
"Kok diam, Mbak? Ada yang perlu Mbak tanya lagi nggak?" tanya Dion.
"Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan Dion. Tapi, Mbak takut kamu tersinggung," jawab Nandita jujur.
"Nggak pa-pa, Mbak. Tanya saja!" balas Dion.
"Baiklah. Aku cuma mau tahu! Kenapa om Galih nggak mau menemui abangmu. Mbak rasa, bang Zidan nggak dendam kok sama om. Hanya saja memang butuh waktu, mungkin!" ucap Nandita.
"Masalah itu aku sendiri juga nggak bisa maksa, Mbak. Mungkin papa punya pemikiran sendiri. Yang penting bagi papa adalah abang selalu aman, sehat dan bahagia. Itu saja," jawab Dion, sesuai dengan apa yang sering dia dengar dari mulut Galih.
"Semua orang tua pasti menginginkan hal itu untuk anak-anaknya Dion. Tapi alangkah baiknya jika mereka berdampingan. Saling menjaga. Saling menyaingi. Jika dekat, mungkin papa akan senang, sehingga penyakitnya akan segera sembuh. Bang Zidan juga lebih bisa memerhatikan papa. Benarkan? " Terdengar suara Nandita menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Seakan merasakan lelah yang luar biasa.
"Mbak benar. Terkadang aku juga berpikir seperti itu. Coba nanti aku bicara lagi sama papa ya, Mbak. Semoga papa mau menemui abang. Begitupun dengan abang. Semoga dia juga ketemu sama papa. Namun, sepertinya belum bisa untuk saat-saat ini, Mbak. Papa jantungnya masih lemah. Takut nanti belum bisa menerima kemarahan abang." Kali ini bukan hanya Nandita yang menarik napas. Dion pun sama. Sebab itu adalah hal yang paling ia takutkan selama ini. Hal yang mungkin bisa membahayakan keselamatan Galih. Zidan marah dan sang ayah tak sanggup menerima kemarahan tersebut. Dion takut. Karena itu adalah akibat paling fatal yang mungkin terjadi.
"Kamu benar, Dion. Kita harus siap mental terlebih dahulu sebelum mempertemukan mereka. Aku pun takut kalau Zidan marah," jawab Nandita. Sedangkan Dion hanya tersenyum. Sebab selama lima tahun terakhir dia mengenal Zidan, tak sekalipun dia melihat pria itu marah.
Bagi Dion, Zidan memang salah satu manusia aneh, tanpa ekpresi. Mau senang mau sedih, dia selalu anteng. "Emang Mbak pernah lihat abang marah, Mbak?" pancing Dion atau lebih tepatnya meledek Nandita.
"Nggak sih! Dia kan manusia tanpa ekpresi," jawab Nandita lugu.
Seketika Dion tertawa. Ternyata bukan hanya dirinya yang menilai Zidan seperti iu. Tapi kekasihnya pun sama, menilai Zidan manusia aneh, manusia tanpa ekpresi. Terkadang mengambil keputusan tanpa memikirkan untung dan rugi untuk dirinya sendiri. Yang penting orang lain bisa bahagia dengan apa yang bisa ia berikan. Apalagi jika menyangkut uang. Zidan selalu berpikir bahwa apa yang ia miliki sebagian adalah hak orang lain. Hanya saja lewat dirinya. Seperti dana yang ia salurkan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya berprestasi namun terhambat oleh biaya, misalnya.
"Kok ketawa, apanya yang lucu?" tanya Nandita heran.
"Nggak, Mbak. Nggak pa-pa. Semua oke." Dion masih terkekeh. Gantian, kini Nandita yang tersenyum.
"Abang aneh ya, Mbak?" pancing Dion lagi.
"Sedikit!" jawab Nandita malu-malu.
"Tapi cakep kan Mbak ya?" tambah Dion lagi. Kali ini Nandita tak terpancing dengan ledekan tersebut. Nandita tahu jika Dion hanya ingin tahu pendapatnya tentang pria itu. Nandita yakin jika jawabannya ini mungkin akan dijadikan Dion sebagai bahan ledekan, nanti, ketika mereka bersama.
"Ya udah, ada yang perlu aku bantu nggak?" tanya Nandita.
"Sementara tahan abang dulu, Mbak. Jangan sampai keluar apartemen. Anak buah Regen kini sedang mencari dia. Sepertinya pria itu sangat bernafsu hendak melenyapkan abang," ucap Dion memberitahu.
