluar tentang masalah yang menjerat putrinya


"Sudah ku bilang, kamu itu kelewat lugu. Coba kamu pikir lagi. Harusnya kamu lebih tanggap. Nggak usah marah-marah nggak jelas gitu. Ibu tahu kamu khawatir pada Raka, pada Zidan. Tapi percayalah .... Saat ini mereka sedang tidak main-main. Bersabarlah, tunggu saja mereka kembali dan membawa kabar baik tentunya. Setelah ini, kamu kasih tahu Dion apa yang terjadi pada kita. Agar timnya segera mengusut siapa para preman itu? Dan siapa yang menyuruh mereka? Kalo nggak gitu, otak dari sumber masalah ini tidak akan pernah ketemu," ucap Kartika mulai geram. Sebab Nandita dinilainya lelet dan kurang tegas.


"Maaf, Bu. Jika Dita sangat bodoh," jawab Nandita sembari menundukkan wajahnya.


"Sudah nggak perlu di sesali. Ibu cuma penasaran bagaimana sih wajah siapa itu, Regen, Regal, Begal. Siapa sih namanya? Susah amat ngomongnya," ucap Karika dengan wajah sedikit kesal.


"Regen, Bu. Bukan Regal. Regal ma biskuit bayi," jawab Nandita.


"Iyalah, itu pokoknya namanya. Si Regal itu, tolong nanti minta Dion kirim fotonya ke hape Ibu, pengen lihat aku. Kek mana dia punya muka. Jahat bener jadi orang. Kamu juga, langsung kasih laporan. Jangan menghindar. Jangan dianggap sepele. Mengerti!" ucap Kartika, seperti ingin sekali meremas wajah Regen. Andai bisa ketemu.


"Iya, Bu. Dita mengerti!" jawab Nandita pelan.


"Si Regal itu orang mana sih?" tanya Kartika. Agaknya wanita paruh baya ini memang sangat penasaran terhadap Regen.


"Regen, mana pria itu, Bu, Regen. Astaga Ibu, mudah bener ngubah nama orang. Nanti dia marah lo, Bu," jawab Nandita sedikit tersenyum.


Kartika tak menjawab ucapan Nandita. Wanita paruh baya ini kembali berkonsentrasi dengan jalanan di depannya. Serta lebih sering ia melihat kaca spion. Berjaga-jaga, siapa tahu masih ada yang membututi. Kali ini, Kartika memilih lebih waspada.


***


Apa yang dikhawatirkan oleh Kartika ternyata benar. Komplotan Regen tidak terima, jika ketua genk mereka ditahan. Mereka pun berniat balas dendam dengan melenyapkan orang yang Zidan sayangi.


Mereka telah gagal membunuh dan menghancurkan Zidan. Kini mereka berniat menghancurkan mental Zidan dengan menyerang mentalnya.


Namun sayang, usaha mereka tan semulus angan. Nyatanya mereka gagal. Dengan emosi yang membuncah, pria yang kini jadi tangan kanan Regen pun marah besar.


"Kenapa kalian bodoh sekali, membunuh seorang wanita saja tidak becus!' bentak pria itu pada anak buahnya.


"Maaf, Bos! Wanita yang ada di dalam mobil itu sangat jago menipu kita. Mereka juga menyebar ranjau. Makanya kita kalah, Bos!" jawab pria itu takut, terlihat kakinya gemetar.


"Dasar, bodoh! Aahhhgg!" pria itu berteriak kesal. Ingin rasanya ia meledakkan kepala anak buahnya. Namun, mengingat anak buahnya tak banyak lagi. Membuat pria ini mengurungkan niatnya.


"Cepat cari tempat persembunyian wanita itu, sebelum bos kita telpon, kita harus sudah melenyapkan wanita itu. Jika tidak maka kepala kita yang akan meledak. Kalian mengerti!" ucap pria itu memberi perintah.


"Baik, Bos. Laksanakan!" jawab pria itu. Tanpa banyak bicara, ia pun kembali menyiapkan pasukan untuk mencari Nandita. Mau bagaimanapun ini adalah misi mereka. Jika gagal maka konsekuensinya adalah kehilangan nyawa. Dan itu sama sekali tidak mereka kehendaki.


Bersambung...