My Sunshine

My Sunshine
MESKI TERLUKA



Nandita adalah Nandita. Wanita dengan segala ketegaran hatinya. Menghadapi badai yang menghadirkan Raka saja dia bisa. Lalu untuk masalah sekecil ini, mana mungkin dia menyerah.


Nandita yakin jika cinta itu memiliki nasibnya sendiri. Sekuat apapun dia menolak, jika Zidan adalah takdirnya maka Zidan pasti akan menjadi miliknya. Namun ia juga tak ingin menutup mata. Baginya harga diri tetaplah harga diri. Nandita tak ingin lengah dalam ruang kekecewaan. Ia harus tetap tegar dan mengangkat kepalanya untuk menghadapi itu. Menghadapi apapun yang mungkin terjadi setelah ini.


Menyesal, tidak. Nandita tidak menyesal dipertemukan lagi dengan Zidan. Sebab pertemuan itu membawa kebahagiaan untuk Raka, sang putra. Pun dengan dirinya. Tak dipungkiri bahwa pertemuan itu juga mengenalkannya pada cinta. Cinta yang selama ini ia hindari. Ia takuti.


Nandita tak kuasa menahan kekecewaan yang ia rasakan. Meskipun ia telah berusaha sekuat tenaga menahan rasa perih ini. Nyatanya ia pun tetap ingin menangis.


Di dalam mobil yang mengantarkannya pulang, Nandita lebih banyak diam. Sedangkan Dion hanya memerhatikan wanita tersebut tanpa berani membuka suaranya sedikitpun.


Sebenarnya ia ingin menceritakan duduk permasalahan yang ia ketahui. Namun Zidan mewanti-wanti dirinya agar jangan membahas masalah ini dulu. Karena Nandita dalam masa labih. Bisa jadi apa yang akan Dion malah ditangkap lain oleh Nandita.


"Saya langsung antar ke rumah atau ke mana, Mbak?" tanya Dion.


"Ke rumah aja, Dion, " jawab Nandita lirih.


Dion yang paham situasi, tak berani bertanya lagi. Ia pun kembali memfokuskan pandangannya. Melakukan kendaraannya menuju kediaman Nandita.


Suasana di mobil hening seketika. Hanya ada Dion yang kadang-kadang melirik Nandita. Sedangkan Nandita terhanyut dalam lamunan yang membuatnya hampir tak bisa bernapas.


"Boleh saya bertanya sesuatu, Mbak?" tanya Dion.


Nandita menatap sekilas pada asisten mantan kekasihnya ini.


"Maaf jika ini bersifat sangat pribadi, namun ini sangat penting bagi penyelidikan yang sedang saya lakukan, Mbak," tambah Dion.


"Jika soal pria jahat itu aku nggak mau jawab. Aku malas," balas Nandita ketus.


Sebenarnya Dion ingin tertawa. Ternyata wanita di sampingnya ini bukan hanya marah tetapi juga cemburu. Cemburu pada Natalia.


"Tidak, ini bukan soal bapak. Tapi soal suplayer yang bekerja sama dengan, Mbak," jawab Dion jujur.


"Suplayer yang bekerja sama denganku? Maksudnya?" Nandita menatap Dion.


"Ya. Apakah salah satu dari mereka ada yang mencurigakan?" tanya Dion lagi.


Nandita menggeleng. Sebab yang ia tahu semuanya baik-baik saja.


"Benarkah? Tidakkah ada salah satu dari mereka yang pernah Mbak tolak, mungkin?" Dion kembali memancing.


"Tolak? Dalam hal?" tanya Nandita penasaran.


"Dalam hal perasaan, mungkin," jawab Dion langsung pada Inti pembahasan mereka.


"Berarti bener dugaan saya, Mbak. Sebab penyerangan yang terjadi beberapa hari yang lalu melibatkan orang itu," jawab Dion yakin.


Nandita menatap Dion aneh. Sebab selama dia berada di apartemen Zidan, pria itu sama sekali tidak mengajaknya membahas masalah ini. Zidan hanya bilang situasi saat ini tidak aman untuknya. Tak pernah memberitahu siapa sebenarnya yang melakukan penyerangan itu dan apa motifnya.


"Tunggu dulu, Dion. Kamu jangan bercanda. Jika kamu berbohong maka jatuhnya fitnah." Nandita kembali menatap tajam ke arah Dion.


"Itu sebabnya bapak nggak mau bahas ini sama, Mbak. Takut fitnah katanya. Tapi Raka tahu kok, bahkan dia sendiri yang merekam bukti itu. Hanya saja kami berdua belum tahu pasti, apakah ini memang rencana pria itu atau ada pihak lain yang terlibat. Jujur saya sedang mencari tahu," jawab Dion jujur sesuai dengan apa yang ia ketahui.


"Raka tahu? Kamu serius?" balas Nandita.


"Tahu, Mbak. Mungkin bapak juga melarang adek buat kasih tahu Mbak. Karena kami belum punya bukti yang kuat soal masalah ini. Saya juga curiga jangan-jangan masalah yang terjadi hari ini juga ada hubungannya dengan masalah yang sedang menimpa kita, " tambah Dion.


Nandita semakin tak mengerti. Mengapa ia tidak diizinkan mengetahui apapun tentang masalah ini. Padahal masalah ini juga melibatkannya.


"Kita putar balik Dion. Aku mau ketemu pria itu lagi!" pinta Nandita tanpa berpikir panjang.


Dion yang tahu apa yang sedang di lakukan big bos tentu saja gusar. Ia pun cepat-cepat mencari alasan agar Nandita tak meminta kembali ke apartemen itu.


"Bapak dan Raka terbang ke Jakarta, Mbak," ucap Dion mencari alasan.


"Apa?" pekik Nandita kaget.


"Iya, bapak sama Raka lagi dalam perjalanan menuju bandara! Gimana tu?" Dion berbohong.


"Dasar-dasar. Berani sekali dia membawa putraku tanpa meminta izin. Memangnya siapa dia?" ucap Nandita geram. Ia pun percaya pada Dion. Dia tahu Dion tak mungkin berani berbohong padanya.


"Telpon dia sekarang, aku mau ngomong!" pinta Nandita ketus.


Dion diam, bingung harus menjawab apa.


Nandita melirik Dion, dia pun paham. Jika pria ini pasti kebingungan menghadapinya. Akhinya, Nandita hanya bisa menghela napas. Bersabar menghadapi sikap Zidan yang menjengkelakan ini.


"Oke, antarkan aku pulang saja. Bilang pada bosmu jangan pernah berpikir untuk menguasai putraku," gerutu Nandita kesal. Sedangkan Dion bernapas lega. Sebab ia mampu mengalihkan perhatian Nandita.


***


Di sisi lain ada Zidan menatap kesal pada Natalia. Wanita yang mengaku telah mengandung buah hatinya. Sedang bermanja-manja di samping Zidan. Sedangkan Zidan terus menepis kasar tangan menjijikan itu. Andai wanita ini tidak sedang hamil, mungkin dia sudah mengusirnya dari ruangan ini.


Bersambung...