
Di sisi lain, Raka telah berhasil dengan misinya. Bocah tampan ini akhirnya bisa menemukan bukti tentang siapa yang melakukan penyerangan pada keluarganya malam itu. Ternyata prediksinya benar. Bahwa para preman itu adalah orang suruhan bos peti jenazah yang sakit hati atas penolakan sang ibu. Dia memang belum melihat jelas. Tetapi ia telinganya bisa mendengar dengan jelas pembicaraan para preman itu. Sebelum keberadaannya diketahui dan akhirnya terjadi pertempuran.
Awalnya, ketika mereka diserang. Raka ingin keluar dari mobil dan ikut meringkus para preman itu. Tetapi Eman melarang. Tak kurang akal. Ia pun mengeluarkan kembali senjata rahasianya. Sebuah mainan ajaib berupa ketapel yang biasa ia gunakan untuk mengambil jambu ataupun mangga di pekarangan rumahnya. Raka memang sangat suka dengan mainan yang ia bikin sendiri itu. Tak lupa dengan batu-batu kali yang ia gunakan sebagai peluru. Batu-batu yang ia pilih dari dalam pot-pot bunga milik Kartika.
Tanpa banyak kata ia pun segera memainkan peran. Mengeluarkan segala kecerdikannya memainkan alat itu. Eman hanya tersenyum. Lucu saja. Diam-diam putra mahkota sekaligus pewaris dari Perusahaan Golden Gold ternyata amat sangat cerdik. Mainan sederhana pun bisa jadi senjata yang mampu meluluh lantahkan musuh.
Kecerdikan bocah ini tidak diragukan lagi. Dia begitu pandai memainkan berbagai senjata rahasia yang ia miliki. Saat beberapa anak buah sang ayah melawan preman-preman itu. Ia hanya duduk manis di dalam mobil. Menunggu sembari menyerang mereka dengan ketapel berpeluru batu kali miliknya. Sedangkan Eman bertugas melindungi dan mengawasi. Jangan sampai ada musuh yang mendekati mobil mereka.
"Keren, Bos keren. Eman suka Eman suka," ucap Eman heboh sendiri di dalam mobil. Namun begitu, ia juga tak melupakan tugasnya. Menyiapkan peluru yang tersimpan di dalam tas Raka. Lalu menuangkannya di atas dasbor mobil. Agar Raka bisa dengan mudah mengambil batu-batu yang ia jadikan peluru tersebut.
Tembakan peluru itu hampir tak ada yang meleset. Beberapa lawan terlihat oleng, tumbang. Lalu ketika ada anggota lawan yang menyadari keberadaannya. Dengan cepat Raka pun meminta Eman menjalankan mobil. Jangan sampai ia tertangkap oleh musuh. Sebab tugasnya hanya mencari tahu. Siapa sebenarnya dalang di balik penyerangan ini. Bukan untuk melawan mereka.
"Mari kabur Om!" ajak Raka bersemangat.
"Baik, Bos!" Eman langsung menginjak pedal gasnya. Terlihat salah satu preman masuk dan berusaha mengejarnya. Namun Raka tak hilang akal. Ia pun segera menyebar paku seperti yang di ajarkan oleh Zidan. Selesai menyebar paku-paku itu, Raka pun memerhatikan mobil musuh dari spion kaca sebelah kiri. Bocah ini tertawa, sebab senjata nya tepat sasaran. Raka pun tertawa. Begitupun Eman.
"Bos kecil memang keren!" puji Eman. Raka pun tersenyum dan mengajak Eman tos. Sebab, keberhasilan ini tak lepas dari kerja sama mereka berdua sebagai tim.
Tawa mereka terhenti ketika, Raka menerima pesan teks dari Zidan. Yang meminta bocah ini untuk menjemput di tempat persembunyiannya. Dengan cepat Raka pun membalas pesan itu. Lalu, setelah membalas, Raka langsung meminta Eman untuk menuju tempat di mana sang ayah berada.
"Ayah mengirimkan pesan, meminta kita untuk menjemputnya!" ucap Raka meminta Eman menjalankan mobilnya.
"Siap, Bos! Laksanakan," ucap Eman. Kemudian Raka pun
Namun ketika mereka dekat dengan tempat tujuan. Tak sengaja ujung mata bocah tampan menangkap sesuatu yang tidak asing. Ia melihat seseorang yang ia kenal. Bukan hanya nama yang seperti yang ia dengar. Namun ini nyata. Rupa dari pemilik nama yang tertangkap oleh pendengarannya.
"Iya Bos ada apa?" tanya Raka.
Raka menatap pria yang sedang menghajar beberapa anak buahnya. Dengan cepat Raka pun menyalakan kamera ponselnya dan memotret beberapa adegan. Beserta wajah pria yang ia curigai.
"Apakah Bos Kecil kenal siapa pria itu?" tanya Eman, ketika tanpa sengaja melihat seorang pria turun dari mobil sport berwarna hitam itu.
"Ya, dia adalah suplayer toko milik bunda. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Sebelum dia menyadari keberadaanku," ajak Raka kemudian bocah ini pun bersembunyi ketika mereka melintas dekat dengan para musuh. Beruntung para musuh tidak menyadari kedatangannya. Mereka terlihat masih fokus dengan amarah sang big bos.
Raka tertegun. Masih belum percaya dengan penglihatannya, bahwa pria yang ia kenal lemah lembut bisa sebringas itu. Raka tidak tahu bagaimana bisa pria itu bertindak di luar kendali. Mengapa ia bisa memiliki niat untuk menghabisi kedua orang tuanya. Raka yakin pasti ada yang tidak beres.
Tak ingin gegabah, Raka pun mengirim pesan balasan kepada sang ayah. Bahwa saat ini di sekitar persembunyian mereka, musuh masih berjaga. Tak lupa Raka juga mengirimkan foto pria yang ia curigai sebagai dalang dari semua kejadian ini.
Tak lama, Zidan pun membalas pesan teks sang putra. Yang meminta bocah itu untuk kembali ke apartemen mereka. Buka hanya itu Zidan juga meminta pada Raka. Agar mematikan ponselnya untuk sementara waktu. Sebab, bos peti jenazah itu mengetahui nomer ponselnya. Ia takut, pria itu bisa melacak keberadan sang putra. Yang artinya, keselamatan Raka juga dalam bahaya.
Raka tak membantah. Ia pun menurut dengan apa yang ayahnya katakan. Minta Eman untuk membawanya kembali ke apartemen dan bersembunyi untuk sementara waktu di sana. Sampai kondisi kembali kondusif dan membaik.
***
Di sisi lain, apa yang di khawatirkan Nandita menjadi kenyataan. Suhu tubuh Zidan menurun. Yang berarti saat ini kondisi pria ini sedang dalam bahaya. Nandita terus berupaya membuat suhu tubuh pria ini kembali naik. Dengan terus menggosok dan meniup kedua tangan Zidan. Sedangkan Zidan juga terus berusaha agar tidak terlelap. Supaya kesadarannya tetap terjaga.
Bersambung....