"Jahat bener sih pria itu, emang abang salah apaan sih sama dia?" gerutu Nandita kesal.
"Namanya hati Mbak, dalamnya siapa yang tahu," jawab Dion.
Benar juga apa yang diucapkan Dion. Kita tidak akan pernah tahu dalamnya keinginan seseorang. Semua orang punya rahasia sendiri. Di sebuah tempat yang sukar dijangkau, dan tempat itu di sebut hati.
Nandita dan Dion mengakhiri perbincangan mereka dan sepakat saling membantu untuk melindungi Zidan. Dari orang-orang yang ingin menghancurkannya.
Bagi Nandita sebenarnya tugas ini adalah tugas terberat dalam hidup. Bagaimana tidak? Menahan Zidan sama saja menahan singa. Mau bagaimanapun Zidan adalah pria dan dia adalah wanita. Terlebih mereka sama-sama memiliki rasa. Nandita hanya takut kalau mereka tak sanggup menahan rasa itu dan melakukan hal yang mungkin akan sulit mereka lawan.
Untuk menghindari hal tersebut, Nandita pun memilih menghindari Zidan. Sebenernya dia suka berada di samping pria itu, namun takut. Takut tak mampu menahan hasratnya sendiri untuk segera memiliki pria itu.
Nandita masih saja melamun. Padahal pria yang berselancar di dalam ingatannya itu sudah duduk manis di sampingnya. Memerhatikannya tersenyum sendiri sembari menatap wallpaper di ponsel Raka. Di sana ada foto Raka dan juga pria tampan itu. Sedang berpelukan sembari tersenyum bahagia dan Nandita menyukai itu.
"Mereka tampan ya, Bun?" tanya Zidan.
"Iya, mereka memang tampan!" jawab Nandita spontan. Tak tak menyadari bahwa pria yang sedang mereka bicarakan adalah pria yang sedang bertanya padanya.
"Bunda cinta ya sama yang kaos biru?" tanya Zidan lagi. Kaos biru yang Zidan maksud adalah dirinya.
"Ya, aku mencintainya! Upss!" Spontan Nandita langsung menutup mulutnya. Tersadar dari lamunananya. Wanita ini pun langsung menoleh ke samping. Terlihat Zidan sedang tersenyum padanya. Terang saja ia langsung salah tingkah. Malu seribu bahasa. Entahlah, kenapa dia bisa seceroboh itu.
Sangking malunya wanita ayu ini pun langsung beranjak dari tempat duduknya, menutup separo wajahnya dan berlari keluar kamar Raka untuk menghindari Zidan.
Wanita ayu ini berlari kecil menuju kamarnya. Namun di tengah jalan Raka menghadangnya dengan pertanyaan.
"Bunda ngapain lari-lari?" tanya Raka.
Mendengar sang putra bertanya, Nandita pun menghentikan langkahnya dan menjawab, "Nggak Bunda nggak kenapa-napa!" jawab Nandita berusaha menutupi apa yang terjadi pada hatinya. Berusaha bersikap biasa saja. Namun tidak dengan Zidan yang kini sudah berdiri di belakang wanita itu hanya tersenyum sembari meliriknya.
"Itu lagi, Ayah ... napa senyum-senyum Yah?" tanya Raka bingung.
"Tahu tu Ayah! Napa senyum-senyum, Yah?" timpal NNandita. Malah menyalahkan Zidan. Padahal dia berusaha menutupi kegugupannya.
Zidan kembali tersenyum menahan tawa. Ternyata Nandita sangat menggemaskan jika salah tingkah begitu.
"Nggak tadi Ayah habis dapat hadiah, makanya senyum. Kalian kenapa sih? Ayah senyum salah. Diam pun salah. Dah ah, Ayah duduk aja kalau gitu," jawab Zidan. Pelan tanpa ekpresi seperti biasa.
Sedangkan Nandita dan Raka hanya melongo, tak tahu harus menjawab apa.
***
Berbeda dengan Nandita dan Zidan yang sedang menutupi kebahagiaannya. Kini ada Regen yang tak bisa menahan emosinya. Begitu anak buahnya mengetahui keberadaan Zidan, ia pun langsung meminta orang-orangnya untuk membawa Zida ke depannya sekarang juga.
Bersambung...
Makasih sudah mengikuti sampai sini. Semoga selalu suka...